
..."Manusia kerap tersesat di dalam pikirannya sendiri, terluka karena pikirannya sendiri, dan nantinya juga hanya bisa sembuh karena pikirannya sendiri."...
..._Unknown...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
30. Kabar Baik
Masih di malam yang sama, namun tempat yang berbeda dari Hellena dan para anggota ini membahas masalah mereka.
Dimana tempat tersebut adalah perusahaan Dalton Colection. Matheo dan Orion pun melakukan kerja ekstra, atau mungkin bisa disebut lembur juga.
Mereka berdua terus mencoba menyelesaikan masalah yang ada karena mereka belum secara pasti akan mendapatkan bantuan Miller untuk menyakinkan peretas itu.
Black Fire, seorang peretas yang sebenarnya sangat dikagumi oleh banyak orang termasuk Matheo dan Orion juga. Mereka berdua salut dengan kemampuan dan kesetiaan orang itu pada The Black Dream.
Sehingga sampai sekarang tidak mau bekerja dengan orang lain, tapi di lain sisi sekarang mereka benar-benar sedang membutuhkan orang itu untuk membantunya.
Dari mencoba mencari sample, desain hingga varian baru dari parfum sebelumnya. Mereka mencoba dengan melakukan itu, tapi mereka juga tidak yakin akan memenuhi target peluncuran bulan depan yang sudah ditentukan dan direncanakan.
Keduanya tampak fokus pada pekerjaan masing-masing, sehingga tidak sadar bahwa waktu telah memasuki tengah malam. Mungkin mereka juga akan tidur di perusahaan saja, toh ada baju ganti juga yang berada di kamar pribadi milik Matheo.
Selain itu ada sebuah kamar pribadi lengkap dengan semua prabotannya, termasuk kamar mandinya juga. Tidak perlu khawatir jika mereka berdua harus menginap disana.
Ketika sedang fokus-fokusnya, secara tiba-tiba dering ponsel milik Matheo mengkagetkan keduanya.
Drtttt drtttt
"Astaga!!" Seru keduanya, Matheo dan Orion begitu mendengar hal itu.
Bagaimana tidak kaget, ketika suasana sedang sunyi-sunyinya tiba-tiba ponsel tersebut bergetar serta bersuara dengan sendirinya.
Keduanya langsung fokus pada ponsel Matheo yang berada dipojok sopa yang lumayan jauh dari posisi mereka berdua. Entah bagaimana ponsel itu bisa sangat jauh dari pemiliknya, yang pasti sejak sore hingga sekarang Matheo belum mencek kembali keberadaan ponselnya.
Sepertinya, jika ponsel itu tidak berdering Matheo sendiri tidak yakin akan tau dimana letak pasti ponselnya itu.
Orion yang berada di tempat terdekat dari ponsel itu lebih memilih mengambilnya, dan melihat siapa nama si penelpon.
Kedua matanya membulat seketika begitu melihat nama yang tertera di ponsel milik Matheo, tanpa banyak bicara dia segera memberikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
"Siapa?" Tanya Matheo begitu melihat reaksi berlebihan yang Orion lakukan, hal itu sedikit membuatnya penasaran dengan siapa yang menelponnya itu.
__ADS_1
"Lihat sendiri saja!" Perintah Orion yang langsung memberikam ponsel milik Matheo dan langsung diterima oleh pemiliknya itu.
Kedua mata Matheo pun tak kalah ikut membulat begitu tau siapa yang menelponnya, dengan segera di menggeser salah satu ikon di ponselnya itu.
"Halo?"
"Halo Theo?" Orang disebrang sana juga membalas sapaan Matheo.
"Ya, ini aku. Ada apa Miller? Apakah ada kabar bagus?" Saking senangnya mendapatkan telpon dari Miller, sehingga tanpa sabaran juga Matheo langsung memberikan pertanyaan yang banyak pada Miller.
"Santai dude, satu-satu jika bertanya." Miller merasa sontak kaget dan terkekeh pelan mendengar pertanyaan antusias dari Matheo.
"Ah-maafkan aku, Miller. Aku terlalu senang tadi, jadi ada apa?" Matheo pun mulai mengontrol suara dan suasana hatinya.
"Dia sudah menerima tawarannya dan mau bekerja sama dengan mu."
"Apa?" Teriakan Matheo membuat kaget Miller yang ada disebrang telpon sana, bahkan Orion pun ikut kaget mendengar teriakan tersebut.
Matheo benar-benar tidak bisa menahan rasa kagetnya itu begitu mendengar apa yang dikatakan oleh Miller barusan.
Jika ingin tahu, bahkan sekarang Miller tengah mengosok-gosok sebelah talinganya yang sempat berdengung akibat teriakan tiba-tiba yang Matheo berikan.
"Astaga, telingaku bisa rusak ini." Batin Miller yang terus mencoba memulihkan kembali pendengarannya.
Setelah sadar dari rasa keterkejutannya, kini Matheo kembali melihat ponselnya yang masih tersambung dengan Miller. "Maaf Miller, mungkin tadi membuat mu terkejut."
Sedangkan Matheo sendiri malah sedang mengaruk lehernya yang tiba-tiba gatal, sambil terkekeh kecil. Teriakan tadi benar-benar diluar kendalinya.
"Jadi, apa perkataan mu serius?"
"Tentu saja," jawab Miller yang masih kesal dengan Matheo. Sehingga masih terdengar nada ketus disebrang telpon sana.
"Kapan kita bisa bertemu dan memulai pekerjaannya?"
"Mungkin besok sore," Miller sendiri tahu bahwa pagi hari Hellena pasti akan pergi ke sekolah, dan baru ketika pulang sekolah mungking langsung bisa membantu permasalahan Matheo.
"Kenapa tidak besok pagi saja?"
"Dia ada urusan lain, jika mau baru bisa saat sore nanti." Tidak mungkin Miller mengatakan pada Matheo secara langsung, jika Hellena harus pergi ke sekolah terlebih dahulu sebelum bekerja sebagai peretas nantinya.
"Baiklah, jika begitu." Pasrah Matheo yang tidak mau banyak bicara atau memaksa karena takut orang itu membatalkan kerja samanya.
"Tapi, ada beberapa hal yang perlu kamu lakukan!"
"Apa itu?"
__ADS_1
"Selalu jaga identitas dari peretas kami, jangan sampai kau membuatnya dalam bahaya dengan ada yang mengetahui bahwa kamu berhasil bekerja dama dengan Black Fire." Kata Miller disebrang sana dengan penuh penekanan. Agar Matheo mengingat setiap kata yang dia katakan.
"Aku berjanji dan akan ku lakukan semua seperti perkataan mu," ujar Matheo yang juga bersungguh-sungguh untuk melakukan setiap perkataan Miller dengan baik dan benar.
"Pastikan juga, jika tidak ada satu orang pun yang melihat Black Firre datang ke perusahaan mu, tentunya kecuali kau dan Orion." Tambah Miller pada Matheo agar lebih berhati-hati nantinya.
"Baik, akan ku atur semuanya."
"Nanti akan ku kabari lagi, kapan dia akan datang ke perusahaan mu."
"Ya, tolong kabari lagi agar aku mempersiapkan semuanya nanti."
"Pasti, ku tutup telpon-"
"Terimakasih Miller karena sudah mau membantu ku kali ini, aku tidak akan lupa dengan hal itu." Kata Matheo dengan tulus, sebelum Miller benar-benar menutup telponnya. Dia begitu bersyukur atas bantuan temannya itu.
"Tidak perlu sungkan Theo, sudah seharusnya kita saling membantu."
"Ya, sekali lagi terimakasih."
"Bukan masalah."
Tut
Sambungan telpon tersebut pun terputus, Matheo langsung menghampiri Orion yang dari tadi penasaran dengan pembicaraan Matheo dan Miller.
"Apa katanya?" Tanya Orion dengan penuh penarasan.
"Dia sudah menyetujuinya," tentunya perkataan Matheo menimbulkan senyum dari kedua pria itu.
"Syukurlah," lega Orion mengetahui hal itu. "Kapan dia akan datang?"
"Besok sore, karena paginya dia ada urusan lain terlebih dahulu."
Orion pun mengangguk pelan, paham dengan perkataan Matheo. Keduanya memilih untuk menyudari pekerjaan mereka terlebih dahulu, mungkin besok akan dilanjutkan kembali.
Besok ada kejutan yang sedang menunggu mereka.
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
__ADS_1
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.