
..."Konsep bahagia itu sederhana. Jangan pernah memiliki ekspektasi berlebihan pada sesuatu diluar kendali kita, senang sewajarnya dan sedih sewajarnya."...
..._Cuma Tulisan...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
37. Kesepian dan Merindukan
Begitu sampai dirumah Hellena dengan segera membersihkan dirinya, lalu berjalan kearah dapur dimana tadi dia menyimpan makanan yang diberikan oleh Matheo sebelum pulang.
Hellena mulai membuka kantung besar berisi makanan tersebut, lalu mengeluarkan satu persatu isinya.
"Ini begitu banyak," monolog Hellena pada dirinya sendiri karena memang tidak ada orang lain lagi yang ada dirumahnya itu.
Terdapat banyak sekali makanan dalam kantung tersebut, kurang lebih ada sekitar 5 jenis makanan dan juga beberapa minumannya juga.
Mungkin Matheo pikir, jika Hellena memiliki banyak keluarga dirumah sehingga bisa untuk dibagikan kepada orang lain juga.
Tapi, nyatanya tidak. Sekarang Hellena malah sedang bingung bagaimana cara dia untuk mengahabiskan semua makanan dan minuman tersebut.
Hellena pun memilih makanan yang sekiranya dapat disimpan pada lemari pendingin, sehingga mungkin bisa dimakan untuk besok. Sedangkan makanan yang tidak mungkin untuk dibesokkan, dia akan memakannya.
Dengan tenang Hellena mulai memakan makanan tersebut dalam keheningan, hanya suara hewan malam yang menemaninya dan dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu sejak 3 tahun silam.
Tepat dimana kepergian Ibunya, yang lebih memilih pulang kepangkuan Tuhan dan meninggalkan dia sendirian didunia ini. Tanpa kerabat, bahkan keluarga satu pun.
Tapi dilain sisi, Hellena merasa tenang karena Ibunya tidak harus menahan rasa sakit lagi akibat penyakit yang dideritanya.
"Aku merindukan mu, Mom." Tanpa sadar air mata Hellena jatuh begitu mengingat Ibunya yang sudah tiada.
Pada saat seperti ini lah, Hellena benar-benar merasa sendiri. Disaat dia berada sedirian dirumah, dengan kondisi sepi dan sunyi. Ditambah dengan begitu banyak kenangan yang dia dapatkan bersama Ibunya dirumah itu.
Hellena merasa hancur dan tenang secara bersamaan saat berada dirumahnya.
Mungkin Hellena akan selalu terlihat baik-baik saja karena itu yang dia coba selalu tampilkan untuk orang banyak. Dia terlihat kuat dan juga damai di kehidupannya.
__ADS_1
Namun nyatanya tidak, hati dan pikirannya tidak pernah sejalan dengan apa yang wajahnya perlihatkan.
Diisaat sendirian, Hellena tidak lebih dari seorang yang begitu kesepian dan tidak mempunyai harapan untuk masa depannya.
Hellena benar-benar tidak menpunyai harapan untuk masa depannya, entah itu dalam berkeluarga ataupun karir hidupnya.
Dia hanya mencoba hidup mengikuti arus dan takdir. Dan hanya menunggu sampai akhirnya kematian menjenputnya, sehingga dia bisa kembali bertemu dengan Ibunya lagi.
Sambil diam memakan makannya, mata Hellena terus saja berkeliaran melihat setiap sudah rumahnya yang tidak pernah berubah sejak lama. Bahkan tata letak barang dirumahnya tidak pernah diubah lagi sejak kepergian Ibunya.
Dia hanya akan dengan rutin menjaga dan membersihkan rumahnya, tanpa harus mengubah suatu hal yang sudah berada ditempatnya.
Bayangan dan kenangan, pahit maupun manis semasa hidup Hellena muncul secara tiba-tiba. Kebanyakan kenangan itu dia dapat bersama Ibunya karena sejak lahir dia tidak pernah sekali pun melihat wajah Ayahnya.
"Bisakah, kita bersama lagi? Aku lebih memilih untuk ikut dengan Mom, dibanding harus hidup sendiran didunia ini."
Jujur saja terkadang Hellena selalu ingin pergi dari dunia ini, untuk menyusul Ibunya. Tapi, setiap Hellena ingin mengakhiri hidupnya dia akan selalu teringat dengan pesan yang diberikan Ibunya.
Flashback On
Selepas pulang sekolah, begitu sampai rumah Hellena langsung melihat Ibunya yang sedang terbatuk-batuk sambil memengang dada sebelah kirinya.
"Mom, kamu tidak apa?" Tanya Hellena begitu panik melihat keadaan Ibunya itu, dia dengan perlahan membantu Ibunya untuk duduk disalah satu sopa yang ada.
Dia dengan segera mengambilkan segelas air untuk Ibunya, dan juga membantu Ibunya untuk minum juga.
"Mom hah ti-tidak apa, E-el." Nyatanya perkataan Ibunya Hellena tidak sejalan dengan kenyataannya karena untuk dapat mengatakan kalimat itu saja Ibu Hellena harus membutuhkan banyak tenaga.
Elmira, Ibunya Hellena tanpak mencoba untuk mengatur dan menormalkan napasnya agar tidak menambah rasa panik pada wajah Purti tunggalnya itu.
Elmira Caroline. Seorang Ibu tunggal yang harus berjuang untuk menghidupi Putri satu-satunya itu. Seorang Ibu yang harus berperan sekaligus menjadi Ayah untuk Hellena.
Elmira yang banting tulang kesana kesini bekerja untuk menghidupi keluarga kecilnya, tanpa disadari malah mengabaikan kesehatannya.
Dia di diagnosa memiliki riwayat penyakit jantung dan juga asma secara bersamaan. Hal itu membuat keadaanya sekarang sering sakit-sakitan dan membuat dia banyak pikiran juga karena dari mana dia akan mendapatkan uang, jika dia dalam keadaan seperti itu.
Meskipun dalam keadaan sakit, Elmira selali saja memaksakan diri untuk bekerja agar bisa makan untuk hari ini. Hal itu juga yang membuat penyakitnya tidak sembuh-sembuh dan cenderung bertambah parah karena kurangnya biaya pengobatannya juga.
"Aku akan ambil kan obat Mom, dimana obatnya?"
__ADS_1
Elmira tidak tau harus menjawab apa karena obat untuk mengobatannya sudah habis dari beberapa hari yang lalu, "tidak ada. Obatnya sudah habis, Mom tidak punya uang lagi untuk membelinya." Meskipun sudah dapat berbicara dengan lancar tetap saja Elmira hanya bisa berkata dengan pelan.
Deg
Seketika perasaan sakit menghantam hati kecil Hellena, dia sedih mengetahui keadaan ekonomi keluarganya sekarang. Ibunya selalu kesusahan bekerja untuk hidup mereka, dan dia tidak pernah memikirkan hal itu karena Ibunya selalu membuat agar Hellena fokus pada pendidikannya saja.
Oleh karena hal itu juga, Hellena selalu bekerja keras dalam belajar agar mendapatkan beasiswa yang membuat biaya sekolahnya gratis.
Hal itu cukup untuk meringankan beban Ibunya, bahkan Hellena sendiri tidak pernah menuntut memauannya.
Entah itu dari uang saku, atau bahkan hal lain yang Hellena ingin dan butuhkan. Hellena hanya akan menerima, jika Ibunya memberikannya.
"Kalau begitu aku akan bekerja saja Mom, agar Mommy bisa membeli obat dan cepat sembuh." Hanya itu yang ada dipikiran Hellena sekarang, dia ingin membantu Ibunya dan melihat Ibunya cepat sembuh kembali.
"Tidak, kamu akan bekerja apa?" Elmira tidak yakin, jika Hellena akan mendapatkan pekerjaan dimana umurnya masih berusia 15 tahun.
Lagian dia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Putrinya itu.
"Aku akan bekerja apa saja Mom, yang penting dapat menghasilkan uang." Dengan polosnya Hellena menjawab seperi itu.
Ya, pada dasarnya Hellena tetap anak polos dan lugu yang sangat baik karena dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Ibunya.
"Tidak El, jangan lakukan itu!" Kini pikiran Elmira berkeliaran kearah negatif, dimana sekarang umur Hellena juga sudah menginjak remaja.
Dia khawatir Hellena malam memilih jalan yang salah untuk mendapatkan uang, misalnya dengan menjual diri pada para hidung belang diluaran saja. Apalagi ini adalah San Francisco, salah satu kota terbesar yang berada di California.
"Tidak usah khawatir Mom, aku tau mana yang baik." Tentunya dengan otak yang cerdas dan pintar membuat Hellena dapat membedakan mana hal yang baik, dan mana hal yang buruk untuk tidak dia lakukan.
"Tetap tidak El, Mom masih bisa bekerja untuk kita hidup."
Elmira tetap tegas pada Hellena untuk tidak bekerja, dia masih mampu untuk mencari dan membiayai hidupnya. Namun nyatanya tidak, dia lupa jika bisa pergi kapan pun dan dimana pun tanpa aba-aba terlebih dahulu.
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
__ADS_1
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.