
..."Kalau rezekimu bukan dimateri, ingat. Badan kamu sehat, orang tua sehat itu rezeki, ketenangan hati itu juga rezeki, bahkan rasa syukur yang kamu punya itu rezeki yang luar biasa."...
..._Cuma Belajar Taat...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
43. Praduga Baru
"Aku dari luar, ada janji dengan rekan bisnis." Benar bukan apa yang dikatakan oleh Matheo ini, dia dan Hellena merupakan rekan bisnis beberapa waktu yang lalu.
Dia juga tidak mungkin menjawab secara langsung bahwa dia dari apartmentnya dan bertemu dengan seorang peretas handal disana untuk bekerja sama.
Itu akan sangat bahaya, dan melanggar janji yang sudah dibuatnya bersama Black Fire itu.
"Dari luar itu dimana? Rekan bisnis yang mana?"
"Lagian tidak biasanya Kakak bekerja di hari weekend seperti ini?"
Secara bersamaan Mauren dan Megan memberikan pertanyaan tersebut pada Matheo, yang membuat dia menjadi pusing dan bingung harus mencari alasan apa.
"Dari restoran xxx, rekan kerja dari New York. Rekan kerja itu hanya bisa datang hari ini karena besok akan segera kembali lagi ke New York. Oleh karena itu tadi pagi aku terburu-buru karena dia juga sedang terburu-buru juga." Jelas Matheo mencari alasan yang tepat agar Mommy dan Adiknya itu percaya dengan apa yang dikatakannya.
"Maaf aku berbohong pada kalian berdua," batin Matheo sambil menatap Mauren dan Megan yang tampak percaya dengan cerita yang dikarangnya itu.
"Ouh seperti itu, kenapa tidak bilang dari tadi? Bikin penasaran saja," Mauren agak sedikit kecewa dengan sugaannya bahwa mungkin saja Putranya itu memiliki kekasih, lalu tadi pagi pergi untuk berkencan. Nyatanya tidak, Matheo tetap saja sibuk dengan bekerjaannya itu.
"Ku kira Kakak punya pacar, sehingga tadi pagi pergi karena ada janji akan pergi berkencan." Berbeda dengan Mauren, Megan secara gamblang mengatakan praduganya sejak pagi tadi.
"Tentu saja tidak, itu semua sangat tidak tepat." Elak Matheo setelah mendengar tuduhan Megan, dia memang tidak memiliki kekasih. Mungkin tidak atau bakan belum punya untuk saat ini.
Tapi secara tiba-tiba Matheo teringat dengan gadis yang dia temui di minimarket waktu itu, namun entah kenapa dia juga secara bersamaan tiba-tiba teringat pada Black Fire.
"Sekenapa aku berpikir seperti itu?" Matheo heran sekaligus bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian berdua jangan tanya-tanya lagi. Dan jangan berpikir yanh tidak-tidak tentang ku!" Setelah mengatakan hal tersebut Matheo segera beranjak pergi dari ruang keluarga itu menuju kamarnya.
Dia tidak mau diberi pertanyaan dan juga tuduhan lagi, yang dimana itu harus membuatnya pusing saat menjawab.
"Aku akan pergi beristirahat," Matheo kembali berucap lalu mulai menaiki tangga menuju kamarnya berada.
Meninggalkan Mauren dan Megan yang kembali dengan praduga barunya. Apakah Putra dan Kakaknya itu tidak normal? Sehingga sampai sekarang belum pernah sekalipun berpacaran.
***
Amsterdam, Belanda
Dengan perbedaan waktu yang cukup jauh dengan di San Francisco, kini telah berganti hari di Amsterdam.
Dimana dalam sebuah Mension yang tak kalah mewah dari keluarga Dalton, keluarga Dominic juga memiliki suatu mension yang hampir sama.
Yang dimana dalam rumah tersebut hanya di tempat oleh seorang baruh baya yang sudah tidak muda lagi sekarang. Karena kebanyakan orang yang tinggal disana adalah para pekerja yang bekerja untuk orang paruh baya tersebut.
Tapi untuk beberapa waktu terakhir ini, dia sempat ditemani oleh cucu satu-satunya itu. Cucu tersayang yang amat di jaga dan dirawat dengan sepenuh hati olehnya.
Baskara Dominic. Seorang mantan Bos Mafia yang terkenal di Amerika sana, atau lebih tepatnya di San Francisco.
Baskara merupakan Bos Mafia dari The Black Dream, tentunya sebelum Dalbert sebagai Putranya menggantikan posisi tersebut. Dia sudah pensiun dari dunia hitam itu sejak lama, mungkin lebih tepatnya ketika dia kehilangan Istri tercintanya.
Setelah Istrinya meninggal, dia memutuskan untuk turun dari jabatannya sebagai Bos Mafia dan digantikan oleh Anaknya. Lalu setelah itu, dia memilih untuk pindah ke Amsterdam dimana tempat ini adalah kampung halaman Istrinya.
Di Amsterdam ini, dia hanya melakukan pekerjaan yang menjadi hobinya. Yaitu mengoleksi barang-barang antik, melukis, bahkan sampai berkebun. Itu adalah serangkain dari sebagian kegiatan yang sering Baskara lakukan di mension mewahnya itu.
Karena merasa kesepian tinggal di mension tersebut, Baskara meminta Cucunya untuk menemani dia tinggal disana. Tentunya dengan sedikit paksaan dan juga ancaman.
Sebenernya di mension tersebut tidak benar-benar sepi, ada banyak pekerja yang ada disana. Kesepian yang Baskara maksud mungkin tidak ada kerabat satu pun yang dia punya di mension tersebut.
"Jeff...Jeff.." suara Baskara memenuhi seisi mension tersebut. Meskipun sudah tua, tapi kualitas suara Baskara masih tetap sana. Besar dan juga lantang.
Mungkin hanya tubuh dan usianya saja yang berubah dari Baskara, terkadang sifat dan tingkah lakunya masih seperti anak muda pada umumnya. Bahkan semangat menjalani hidup Baskara masih tetap full, dia tidak bisa hanya diam saja menjalani harinya.
Ada saja kegiatan yang harus Baskara lakukan setiap harinya, seperti sekarang contohnya. Dia sedang berkebun dihalaman belakang Mension, yang sekarang sudah diubah menjadi lahan perkebunan pribadi miliknya.
__ADS_1
"Dimana anak itu?" Sambil berkacak pinggang, serta sesekali mengelap keringat yang bercucuran di pilipisnya dia berucap.
Sudah dari tadi dia menanggil nama Cucunya itu, tapi sampai sekarang bahkan batang hidungnya saja tidak kelihatan.
"John, carikan Jeff! Suruh dia kemari sekarang," titah Baskara pada salah satu Anak buahnya yang memang bersama dengannya di halaman belakang tersebut.
"Baik Tuan," orang yang dipanggil John itu dengan segera masuk kedalam mension untui melaksanan perintah atasannya itu.
John mulai bertanya dan mencari keberaan Cucu tersayang dari atasannya itu. "Kau melihat Tuan Muda?" Begitu melihat salah satu Maid yang dia jumpai, John langsung bertanya.
"Tadi ada diruang keluarga, tapi sekarang entah kemana."
Memang beberapa menit yang lalu Maid tersebut sempat melihat Tuan mudanya itu diruang keluarga sambil memain ponsel, tapi saat dia kembali kesana Tuan mudanya sudah tidak ada lagi.
"Kemana anak itu," gumam John yang kembali berjalan mencari keberadaan Tuan mudanya itu.
Sedangkan orang yang sedang dicari-cari sekarang sedang berada didalam kamarnya. Orang itu sedang fokus mengerjakan tugas sekolahnya, namun sambil mendengar sebuah musik melalui sambungan Headphone miliknya.
Sehingga tidak mengetahui dan mendengar teriakan Kakeknya itu.
Ceklek
"Jeff?"
Tiba-tiba seorang masuk kedalam kamarnya itu, dia adalah John. Setelah mencari ke beberapa tempat, kini tujuan terakhir John adalah kamarnya.
Dapat Carl lihat, jika orang yang sedang dicarinya itu tampak sedang belajar sambil mendengarkan musik. "Pantas saja dia tidak mendengar teriakan membahana Kakeknya itu," John hanya bisa mengela napas lelah sedang membayangkan bagaimana nantinya perdebatan yang akan terjadi antara Kakek dan Cucu itu.
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.
__ADS_1