
..."Jangan duduk semeja dengan orang-orang yang membicarakan orang lain, karena begitu kamu beranjak, kamu adalah topik selanjutnya."...
..._Unknown...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
52. Suatu Kesalahan Kecil
"Hei! Kenapa kalian berdua malah mengobrol?"
Perkataan Matheo harus terpotong karena salah satu dari orang yang menyerangnya itu, kini terlihat kesal dan marah melihat interaksi Hellena serta Matheo yang kelewat santai.
"Dan apa yang kalian tunggu? Ayo, kembali serang mereka berdua sekarang!" Titah yang merupakan Bos dari kelima orang tersebut.
Sedangkan kini Hellena dan Matheo saling berpandangan, mereka berdua menatap satu sama lain dengan lekat. "Ayo, lawan mereka sekali lagi! Kini bersama ku," kata Hellena yang mencoba menyakinkan Matheo untuk kembali melawan orang-orang tersebut.
Tanpa disengaja ada sebuah kesalahan kecil yang Hellena lakukan, dia memakai identitas asli sekarang. Bukan menutupi dirinya sebagai Black Fire.
Sedangkan untuk Matheo, ada getaran aneh dalam dirinya setelah mendegarkan perkataan Hellena. Rasa yang belum pernah dia rasakan selama ini dan juga rasa aneh yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
Terlihat kini baik Hellena maupun Matheo sudah mengambil ancang-ancang, siap melawan para preman tersebut.
Tangkis, pukul, berlindung, dan juga tendang sana-sini. Perkenahian tersebut terjadi dengan begitu menegangkan bagi orang yang melihatnya, sayang sekarang ini sudah tengah malam sehingga tidak banyak orang lain yang melihat perkelahian tersebut.
Jika pun melihat, dapat dipastikan mereka akan pura-pura tidak tahu karena malah takut akan terkena imbasnya juga.
Hellena tentunya dapat dengan mudah melawan orang tersebut karena sudah terbiasa akan pekerjaannya di dunia Mafia. Ya, selain menjadi pretas terkadang Hellena juga harus terjun langsung dengan melawan para musuh The Black Dream.
Sedangkan untuk Matheo sendiri, entah mengapa tenaga yang dia miliki jadi semakin besar dan tidak merasa sakit akibat pukulan yang sebelumnya. Dia juga dengan gesit saling bekerja sama dengan Hellena untuk melawan para preman itu.
__ADS_1
Pertarungan tersebut berlanjung cukup lama, sampai akhirnya Hellena dan Matheo mampu melumpuhkan ke-4 preman tersebut.
Dan satu orang lagi, yang dari tadi hanya menonton pertarungan tersebut yang merupakan Bos dari ke-4 orang itu kini terlihat takut. Dia takut ketika melihat para anak buahnya yang hampir tidak sadarkan diri akibat pukulan Hellena dan Matheo.
Bahkan belum apa-apa kini terlihat orang tersebut yang sudah melarikan diri, meninggalkan ke-4 Anak buahnya itu. Hal itu tidak terlalu dihiraukan oleh Hellena dan Matheo karena mereka berdua tidak mempunyai cukup tenaga untuk mengejar orang tersebut.
Terdengar deru napas memburu dari kerduanya, tidak lupa dengan bagian dada yang naik-turun mencoba menormalkan napas mereka.
"Hah..dia me-hah," bahkan Matheo saja tidak bisa berbicara dengan benar akibat napasnya yang masih belum menormal kembali.
Sedangkan sambil terus mengatur napasnya, Hellena berjalan kesalah satu orang yang masih terlihat sadarkan diri tentunya disertai dengan rintihan menahan rasa sakit.
"Siapa yang menyuruh mu?" Tanya Hellena sambil mencengkam kerah baju dari orang tersebut, tidak lupa kini mata hijaunya menatap sangat tajam pada orang tersebut.
"S-saya hanya menjalankan tugas dari orang yang sudah membayar kami," lirih pelan orang tersebut yang perkataannya masih dapat didengar jelas oleh Hellena.
"Siapa?"
"Ka-kalau tidak salah, dia memilik perusahaan Avik Grup." Orang itu memang pernah secara tidak sengaja mendengar perkataan Bosnya dengan orang yang menyuruh mereka bekerja melalui sambungan telpon.
Sedangkan Matheo yang juga mendengar perkataan orang tersebut kini paham alasan penyerangan itu terjadi, itu akibat dari musuh perusahaannya.
Dan untuk Hellena sendiri, setelah dirasa orang tersebut berkata jujur dan memberikan dia informasi penting, dia memberikan sedikit hadiah untuk orang tersebut.
Bugk
Dengan sekali pukulan Hellena langsung memukul wajah orang itu yang membuat orang tersebut langsung tidak sadarkan diri dan terlihat juga hidungnya kembali mengeluarkan darah segar.
Setelah dirasa cukup Hellena kembali berdiri dan menghapa pada Matheo. "Anda baik-baik saja?" Tanya Hellena begitu melihat dan menyadari keadaan Matheo yang sedikit kacau.
Memar, sudut bibir yang berdarah, serta penampilan yang acak-acakkan mampu mendeskripsikan keadaan Matheo sekarang. Tanpa sadar juga, kini Hellena kembali berbicara Formal pada Matheo.
Mungkin dia sudah sadar dengan keadaan sekarang, juga dengan kesalah kecil yanh dibuat. Lagian, jika mau disesali pun sudah sangat terlambat.
__ADS_1
"Mngkin sekarang aku tidak baik-baik saja, kamu bisa melihat keadaan ku sekarang." Meskipun Hellena berbicara formal padanya, Matheo tetap berbicara informal untuk menjawab perkataan Hellena.
Mendengar jawaban Matheo membuat Hellena menjalan mendekat kearah Matheo. "Apakah kita harus pergi ke Rumah sakit?"
"Tidak, tidak perlu." Tolak Matheo dengan cepat, dia hanya butuh sedikit pengobatan untuknya. Mungkin hanya sekedar untuk memar dan juga area sobek di tubuh serta wajahnya ini.
"Ouh ya, bagaimana keadaan mu? Apakah ada yang sakit dan terluka?" Matheo baru sadar dengan keadaan Hellena karena bagaimana pun Hellena sudah membatunya dan ikut bertarung juga.
"Tidak, saya baik-baik saja."
Hellena jujur dengan keadaan dan juga yang dia rasakan sekarang. Dia benar-benar tidak memiliki luka sekarang, bahkan lawannya dari pertarungan yang terjadi barusan tidak bisa sedikit pun melukai dirinya.
Tentu karena sudah terbiasa dan terlatih, membuat Hellena sudah lihai dalam bertarung seperti tadi. Bahkan Hellena pikir, perlawanan tadi hanya bagian kecil dari pertarungan yang pernah dia lakukan sebelumnya.
"Syukulah, jika baik-baik saja." Setidaknya Matheo dapat sedikit bersyuku dengan apa yang dikatakan oleh Hellena, itu mengurangis sedikit rasa bersalahnya.
Tampak Hellena yang melihat keadaan sekitar, terdapat mobil milik Matheo yang dia kenali berada tidak jauh dari posisi mereka sekarang. "Ayo, saya akan membantu anda pulang!"
Secara tidak sadar, kini Hellena malah mulai mengandeng tangan Matheo untuk melangkah mendekati mobil itu berada, bahkan sebelum Matheo dapat menjawab ajakkan nya itu.
Tentu yang ada dipikiran Hellena hanya rasa kasihan saja karena jika dilihat-lihat cara jalan Matheo sedikit pincang sekarang. Mungkin ada luka yang berada disalah satu kakinya itu, yang membuat Matheo tidak mungkin untuk mengemudi sendiri.
Entah dari mana rasa itu tiba-tiba muncul karena Hellena sendiri biasanya tidak seperduli itu pada orang lain.
"Kamu bisa menyetir?"
"Tentu."
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.