Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 23


__ADS_3

..."Beberapa orang memang terlahir gampang sedih, perasa, dan sensitif. Jadi, kurang-kurangin bilang 'halah gitu aja baper', kamu gak pernah tau gimana mati-matinya mereka mencoba menguatkan diri."...


..._Faris...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


23. Jauh Berbahaya Dari yang Dikira


"Apa rasanya sakit ketika dicambuk?" Pertanyaan Hellena yang terkesan konyol, karena tentu saja rasa sakit sangat terasa ketika dicambuk. Namun orang itu tidak menjawab pertanyaan Hellena, orang itu terus diam sambil menatap Hellena.


"Pasti sakit kan? Lalu, apakah Ibu mu juga akan merasa sakit ketika dicambuk?"


"Tidak! Apa yang kau katakan? Jangan pernah melakukan apapun pada Ibu ku!" Orang tersebut langsung berteriak merespon dengan cepat perkataan Hellena, wajah marah dan panik kini menjadi satu.


Hal itu membuktikan, jika kelemahan orang tersebut berada pada Ibunya. Itu bisa menjadi kunci untuk mempermudah mereka mendapatkan informasi yang di inginkan.


"Jika hal itu tidak ingin terjadi, maka segera katakan semua yang kau tau sialan!!" Teriak Miller yang merasa gemas sendiri karena dari tadi menonton hal yang kurang seru menurutnya.


"A-aku akan mengatakannya, tapi ku mohon untuk jangan melakukan hal apapun pada Ibu ku." Kini orang itu mengiba pada semuanya, tapi dia antara mereka tidak ada yang merasa iba pada orang tersebut.


"Itu tergantung pada mu, jika kau jujur berarti Ibu mu akan aman dari kita." Keano juga ikut menimpali perkataan tersebut.


"Aku hanya disuruh seseorang agar menjadi mata-mata di markas ini karena orang tersebut tau, bahwa aku pernah ikut sebuah geng Mafia sebelumnya.


Dia mengancamku dengan keselamatan Ibu ku yang sedang sakit, selain itu aku juga terdesak karena sangat membutuhkan uang untuk mengobatan Ibu ku sehingga mau bekerja sama dengan orang itu."


Orang itu sudah berkata dengan sejujur-jujurnya, sekarang dia tidak menutupi apapun demi keselamatan Ibunya.


"Lalu, siapa orang yang bekerja sama dengan mu itu?" Dalbert penasaran dari kubu mana musuhnya kali ini, geng Mafianya terlalu mempunyai banyak musuh sehingga tidak tahu muruh yang mana yang bertindak.


"Aku tidak tau, dia selalu memakai topeng ketika bertemu dengan ku."


Ya, orang yang bekerja sama dengannya selalu memakai topeng untuk menutupi wajahnya. "Tapi, yang ku ingat ada sebuah tato kecil dipergelangan tangan kiri nya." Orang tersebut kembali berucap.


"Tato apa?"


"Sebuah kata HEMEC."

__ADS_1


Seketika semua orang disana terdiam, tidak bisa mengelurkan kata-kata lagi. Mereka sedang berpikir keras tentang orang dengan ciri-ciri memiliki tato seperti itu.


Tapi seingat mereka tidak ada yang memiliki tato seperti itu, atau mungkin mereka semua kurang teliti sehingga bisa melewatkan hal tersebut.


Kini sebuah teka-teki yang menjadi masalah mereka, merema semua harus kembali berkerja dengan keras agar segera mengetahui siapa musuh yang sebenarnya.


"Apa lagi yang kau tau?"


"Tidak ada, aku sudah mengatakan semua dengan sejujur-jujurnya. Jadi, bisa kah tolong lepaskan aku sekarang?"


Mendengar perkataan tersebut malah membuat Dalbert, Miller dan Keano tertawa sinis. "Kau ingin pergi setelah membuat kekacauan? Itu hanya akan terjadi dalam mimpi mu saja," tekan Dalbert diakhir kalimatnya.


"Tapi jika aku tidak segera pergi, mungkin Ibu ku akan berada dalam bahaya." Kata orang itu dengan cemas, dia teringat sudah membuat janji temu dengan orang bertopeng itu untuk membahas informasi yang hendak diberikan tentang The Black Dream.


Dan jika dia tidak pergi untuk menepati janji itu, kemungkinan buruk orang bertopeng itu akan mengincar Ibunya.


"Memangnya kenapa? Kita tidak akan berbuat jahat pada Ibu ku karena kau sudah berani jujur," Keano sendiri tidak paham dengan perkataan orang tersebut.


"Bukan kalian, tapi orang bertopeng itu." Orang itu pun mulai menjelaskan maksud dari perkataannya, sehingga sekarang mereka mengerti akan hal itu.


Namun tiba-tiba suara dering telpon memenuhi pendengaran orang-orang disana, dan sontak semuanya melihat kearah Hellena yang sedang mencoba untuk mengakat panggilan tersebut.


"Halo?"


"Kau mempunyai buktinya?"


Kembali terdengar orang di sebrang telpon sana berbicara, namun tentunya hanya bisa didengar oleh Hellena saja.


"Baiklah, segera kembali saja. Jangan sampai polisi menemukan keberadaan mu!"


Tut


Panggilan tersebut selesai, Hellena kembali menyimpan ponselna ke dalan saku jelananya.


Raut wajah Hellena sekilas terlihat sedih, meskipun tidak tertera begitu jelas. Yang pasti, mata hijau itu kini tidak menatap sedatar awal.


"Siapa yang menelpon?"


"Xander," jawab Hellena dengan singkat.


"Apa yang dia katakan?"

__ADS_1


"Ibunya sudah mati," celetuk Hellena yang membuat semuanya terkejut. Tentunya perkataan tersebut tertuju pada orang yang menjadi tersangka penyusup itu.


"Apa maksud perkataan mu? Bagaimana bisa Ibu ku meninggal? Jaga ucapan mu, jangan berkata yang tidak-tidak!!" Orang itu kembali histeris, malah sekarang bertambah parah dari sebelumnya.


"Ibu ku tidak mungkin meninggal," lirih orang itu yang kini kedua matanya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Bagaimana bisa?" Tanya Alterio penasaran.


"Aku menyuruh Xander untuk mengawasi Ibunya, tapi begitu sampai dia malah melihat Ibunya sudah tidak bernyawa lagi." Jelas Hellena, ya begitu urusannya dengan Xander selesai dia juga menyuruh Xander untuk melakukan hal tersebut.


"Dan apa kalian tau siapa pembunuhnya?" Tanya Hellena melanjutkan perkataannya, "seseorang yang memakai topeng, sama persis seperti yang dia jelaskan tadi."


"Apa?"


Semuanya berteriak kaget, pergerakan musuh nya itu ternyata lebih cepat dan diluar dugaan mereka semua.


"Itu pasti ada kaitannya dengan janji yang kau buat," tunjuk Dalbert pada orang itu yang tentunya disetujui banyak orang.


"Dia jauh lebih berbahaya dari yang kita kira," ujar Alterio memberikan opininya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Mengantarnya pulang-" kata Hellena yang menggantung perkataannya.


Lalu malah dipotong dan disetujui langsung oleh Keano, "aku setuju."


Mereka sebenarnya ikut berduka cita atas apa yang terjadi, sehingga mengantarkan orang itu pulang adalah suatu hal baik untuk sekarang.


Tentunya agar bisa melakukan pemakanan Ibu nya dengan baik dan layak. Tapi kelanjutan perkataan Hellena malah membuat semua orang kembali terkejut.


"-pulang ke neraka, agar bisa menyusul Ibunya."


Deg


Hellena ternyata lebih kejam dari pada yang dibayangkan.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.

__ADS_1


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.


__ADS_2