Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 53


__ADS_3

..."Kesetiaan berarti ketulusan untuk menyimpan satu hati di dalam hati, dan berjanji untuk tidak menghianati."...


..._B.J Habibie...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


53. Bantuan yang Mungkin di Sesali


Tampak Hellena yang melihat keadaan sekitar, terdapat mobil milik Matheo yang dia kenali berada tidak jauh dari posisi mereka sekarang. "Ayo, saya akan membantu anda pulang!"


Secara tidak sadar, kini Hellena malah mulai mengandeng tangan Matheo untuk melangkah mendekati mobil itu berada, bahkan sebelum Matheo dapat menjawab ajakkan nya itu.


Tentu yang ada dipikiran Hellena hanya rasa kasihan saja karena jika dilihat-lihat cara jalan Matheo sedikit pincang sekarang. Mungkin ada luka yang berada disalah satu kakinya itu, yang membuat Matheo tidak mungkin untuk mengemudi sendiri.


Entah dari mana rasa itu tiba-tiba muncul karena Hellena sendiri biasanya tidak seperduli itu pada orang lain.


"Kamu bisa menyetir?"


"Tentu."


Keduanya berjalan mendekati mobil milik Matheo berada, tentunya dengan Hellena yang membantu memapah Matheo disampingnya.


Setelah membantu Matheo duduk dengan benar dikursi samping kemudi, Hellena dengan sedikit berlari segera memutari mobil dan duduk di belakang kemudi.


Mobil itu pun meninggalkan tempat tersebut beserta ke-4 orang yang tidak sadarkan diri itu, serta keheningan malam yang mulai melanda tempat tersebut.


Hanya sebuah keheningan yang tercipta dalam mobil tersebut, keduanya diam dengan pemikiran mereka masing-masing. "Ouh ya, kemana saya harus mengantar anda pulang?" Hellena baru teringat tempat mana yang hendak mereka tuju, begitu dihadapkan di sebuah persimpangan jalan.


"Jalan xxx, no.2357." Jawab Matheo memberi tahu alamat Mension Dalton berada, tempat tinggalnya selama ini.


Dengan segera Hellena mengikuti perkataan Matheo, membelokkan setir dan juga menginjak gas dengan sedikit cepat. Jalan yang lumayan sepi membuat dia menjadi leluasa untuk menambah kecepatan pada mobil tersebut agar segera sampai ditujuan.


Sedangkan untuk Matheo sendiri, dia diam melihatkan bagaimana handalnya Hellena dalam mengendarai mobil miliknya itu. Tentunya sambil merasakan rasa sakit yang mulai terasa pada tubuhnya itu.

__ADS_1


"Terimakasih telah membantu ku," kata Matheo memecahkan keheningan tersebut.


"Sama-sama, lagian sesama manusia kita harus saling membantu kan?"


"Benar, tapi aku benar-benar berterimakasih karena kamu sudah membantu ku. Mungkin entah apa yang akan terjadi pada ku, jika kamu tidak ada."


"Ya, mungkin sudah Tuhan takdirkan saya untuk membantu anda."


Meskipun Matheo berbicara santai, hal itu tidak mengubah Hellena untuk berbicara sama. Dia tetap saja berbicara formal pada Matheo, saya-anda.


"Bisakah kita tidak terlalu formal? Kita bukan rekan bisnis atau pun orang asing." Matheo merasa sedikit tidak suka dengan gaya bahasa yang digunakan Hellena, itu terlihat Hellena dengan sengaja menberikan jarak untuknya.


"Tapi, kita memang orang asing kan? Kita hanya pernah bertemu beberapa kali saja," perkataan Hellena memang benar adanya, tapi entah kenapa Matheo tidak suka mendengar itu.


"Memang benar, oleh karena itu bagaimana kalau kita saling berkenalan!" Ajak Matheo sambil melihat penuh minat pada Hellena yang ada disampingnya, sedangkan Hellena tetap menatap kedepan fokus pada jalan yang ada didepannya.


Tidak ada tanggapan apapun dari Hellena, karena Hellena sendiri tidak ada niatan untuk kenal bahkan akrab dengan Matheo sedikit pun. Melihat tidak ada respon apapun dari Hellena, membuat Matheo berinisiatif terlebih dahulu.


"Nama ku Matheo Mark Dalton, kamu boleh memanggilku sesukamu. Dan nama mu?"


"Hellena," singkat padat dan jelas. Hanya itu yang dikatakan oleh oleh Hellena untuk menjawab pertanyaan Matheo.


Hellena tanpa sedikit terkejut mendengar panggilan tersebut dari Matheo, tapi itu juga bukan suatu masalah untuknya. Toh, hanya nama panggilan saja. Selagi layak, Hellena tidak akan mempermasalahkan panggilan orang lain untuknya.


"Ya, tentu saja."


"Ngomong-ngomong kamu sedang apa disana, sehingga bisa melihat dan menolong ku?"


Deg


Seketika Hellena harus segera mencari alasan agar dapat menjawab pertanyaan dari Matheo tersebut, yang tentunya harus menbuat dia berbohong untuk itu.


"S-ah maksud ku, aku baru saja pulang dari rumah saudara yang tidak jauh dari sana." Bohong Hellena yang mencoba untuk menyakinkan Matheo.


"Kamu pulang sendiri saja? Tengah malam begini?" Dan Matheo pun percaya bahwa Matheo benar-benar mempunyai saudara.


"Tentu saja, lagian aku tidak masalah pulang sendiri."

__ADS_1


"Benar juga, ilmu bela diri mu sangat bagus dan biasa untuk menjaga diri mu dari bahaya."


Matheo sangat mengakui pemampuan Hellena yang amat mahir dalam bela diri, sehingga mungkin tidak ada yang perlu dikhawatirkan saat akan pulang sendirian. "Tapi, tidak baik juga seorang perempuan pulang tengah malam seperti ini. Mungkin saja orang lain akan berpikir buruk tentang mu, dengan melihat kamu keluyuran tengah malam."


"Cih, apa peduli ku? Kita tidak bisa selalu hidup dengan pandangan orang lain terhadap kita, lagian kita tidak akan bisa mengubah pandangan orang lain terhadap kita. Entah itu baik atau pun buruk nya."


Dari perkataan Hellen sudah jelas, bahwa dia tidak pernah peduli dengan pandangan dan penilaian orang lain terhadapnya. Dia selalu ingin melakukan apa yang dia mau, selagi itu tidak merugikan orang lain.


Perkataan Hellena tidak bisa dijawab oleh Matheo, lagian dia merasa kurang pantas juga jika terlalu memaksakan Hellena akan saran dan opininya.


Tanpa disadari mobil milik Matheo yang dikemudi oleh Hellena sudah mulai memasuki alamat yang Matheo katakan. Sudah dapat dilihat juga, pintu gerbang yang menjulang tinggi milik keluarga Dalton.


Begitu mobil tersebut mendekati gerbang, secara otomatis para penjaga disana dengan segera membuka kan pintu gerbang tersebut. Mungkin mereka sudah kenal akan salah satu mobil dari Tuannya itu.


Dari gerbang utama menuju pintu rumah utama lumayan berjarak dan juga memakan waktu. Saking begitu luas dan megahnya kediaman keluarga Dalton.


"Rumah yang sangat bangus, entah mengapa aku rasa suasana disini pun ikut berbeda dari yang lain." Batin Hellena begitu pertama kali memasuki kediaman keluarga Dalton, matanya pun tidak henti-hentinya melihat keadaan sekitar.


Begitu sampai dengan segera Hellena turun, lalu membantu memapah Matheo kembali menuju kedalam rumah. Namun begitu tepat didepan pintu, Hellena secara spontan menghentikan langkahnya.


"Sepertinya, aku hanya bisa mengantar sampai disini saja."


Tampak Hellena pun melepaskan tangannya yang ****** membantu Matheo, lalu memundurkan langkah kakinya.


Raut wajah Matheo yang menampilan kan kebingungan membuat Hellena kembali berkata, "aku harus segera pulang karena besok harus kembali bersekolah."


"Tapi, kamu akan pulang dengan siapa dan menaiki apa? Dan apakah kamu tidak ikhlas membantu ku, dengan meninggalkan ku di depan pintu sendirian seperti ini?" Sewot Matheo yang tidak terima dan tidak akan membiarkan Hellena untuk segera pulang sekarang.


Mungkin Hellena bisa menginap untuk malam ini saja, di kedimaan keluarga Dalton.


"Hah?"


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.

__ADS_1


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.


__ADS_2