
waktu sudah menunjukkan tengah malam dan Faizah sudah menunggu sadari tadi,tapi kenapa sibos yang ingin balapan dengannya tak sampai-sampai.motor sudah ia panaskan,helm sudah ia lap,dan teman-temannya sudah disiapkan semuanya.tiba-tiba saja motor yang sama dengannya muncul digaris start,dan orang-orang mulai berkumpul.tapi tunggu kenapa Tian yang menaiki motornya?,dan kenapa Tian yang memakai peralatan disaat balapan?,atau jangan-jangan dia bos diclub ini,dan berarti dia anak tunggal dari keluarga Alfred,itulah yang didalam benak Faizah.
Sedangkan disisi lain,Tian sedang memanasi motornya sambil melihat Faizah yang tengah kebingungan,memang hari ini ia niat sekali untuk mengerjai Faizah.setelah berurusan dengan motornya,Tian menghampiri Faizah yang sedang melamun,dan berniat mengagetkan Faizah.kaki panjangnya menampak aspal hitam,langkah yang panjang tapi pasti sudah mulai mendekat ditempat Faizah berdiri,dan
"Duarr"
Tubuh Faizah menegang sekaligus, jantung yang menempel pada tubuhnya kejang-kejang tak karuan.
"An*ir kaget gua"kaget Faizah.
"Cewek kok mulutnya pedes,manis dikit bisa gak sih"sindir Tian yang melirik ke Faizah,berharap kalau perempuan disampingnya ini memanggilkan namanya,dengan kata-kata yang manis,lebih manis daripada senyuman yang selalu dia berikan.
"Iya gula"senyum Faizah yang hanya terpaksa dipasang dimulutnya,sedangkan di hati Faizah memberontak tak terima jika Faizah yang dikenal bar-bar,mengucapkan kata-kata yang manis pada orang yang tak tepat dan Alfred hanya tersenyum.
"Jadi gak balapan?, jangan-jangan lo takut lagi balapan sama gue"tuduh Alfred.
"Jadi!"jawab tegas super judes Faizah.Faizah malas jika meladeni Alfred yang cerewetnya kayak ibu-ibu sedang nawar beras dipasar,Faizah orangnya gak suka basa-basi cukup memberikan intinya saja.Faizah saat ini sedang berjalan menuju garis start,dimana motor merahnya berparkir rapih tanpa melewati garis start,ia memakai peralatan yang harus dikenakan disaat balapan,selesai dengan itu menaiki motornya dan menghidupkan motornya dengan kunci khusus,ia menatap kesamping sebagai pertanda ia siap untuk menerima kenyataan yang ada.
Sedangkan disisi lain,Alfred hanya tersenyum bangga bukan karena Faizah yang berani menantang-nya,melainkan senang sudah bisa balapan lagi,sudah bertahun-tahun lamanya ia tak memegang kunci motor,disekolah menengah pertama ia diperintahkan oleh ayahnya untuk pergi ke Australia,sebagai penggantinya ia diberi hadiah sebuah mobil Hennessey Venom GT itu atas kemauan Alfred sendiri.
__ADS_1
ia menghampiri Faizah dan mempersiapkan diri untuk balapan dengan Faizah,ia menatap kesamping dimana Faizah berdiri dan tersenyum bangga.aba-aba sudah dikibarkan,mereka dengan cepat tancap gas dengan menggila,seperti setan yang merasuki tubuh mereka,tak tanggung-tanggung mereka menggas motor mereka dengan kecepatan diatas rata-rata sekitar 80km/jam.
Di 10 KM Faizah yang memimpin,dan 30 KM keatas Alfred yang memimpin.
Didalam batin Faizah menggerutu kesal karena rem motornya blong,memang benar jika ia tak mengecek dibagian ban ia terlalu fokus terhadap mesin yang seharusnya tak terlalu dicek.
"Gawat kenapa remnya blong!,mana didepan ada tikunga lagin"bingung Faizahsanhkinh kebingungan ia lupa akan keberadaan jalan didepannya.
"Akhhh"teriak Faizah,badannya terpelanting sampai ratusan meter kerena badan depan motornya menabrak pagar pembatas arena yang terbuat dari baja,darah yang bercucuran berhias dibeberapa bagian tubuhnya,lebih soalnya helm yang ia pakai lepas begitu saja karena ia lupa untuk mengangcingi helm yang seharusnya ia kancingi,darah di kepalanya bercucuran lebih banyak daripada bagian tubuh yang lain,motornya meledak begitu kuat hingga mengeluarkan suara yang bergelegar seperti ledakan nuklir.
"Sakit...sakit...tolongin gue siapapun itu...tolongin gue...gue lagi sekarat mungkin butuh beberapa menit lagi untuk hidup"lirih Faizah,suaranya kali ini habis kerena ia sedang menahan sakit.Tian yang mendengar lirihan Faizah,merasakan iba.ia pun segera membopong tubuh Faizah dan segera membawa pergi sejauh mungkin,agar tak ada yang mengetahui kalau Faizah sedang tertimpa musibah.ledakan motor itu makin lama makin besar,Tian berusaha untuk berlari agar tak membahayakan dirinya sendiri.ia segera menelpon pribadinya,yang kebetulan sedang menunggu disekitar ini.
"Bawa mobil saya kesini,saya di arena 18 yang tak cukup jauh dari posisi kamu,saya beri kamu waktu 1 menit untuk mengantar mobil"
"Siap tuan!"
tak lama kemudian mobil yang ia tunggu-tunggu sedari tadi pun datang,dengan tergesa-gesa ia membaringkan Faizah dijok yang dilapisi kulit itu.
__ADS_1
"Lo pulang jangan beri tahu siapa-siapa tentang ini,oh iya motor gue juga kamu bawa pulang dan bilang ke nyokap kalau gue lagi kerumah temen"perintah Tian.
"Siap tuan!"
Tian membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa untuk dirinya sendiri,ia mengatur gigi mobil pun juga tergesa-gesa.untung saja jalan raya tak terlalu padat,ia memacu kecepatan diatas rata-rata,sayangnya sampai 15 menit ia tak menemukan rumah sakit terdekat,baru 30 menit ia menemukan rumah sakit yang tak terlalu besar dan kecil.Tian cepat-cepat memanggil perawat untuk mengambilkan brankar(kasur rumah sakit),untuk saat ini Faizah nafasnya masih putus-putus,ia pingsan dengan tiba-tiba.Tian yang tidak sabaran menunggu brankar datang,Tian memutuskan membawa Faizah ke IGD langsung.
Ditengah ia membawa Faizah ke IGD,perawat pun datang membawa brankar,ia ikut mengantar Faizah ke IGD,pintu ruang IGD pun tertutup menyisakan Tian seorang,ruang koridor rumah sakit kosong lempong tak ada satu orang pun yang lewat,bulu kuduk meremang menandakan ia saat ini merinding.tapi semangat untuk menunggu Faizah tak tergoyahkan,ia saat ini bingung mau ngapain,Tian pun memutuskan untuk menelpon ayah Faizah.
Ayahnya Faizah adalah sahabat dari ayahnya Tian,jadi tak heran jika ia memiliki nomer ayahnya Faizahsebut saja Reyhan.Reyhan dulu pernah berpesan sebelum Faizah keluar dari pesantren,Tian disuruh untuk menjaga Faizah dimana pun ia berada.
"Halo om Faizah kecelakaan,sekarang dia sudah dirawat rumah sakit,nanti aku sharelock"to the point Tian.
"Siap! nanti om kesana,tolong jaga Faizah ya"Tian memutuskan panggilan secara sepihak,kali ini Tian khawatir bukan berarti ia perhatian kepada Faizah,tetapi ia takut jika ayahnya Faizah mengamuk atas kesalahan yang ia perbuat,bagaimana pun juga ini kesalahannya,dia ia mengiyakan ajakan Faizah untuk balapan liar.ia kali ini frustasi dikoridor, menangis seperti orang lemah,dan berdoa dengan Tuhan yang maha kuasa.
Disisi lain ayahnya Faizah yang seharusnya ia sedang bekerja diapartemen ,sekarang ia berlari ke rooftoop dimana helekopternya, berparkir rapi.disata ia ingin membuka pintu suara dering hpnya berbunyi.
"Iya halo"
"Jam tiga subuh,anda akan bertemu dengan klien diluar negri.saya akan menghubungi anda jika anda sudah siap"terang seketaris pribadi ayahnya Faizah.
__ADS_1
"batalkan perjanjiannya,hari ini saya izin.dan tolak semua ajakan perjanjian maupun meminta tanda tangan kontrak"
"baik pak"