Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 36


__ADS_3

..."Kupu-kupu tidak bisa melihat sayapnya, tapi seluruh dunia bisa. Kamu indah, dan saat kamu tidak bisa melihatnya, tapo dunia bisa."...


..._Joshua...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


36. Memesan Makanan


Sebelum benar-benar mengantarkan Hellena pulang, terlebih dahulu Matheo membelokkan mobilnya pada salah satu tempat makan. Yang dimana makanan tersebut bisa dibungkus, dan dibawa pulang.


Take away. Istilah itu yang sangat sering didengar dan bisa dilakukan disetiap tempat makanan.


Itu juga yang sedang dilakukan oleh Matheo, sebelum mereka sampai di Basement terlebih dahulu dia memesan makanan untuk dapat diberikan pada Hellena nantinya.


"Tolong tunggu sebentar!" Perkataan Matheo hanya mendapatkan anggukan singkat dari Hellena.


Hellena hanya diam sambil melihat Matheo yang sedikit berlari memasuki tempat makan itu untuk mengambil pesanannya, lalu tidak membutuhkan waktu lama Matheo sudah kembali dengan kantung besar ditangannya.


Dapat Hellena tebak dan pastikan, jika kantung itu berisi makanan yang Matheo beli.


"Maaf membuat anda menunggu," ucap Matheo begitu masuk kedalam mobil lagi, lalu kembali menjalankan mobilnya.


"Tidak apa," jawab singkat Hellena. Dia benar-benar tidak tahu harus merespon seperti apa lagi perkataan Matheo.


Membutuhkan beberapa menit untuk sampai dimana alamat yang sempat Hellena katakan, dan setelah sampai hal itu malah membuat Matheo shok.


Alamat yang Hellena sebutkan adalah sebuah jalan yang sepi, sama dengan jalan dimana sore tadi Hellena menunggu Miller datang. Sepi dan sangat gelap sekali sekarang karena kondisi malam.


Selain itu tidak banyak rumah bahkan bangunan disana, mungkin keberadaannya dapat dihitung dengan jari.


"Ini benar alamatnya?" Tanya Matheo memastikan sambil terus melihat kondisi sekitar.


"Tentu saja, terimakasih sudah mau mengantar saya pulang dan maaf merepotkan anda." Kata Hellena yang sekarang bersiapa untuk keluar dari mobil Matheo, tapi sebuag tangan mencegahnya.

__ADS_1


"Tunggu," tanpa sadar Matheo menahan salah satu tangan Hellena begitu melihat Hellena hendak keluar.


Begitu sadar dengan arah pandang Hellena yang mengarah pada tangannya, dengan segera Matheo melepaskan tangannya itu. "Ah-maaf. Ada yang saya hendak berikan pada anda," Matheo segera mengambil kantung berisi makanan yang baru dibelinya tadi.


"Ini untuk anda, tolong terima lah." Kata Matheo sambil menyerahkan kantung tersebut tepat didepan kedua tangan Hellena.


Tentunya Hellena langsung menggeleng, tanda dia menolak yang Matheo berikan. "Saya tidak bisa menerimanya," tolak Hellena yang tetap sopan.


"Tolong terima lah, anggap saja itu sebagai ganti karena anda tidak bisa memakan makanan yang sudah saya siapkan sebelumnya." Desak Matheo agar Hellena mau menerima pemberiannya, itu akan membuat rasa bersalahnya sedikit berkurang.


Melihat desakan yang terus Matheo membuat Hellena tidak bisa berbuat banyak, lagian dia ingin segera pulang tanpa harus memperpanjang perdebatan kali ini.


"Baiklah, saya terima ini." Hellena pun mengambil kantung tersebut dari tangan Matheo yang dimana senantiasa dari tadi terus saja tergantung di udara karena belum diterima olehnya.


"Ouh ya, dimana besok kita akan melanjutkan pekerjaan?"


Seketika Hellena pun tersadar belum membahas hal tersebut dengan Matheo, "boleh dimana saja, selagi tidak banyak orang. Sehingga identitas ku masih dapat dijaga dengan aman," pesan Hellena diakhir kalimatnya.


Hellena sendiri tidak begitu memusingkan dimana tempat yang nantinya menjadi tempat melanjutkan pekerjaannya, yang dia khawatirkan adalah ada yang tahu identitas aslinya.


Hellena tidak langsung menyetujui perkataan Matheo, dia tampak menimbang terlebih dahulu tawaran tersebut. Sedangkan Matheo malah berpikir lagi, dia mengira jika mungkin Hellena khawatir dia melakukan hal aneh padanya.


Mengingat dimana posisi Hellena sebagai perempuan dan dia sendiri adalah laki-laki, ditambah dengan hanya berduan saja di apartement nantinya.


"Saya tidak ada maksud lain, sungguh. Kita hanya akan melakukan pekerjaan saja disana, lagian hanya tempat itu yang terpikirkan aman untuk anda." Perkataan Matheo menarik Hellena dari dalam pikirannya sendiri.


Apa yang dikatakan oleh Matheo benar-benar diluar prediksi Hellena. Perlu diketahui, jika Hellena tidak sampai berpikir kesana. Dia bisa menjaga dirinya sendiri, tentunya dikondisi apapun itu.


Jika pun nanti Matheo berbuat macam-macam padanya, tentunya dia akan melawan sekuat dan sebisa mungkin. Apalagi ditambah dengan dia yang selalu mengikut sertakan pistol kesayangannya kemana pun dia pergi


Bukan lah itu sudah menjadi suatu persiapan yang sudah direncanakan?


"Saya tidak berpikir kesana, jadi baiklah saya ikut apa kata anda." Setuju Hellena yang membuat kelegaan pada Matheo.


"Apakah besok anda akan datang bersama Miller lagi?"


"Tidak tahu," tentunya Hellena tidak bisa memprediksi hal itu karena dia tidak tahu jadwal sehari-hari dari Miller. "Mungkin besok saya akan datang sendiri, jadi berikan saja alamat apertementnya!"

__ADS_1


"Bagaimana, jika besok saya jemput kembali di-disini?" Tanya Matheo yang tanpak tidak yakin dengan akhir kalimatnya, dia pun tidak yakin jika ini bener-benar alamat dari seorang peretas ini.


"Tentu, datang besok tepat pada pukul 9. Saya akan ada disini menunggu anda," tanpa banyak berpikir Hellena langsung menyetujui tawaran Matheo.


"Baiklah, saya akan pastikan datang tepat waktu."


"Kalau begitu sampai jumpa dan terimakasih atas pemberiannya."


"Tidak masalah, berhati-hati lah saat disana pulang!" Pesan Matheo sebelum Hellena bener-benar turun dan pergi dari mobilnya.


"Tentu," singkat Hellena yang langsung keluar dari mobil Matheo. Dia tampak terdiam seolah memberi tahu Matheo untuk pergi terlebih dahulu, dan tentunya Matheo paham dengan itu.


Tid


Matheo menyalakan klakson mobilnya seolah memberi tanda pada Hellena, jika dia hendak pergi. Dan Hellena pun hanya mengangguk pelan, lalu senantiasa terus memandang mobil Matheo yang mulai menjauh dan hilang dari pandangannya.


"XY 26310 MMD," gumam Hellena begitu melihat plat mobil milik Matheo dan mulai menghapalnya.


Begitu mobil Matheo sudah tidak terlihat lagi, baru Hellena mulai berjalan masuk dan melangkah menuju jalan sepi nan gelap tersebut.


Tidak ada yang perlu ditakutkan, serta dikhawatirkan karena musuhnya adalah diri dia sendiri. Hellena sudah memastikan dan tahu, jika tidak akan ada orang yang melintasi jalan tersebut ketika malam.


Jangan kan malam, saat pagi atau bahkan siang pun jarang sekali orang-orang yang akan melewati jalan tersebut.


Hal itu juga yang membuat Hellena memilih jalan tersebut untuk menuju rumahnya, dengan cara itu tidak akan pernah ada yang tahu tentang identitas Hellena sebagai Black Fire.


Hellena terus berjalan berlahan dengan tenang, dan mulai membuka maskernya ketika berada dipenghujung jalan. Kini identitasnya kembali sebagai Hellena yang diketahui banyak orang.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.

__ADS_1


__ADS_2