
..."Berusahalah semampumu, sekuatmu, sehebatmu, asal jangan menabrak aturan-aturan baku yang telah Tuhan tetapkan."...
..._Hijrah Melalui Langit...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
39. Bukan Kebiasaan Matheo
Tanpa disadari waktu begitu cepat berlalu, pagi menuju malam maupun sebalikanya, malam menuju pagi.
Sebagian orang besar pasti sudah bangun dan memulai aktivitas di hari weekendnya ini. Namun tidak seperti biasanya, pagi ini Matheo masih saja bergelut dibawah selimut tebalnya.
Dia masih tertidur dengan pulas tanpa memakai pakaian atasnya, dan itu sudah menjadi salah satu kebiasaannya juga. Tidak bisa tidur jika memakai baju.
Mungkin karena semalam pulang begitu larut malam membuat Matheo seperti ini, apalagi akhir-akhir ini dia begitu banyak pikiran karena permasalah yang sedang perusahaannya alami.
Dan mungkin ini tidur terpulas Metheo, setelah beberapa malam tidak bisa tidur dengan pulas dan tenang.
Para anggota keluarga pun tidak ada yang berani mengganggu Matheo dengan membangunkannya dari tidur pulasnya itu.
Jadi, kini hanya ada tiga orang yang mengisi meja makan dikediaman Dalton tersebut.
"Dimana Kakak?" Tanya Megan penuh dengan keheranan, tidak biasanya Kakaknya itu belum ada dan tidak bergabung dimeja makan untuk sarapan.
"Kakak mu masih tidur," singkat Mauren sambil menyiapakan sarapan untuk keluarganya. Dia mengetahui dari salah satu penjanga rumah, jika Matheo pulang sangat larut malam tentunya masih lengkap dengan setelan jas yang melekat.
Dapat Mauren simpulkan, jika mungkin saja Matheo sedang memiliki banyak pekerjaan diperusahaannya sehingga membuat dia harus pulang semalam itu.
"Tidak biasanya Kakak seperti itu," tentunya Megan kembali heran dengan yang bukan kebiasaan dari Matheo
"Benar, tidak seperti biasanya. Memangnya, dia pulang jam berapa?" Carlos sendiri tidak tahu kapan tepatnya Matheo pulang, apalagi tentang masalah perusahaan yang sedang terjadi karena Matheo menutupi hal itu darinya.
Matheo ingin Ayahnya tidak lagi ikut memikirkan permasalah kantor, dia ingin Ayahnya sekarang hanya menikmati masa hidupnya saja. Meskipun tetap saja Carlos bekerja di beberapa perusahaan cabang lainnya, yang masih dibawah naungan Dalton Colection.
Namun sekarang pekerjaan Carlos tidak lah berat, dia hanya tinggal menyetujui beberapa hal penting diperusahaan atau bahkan datang ketika diperlukan saja.
__ADS_1
"Tidak tahu kapan pastinya, tapi dia pulang begitu larut malam. Mungkin dia sedang ada banyak pekerjaan," Mauren menjawab pertanyaan Suaminya sesuai dengan apa yang dia tahu dari salah satu penjaga rumah.
"Sepertinya begitu," Carlos pun menyetujui perkataan Istrinya itu. Dia sudah pernah mengalami dan berada dimasa-masa seperti itu saat dulu sedang menjalankan, serta perintis perusahaan. "Biarkan dia istirahat, tunggu dia bangun tidur dengan sendirinya."
Lagian ini weekend, ada banyak waktu untuk Matheo beristirahat. Itu yang ada dipikiran Mauren maupun Carlos sekarang.
"Ya, aku pun berpikir begitu. Sudahlah, ayo cepat makan sarapan kalian!"
Megan dan Carlos pun tidak banyak bertanya lagi ketika mendengar perintah Mauren. Kini ketiganya makan dengan tenang tanpa ada berdebatan apapun didalamnya.
Mungkin sekarang memang tidak ada topik yang hendak mereka bahas atau perdebatkan. Lagian, jika sekali berdebat pasti akan terus saja terjadi hingga menjelang malam. Hal itu tentunya membuat Mauren jadi pusing sendiri.
Tanpa terasa waktu terus berjalan, mereka semua sudah selesai dengan acara sarapan dan kini sedang bersantai di ruang keluarga.
Cukup lama mereka saling berbicara, membicarakan apapun yang hendak mereka bahas. Mulai dari sekolah baru Megan, pembahasan para tetangga oleh Mauren dan Carlos sebagai penyimak yang baik dari pergosipan antara Ibu dan Anak itu.
"Mom tau, aku mempunyai teman baru yang sangat baik. Meskipun mereka Kakak kelas ku, mereka tidak pernah membeda-bedakan diri ku dengan mereka." Megan bercerita dengan penuh kegembiraan, seolah sebuah cerita yang sangat seru yang sedang dia katakan.
"Memangnya, kamu tidak memiliki teman sebaya atau pun sekelas?" Heran Mauren ketika tahu bahwa teman baru Purtinya itu adalah para kakak kelasnya.
"Tidak ada. Teman sekelas ku tidak berteman dengan tulus, mereka semua mendekati ku karena tahu aku anak pemilik sekolah saja." Sebenarnya Megan sedikit sedih dengan hal itu karena tahu teman-teman sekelasnya tidak ada yang benar-benar mau berteman dengannnya.
Untungnya dia sempat bertemu dengan Hellena dan Lucas terlebih dahulu, sehingga sekarang dia mempunyai teman disekolah barunya itu
"Sangat yakin Mom, mereka adalah orang sama yang mencoba menyelamatkan aku saat di minimarket waktu itu." Perkataan Megan membuat Mauren teringat kembali kejadian dimana dia begitu khawatir pada Putrinya.
Saat Megan yang baru saja pindah ke San Francisco malah dengan berani keluar sendirian tanpa membawa ponsel, dan malah membuat seisi rumah khawarit dibuatnya.
Tentunya Megan juga sudah bercerita tentang orang yang hendak menolongnya itu, namun dia yang tidak percaya bahwa orang tersebut mau menolongnya.
"Mereka pasti orang baik," tentunya mungkin untuk kesekian kalinya teman yang disebutkan Megan itu membatu dan menemaninya. Jadi dapat Mauren simpulkan, jika pasti mereka orang-orang baik.
Lagian Mauren percaya, Megan mampu memilih dan bergaul dengan orang yang baik-baik.
"Tentu Mom, apalagi Kak El. Dia begitu baik dan aku sangat menyukainya."
"Siapa El, dia perempuan atau laki-laki?"
"Dia perempuan Mom, Hellena namanya. Tapi aku dan teman-temannya sering memanggil dia dengan sebutan El."
__ADS_1
Mauren pun mengangguk mengerti dengan apa yang Megan jelaskan, "lalu siapa lagi teman mu?"
"Ada Kak Grac dan Kak Lucas juga. Nah kalau Kak Lucas baru dia laki-laki Mom, dia satu-satunya laki-laki diantara kita berempat."
"Ka-"
Perkataan Mauren harus terhenti ketika melihat Metheo yang baru saja turun dari kamarnya itu dengan terburu-buru menuruni tangga, membuat timbul rasa heran. Namun penampilan Metheo yang sudah rapi dengan pakaian santainya, justru menambah rasa heran tersebut.
"Kamu mau kemana Theo?" Tanya Mauren sambil menatap Matheo yang sedang berusaha memakai sebelah sepatunya.
Tentunya Megan dan Carlos pun ikut penasaran dengan kedatangan Matheo yang tiba-tiba dan tampak terburu-buru itu.
"Ke suatu tempat, aku sudah ada janji dengan seseorang." Jawab Matheo dengan cepat tanpa menjelaskan terlebih dahulu, karena dia tidak mempunyai waktu untuk menjelaskan semua itu.
"Aku pergi dulu," Matheo langsung pergi begitu saja ketika berhasil memasangkan sepatunya dengan benar.
Terlihat Matheo menaiki salah satu mobil yang sudah disiapkan oleh para pekerja di kediaman Dalton tersebut, sehingga tidak perlu waktu lama untuk menyiapkan mobil terlebih dahulu.
"Dia akan pergi kemana?"
"Ada janji dengan siapa?"
Secara bersamaan Mauren dan Carlos saling bertanya satu sama lainnya, yang tentunya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Apa jangan-jangan, Kakak memiliki kekasih?"
Sontak apa yang ditanyakan oleh Megan membuat ketiga pasang mata itu membola seketika, sepertinya apa yang sedang mereka pikirkan sekarang sama.
Mereka semua tahu, jika saat weekend seperti ini Metheo tidak akan mengurus pekerjaannya. Meskipun Matheo bisa dibilang orang yang gila kerja, tapi pada weekend seperti ini dia akan ikut libur juga dari pekerjaannya itu.
Jika pun teman, teman Matheo hanyalah dua. Yaitu, Orion dan seorang Dokter pribadi keluarga Dalton. Rasanya kedua orang tersebut tidak mungkin termasuk kedalam daftar orang yang menjadi alasan Matheo yang pergi terburu-buru seperti itu.
Ini untuk kesekian kalinya, Matheo melakukan hal yang bukan kebiasannya pada weekend kali ini. Membuat para keluarganya menaruh curiga, "kita bisa tanya saat dia pulang nanti."
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
__ADS_1
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.