Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 42


__ADS_3

..."Hal yang paling menyakitkan adalah kehilangan diri sendiri ketika terlalu mencintai seseorang, dan lupa bahwa dirimu juga istimewa."...


..._Ernest Hemingway...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


42. Keadaan yang Berbeda


Selama diperjalan pulang mengantar Hellena, tidak ada percakapan sedikit pun dalam mobil tersebut. Mereka berdua sama-sama diam, tanpa ada yang mau mencari topik pembicaraan terlebih dahulu.


Pernah merasa, jika perjalanan pergi akan terasa lama sedangkan untuk perjalanan pulang akan terasa singkat.


Itu juga yang dirasakan oleh Matheo dan Hellena sekarang. Dimana sekarang Matheo sudah menghentikan mobilnya tepat dijalan yang mereka tuju.


"Terimakasih sudah mengantar saya," kata Hellena yang memecahkan keningan dari beberapa saat itu.


"Sama-sama," Matheo pun hanya membalas singkat perkataan Hellena.


Setelah mendengar hal itu dengan segera Hellena melangkah keluar sari mobil tersebut, tentunya dengan kembali menutup pintu mobil tersebut dengan pelan.


Seperti sebelumnya, Hellena tidak langsung beranjak. Dia diam sambil kembali menatap mobil Matheo, seolah kembali memberi kode pada Matheo untuk terlebih dahulu meningglkan tempat tersebut.


Matheo yang berada didalam mobil dan juga memperhatihan semua gerak-gerik dari Hellena mengerti akan hal tersebut. Dia dengan segera kembali melajukan mobilnya meninggalkan Hellena yang masih terdiam sambil melihat kepergianya.


Setelah dirasa mobil Matheo tidak terlihat lagi, baru Hellena melangkah meninggalkan tempat itu juga menuju rumahnya. Dengan sedikit tergesa dia mempercepat langkahnya.


Begitu sampai dirumah pun Hellena langsung membersihkan tangan dan kakinya saja. Setelah itu dengan segera dia mengambil sisa makanan yang Matheo berikan semalam.


Memanaskan makanan tersebut, lalu memakannya dengan tenang. "Hah, aku benar-benar lapar." Ujar Hellena sambil terus mengunyah makananya, dia sudah cukup lama menahan rasa laparnya sejak masih di Apartment Matheo tadi.


Saat sedang asik dengan makanannya, tiba-tiba dering ponsel memenuhi indra pendengarannya.


Begitu dilihat, tertera nama salah satu temannya. Dengan segera Hellena mengakat panggilan tersebut karena letak ponselnya memang tidak jauh darinya.


"Halo? Ada apa Grac?"


Ya, orang yang menelponnya adalah Gracia. Entah apa yang membuat temannya itu menelponnya, karena Gracia akan menelponnya ketika ada hal penting saja.


Biasanya baik Hellena maupun Gracia hanya akan saling berbagi pesan saja, jika memang tidak ada hal yang benar-benar penting untuk diberi tahu.


"Kamu dimana, El?" Terdengar suara Gracia disebrang telpon sana, memang Hellena dengan segaja meninggikan folume panggilannya karena dia yang tidak memegang ponselnya.


Dia masih makan, sehingga sedikit kesusahan jika sambil memegang ponselnya. "Aku dirumah, kenapa?"


"Syukurlah, tapi apakah kamu ada kegiatan diluar hari ini?"


"Tidak ada, hari ini sepertinya aku akan ada dirumah saja."


Sudah Hellena pastikan, jika hari ini tidak akan ada lagi kegiatan di luar rumahnya karena beberapa alasan.

__ADS_1


"Sangat bagus!" Tiba-tiba suara lain yang Hellena kenali muncul dalam panggilan tersebut, "El datang lah kerumah sekarang!" Seruan tersebut, atau mungkim perintah tersebut kembali terdengar oleh pendengaran Hellena.


"Bunda, jangan teriak-teriak!" Gracia juga sama-sama ikut berteriak begitu Bundanya malah dengan secara tiba-tiba ikut dalam pembicaraannya bersama Hellena.


Bahkan dapat Hellena dengar sedikit keributan disan, yang tidak jelas keduanya sedang berdebat apa.


"Bunda? Grac?"


Hellena mencoba menghentikan berdepatan di sebrang telpon saja, Ibu dan anak itu ada-ada saja.


"Halo El? Kamu masih disana?" Gracia kembali berteriak disebrang telpon sana karena memastikan jika telpon tersebut masih tersambung dengan Hellena.


"Tidak usah berteriak Grac, aku masih disini dan dapat mendengarnya."


"Benar El, dia terus saja berteriak-teriak disini."


"Bunda jangan ikut berteriak juga!"


"Hentikan! Apa aku hanya akan mendengar perdebatan kalian saja?"


Karena kesabarannya sudah habis, Hellena sedikit meninggikan nada suaranya membuat dua orang disebrang telpon saja terdiam seketika.


Hening sesaat, "maaf El. Tapi Bunda dari tadi terus saja menggangu ku dan menguping pembicaraan kita."


"Hm, jadi ada apa?"


"Jika ada waktu, datang lah kerumah El. Bunda dan Ayah merindukan mu berkunjung kerumah." Akhirnya Gracia mengatakan juga maksudnya menelpon Gracia secara tiba-tiba.


"Baiklah, aku akan datang besok."


"Benarkah?" Gracia yang berada disebrang sana tidak percaya bahwa Hellena akan dengan mudah menyetujui perkataannya.


"Ya, aku benar-benar akan datang besok. Lagian, besok pun aku masih tidak ada kegiatan lainnya."


"Baiklah, ku tunggu kedatangan mu besok. Kalau begitu, aku tutup telponnya."


"Ya."


Tut


Sambungan telpon tersebut pun terputus, Hellena kembali segera menyelesaikan makanannya. Lalu kegiantan selanjutnya adalah bersantai sejenak, setidaknya untuk hari ini saja.


***


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya dirumah Matheo. Matheo sendiri baru saja sampai kembali kerumahnya, setelah mengantarkan Hellena pulang.


Dia dengan santai masuk kedalam rumahnya, dia tidak tahu saja jika orang-orang dirumahnya sudah siap akan mengintrograsi dirinya dengan banyak pertanyaan.


Dan benar saja, diruang keluarga sudah ada Megan dan Mauren yang menunggu kedatangan Matheo. Sedangkan untuk Carlos, entah ada dimana dan melakukan apa sehingga tidak berada disana juga.


Mauren dan Megan sendiri langsung menuju ruang keluarga setelah mendengar suara mobil yang Theo pakai memasuki perkarangan rumah.


Keduanya tampak terburu-buru dan segera duduk dengan tenang sebelum Matheo memasuki rumah, serta menyadari maksud dari aksi mereka berdua.

__ADS_1


Ternyata malah dengan sendirinya Matheo menghampiri keduanya, lalu ikut bergabung duduk disalah satu sofa disana.


"Ambilkan aku minum!" Meskipun tidak secara langsung menyebut pada siapa perintah itu dituju, namun prilaku dari Matheo yang menepuk pelan kaki Megan dapat menjelaskannya.


"Ihss, kebiasaan." Meskipun dengan sambil mengerutu, tak urung Megan tetap mengambilkan minum untuk Kakaknya itu.


Setelah Megan pergi, Matheo malah merebahkan tubuhnya disofa panjang tersebut.


"Kamu dari mana Theo?" Mauren mulai melancarkan satu-persatu rasa penasarannya pada Matheo.


"Dari luar Mom," jawab Matheo sambil memainkan ponselnya.


"Ck, yang benar menjawabnya. Jelaskan kamu kemana dan sudah ada janji dengan siapa?" Rasanya penasaran nya berubah menjadi rasa kesal begitu Matheo yang dirasa tidak benar menjawab pertanyaannya tadi.


"Mom tahu kamu dari luar, tadi tempatnya itu dimana Matheo?" Dengan sengaja Mauren menekan kata diakhir kalimatnya, dan dengan sengaja menyebut nama Matheo dengan lengkap


Karena biasanya orang rumah, teman bahkan semua keluarga Dalton hanya akan memanggilnya dengan panggilan Theo saja.


"Aku dar-"


"Ini Kak," sebelum Matheo menyelesaikan perkataannya terlebih dahulu Megan datang dan menyodorkan gelas berisi air padanya.


"Dari mana?" Desak Mauren dengan tidak sabaran atas kelanjutan perkataan Matheo yang belum selesai itu.


Sehingga Matheo yang tadinya akan meminum air tersebut, sontak menjadi kesal pada Mommy itu. "Biarkan aku minum dulu, Mom."


"Ah-ya, silahkan." Kata Mauren yang sebenarnya merasa tidak enak hati pada Matheo, tapi tetap saja rasa penasarannya lebih tinggi dari itu. "Jadi, kamu dari mana?" Tanya Mauren kembali setelah Matheo baru saja menghabiskan air minum dari gelas itu.


"Astaga, Mom ini. Sunggu sangat tidak sabar sekali," desah Matheo melihat kelakuan Mommynya itu. Lagian dia juga bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari Mommynya itu.


"Habisnya kamu lama sekali menjawab pertanyaan Mommy, membuat penasaran saja." Delik Mauren penuh dengan kekesalan.


"Aku dari luar, ada janji dengan rekan bisnis." Benar bukan apa yang dikatakan oleh Matheo ini, dia dan Hellena merupakan rekan bisnis beberapa waktu yang lalu.


Dia juga tidak mungkin menjawab secara langsung bahwa dia dari apartmentnya dan bertemu dengan seorang peretas handal disana untuk bekerja sama.


Itu akan sangat bahaya, dan melanggar janji yang sudah dibuatnya bersama Black Fire itu.


"Dari luar itu dimana? Rekan bisnis yang mana?"


"Lagian tidak biasanya Kakak bekerja di hari weekend seperti ini?"


Secara bersamaan Mauren dan Megan memberikan pertanyaan tersebut pada Matheo, yang membuat dia menjadi pusing dan bingung harus mencari alasan apa.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.

__ADS_1


__ADS_2