
..."Selfcare terbaik adalah memaafkan orang dalam diam dan menghindar berkomunikasi dengannya lagi, jangan melihat kebelakang lagi untuk hal yang sudah Allah jauhkan."...
..._Setitik Melody...
...Happy Reading Semua...
.......
.......
38. Pesan Ibu
Chapter ini masih flascback dari chapter sebelumnya, semoga yang baca tidak bingung. Dan disarankan untuk tidak membacanya terpisah, atau di skip ya.
***
"Kalau begitu aku akan bekerja saja Mom, agar Mommy bisa membeli obat dan cepat sembuh." Hanya itu yang ada dipikiran Hellena sekarang, dia ingin membantu Ibunya dan melihat Ibunya cepat sembuh kembali.
"Tidak, kamu akan bekerja apa?" Elmira tidak yakin, jika Hellena akan mendapatkan pekerjaan dimana umurnya masih berusia 15 tahun.
Lagian dia khawatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi pada Putrinya itu.
"Aku akan bekerja apa saja Mom, yang penting dapat menghasilkan uang." Dengan polosnya Hellena menjawab seperi itu.
Ya, pada dasarnya Hellena tetap anak polos dan lugu yang sangat baik karena dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Ibunya.
"Tidak El, jangan lakukan itu!" Kini pikiran Elmira berkeliaran kearah negatif, dimana sekarang umur Hellena juga sudah menginjak remaja.
Dia khawatir Hellena malam memilih jalan yang salah untuk mendapatkan uang, misalnya dengan menjual diri pada para hidung belang diluaran saja. Apalagi ini adalah San Francisco, salah satu kota terbesar yang berada di California.
"Tidak usah khawatir Mom, aku tau mana yang baik." Tentunya dengan otak yang cerdas dan pintar membuat Hellena dapat membedakan mana hal yang baik, dan mana hal yang buruk untuk tidak dia lakukan.
"Tetap tidak El, Mom masih bisa bekerja untuk kita hidup."
Elmira tetap tegas pada Hellena untuk tidak bekerja, dia masih mampu untuk mencari dan membiayai hidupnya. Namun nyatanya tidak, dia lupa jika bisa pergi kapan pun dan dimana pun tanpa aba-aba terlebih dahulu.
"El, bagaimana jika Mom pergi ?" Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam pikiran Elmira, dia tidak ingin bertanya dan memikirkan hal itu.
Tapi kematian seseorang tidak ada yang tahu kan.
"Memang Mom akan pergi kemana?" Kini Hellena duduk dengan bersimpuh didepan Ibunya yang terduduk di sopa, dia menumpukkan kepalanya dipangkuan Ibunya itu.
__ADS_1
Hangat dan nyaman. Dua hal itu yang selalu dapat menggambarkan suasana ketika dia berdekatan dengan Ibunya itu.
"Mungkin suatu tempat yang jauh, yang bisa dengan mudah oleh setiap orang kunjungi, tapi hal itu tidak disukai dan tidak boleh dilakukan!"
"Dimana itu?"
"Kembali pada Tuhan," singkat Elmira yang membuat tubuh Hellena menegang seketika.
Kematian adalah suatu hal yang sangat buruk didunia ini, membayangkan sebuah perpisahan yang akan terjadi membuat Hellena sedih seketika.
"Aku akan tetap ikut Mom, meskipun pergi kesana juga." Tanpa banyak berpikir Hellena mengatakan itu, dia ingin selalu bersama Ibunya karena hanya Ibunya yang dia punya di dunia ini.
"Tidak El, jangan mengatakan itu! Jika Mom pergi, kamu harus tetap menjalani hidup ini dengan baik. Terus hidup, sampai akhirnya Tuhan sendiri yang menyemputmu kembali kepangkuannya.
Jangan pernah pulang dengan cara mu sendiri karena itu adalah berbuatan yang tidak baik, dan Mom juga akan membenci jika kamu melakukan hal itu. Paham?"
Pulang sendiri adalah suatu dosa, sedangkan untuk dijemput pun belum mempunyai bekal yang cukup. Terkadang manusia se-membingungkan dan se-egois itu.
Elmira menekan diakhir perkataannya, dia tidak mau jika Hellena melakukan hal bodoh dengan menyusulnya jika dia pergi.
Hellena yang mendengarkan itu hanya mengangguk paham, menyetujui dan mengingat perkataan Ibunya itu. Dia tidak mau membuat Ibunya sedih dan membencinya nanti.
Sedangkan Hellena tidak menjawab lagi, dia hanya mengangguk pelan dalam pangkuan Ibunya itu. Tapi sama hal nya denga Elmira, kini pikiran Hellena sedang berkeliaran memikirkan hal apa yang harus dia lakukan.
Dia ingin mencari pekejaan agar bisa meringankan beban Ibunya itu, dan membantu perekonomian keluarganya. Dia ingin menghasilkan uang untuk dapat mengobati Ibunya, sehingga Ibunya tidak akan pergi kepangkuan Tuhan dengan cepat.
Hal itu juga yang menjadi alasan, kenapa Hellena tanpa sadar masuk kedalam dunia gelap itu. Dunia Mafia yang membuatnya menghasilkan banyak uang dengan mudah dan cepat untuk pengobatan Ibunya yang sakit.
Flashback Off
"Bisakah, aku pulang sekarang?" Pertanyaan itu yang selalu Hellena tanyakan pada diri sendiri, tapi tetap saja bayangan akan pesan Ibunya selalu teringat dikepalanya itu.
Tanpa sadar Hellena kini sudah menyelesaikan makanannya, dia segera membuang bekas makanan tersebut lalu mencuci tangannya.
"Hah, hari yang melelahkan." Hellena menghela napasnya merasa lelah dengan kegiantannya hari ini.
Dia mulai berjalan memasuki kamarnya, menggosok gigi dan membasuh mukanya. Lalu mulai berbaring dan memejamkan matanya.
Perlahan secara pasti Hellena mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya, mengarungi mimpi yang tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
***
__ADS_1
Sedangkan ditempat lain, dimana Matheo yang juga baru sampai dirumhanya kini sedang membersihkan dirinya juga.
"Sepertinya dia orang yang sangat cantik," sambil terus mengguyur tubuhnya dibawah shower pikiran Matheo berkeliaran pada kejadian yang baru beberapa saat terjadi padanya.
Dimana dia yang sekarang sudah sedikit mengetahui tentang Black Fire, seorang peretas handal. Bahkan sampai sekarang dia masih tidak menyangka sudah bekerja sama dan bahkan mengobrol banyak dengan orang itu.
Setelah selesai dengan acara mandinya, kini Matheo mulai memakai bajunya dan berjalan menuju dapur untuk makan.
Sebelum tidur, Dia akan mengisi perutnya yang sejak sore tadi kosong. Hanya tinggal menghangatkan kembali makanan yang sudah Ibunya masak, lalu memakannya.
Sambil menunggu masakan itu hangat kembali, pikiran Matheo masih saja terus berpikir kesana-kemari. "Tapi, dimana aku pernah melihat mata seperti itu?" Tanya Matheo pada dirinya sendiri.
Matheo masih saja penasaran dengan kebingungan yang kembali menyerangnya, dimana dia harus mengingat dimana kejadian itu pernah terjadi padanya.
"Mata itu benar-benar tidak asing untuk ku, dan aku rasa ini kesekian kalinya aku melihat mata hijau seperti itu." Matheo masih belum sadar dengan hal itu, dimana dia yang untuk kesekian kalinya bertemu dengan Hellena. Namun dalam kondisi dan tempat berbeda.
Dua kali bertemu Hellena sebagai Black Fire, dan dua kali bertemu dengan Real Hellena.
"Atau mungkin suatu kebetulan saja? Mungkin saja akan ada banyak orang yang memiliki mata seperti itu," dugaan sementara Matheo hanya sebatas itu.
Ting
Dentingan itu membuat Matheo tersadar dari rasa kebingungannya, dia dengan segera mengambil makanan yang sudah dia panaskan itu. Lalu mulai memindahkan pada piring yang sudah dia siapkan sebelumnya.
Matheo mulai memakan makanannya sendirian dalam sunyinya malam. Bedanya, ketika siang hari rumah ini akan ramai oleh teriakan dan juga canda tawa para manusia yang tinggal dirumah tersebut.
Dari sini, sudah dapat dilihat bukan? Perbedaan rumah bahkan kehidupan antara Matheo dan Hellena.
Kehidupan Matheo amatlah harmonis dengan memiliki keluarga yang utuh, ditambah dengan keadaan ekonomi yang sangat mendukung. Selain itu, kehangatan dan kenyamanan berada dalam keluarga Dalton tersebar disetiap penjuru rumah.
Sedangkan Hellena, dia tumbuh dan lahir dari keluarga yang tidak utuh. Berjuang untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak untuknya, bertahan hidup sampai waktunya Tuhan menyuruhnya pulang. Kehidupan Hellena amatlah kosong dan juga hampa secara bersamaan.
To Be Continue
Haiiii👋👋👋
Author yang baik ini kembali menyapa.
Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!
Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.
__ADS_1