Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 51


__ADS_3

..."Manusia asalnya daripada tanah,...


...Makan hasil tanah,...


...Berdiri diatas tanah,...


...Akan kembali ke tanah,...


...Kenapa harus bersifat langit?"...


..._Hamka...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


51. Insiden Tidak Terduga


"Jangan seperti itu juga! Minta saja uang yang cukup untuk membuat panti asuhan dipersimpangan jalan sana."


"Apa?"


Miller tercegang dengan permintaan Hellena, itu bahkan akan lebih besar dari yang dia akan minta pada Matheo.


"Ya, minta saja uang yang cukup untuk membantu pembangunan panti asuhan disana." Sekarang Hellena teringat tentang apa yang di inginkan, dia ingin membantu orang lain yang sedang membutuhkan.


Hellena teringat beberapa hari yang lalu, dia melewati jalan persimpangan yang tidak jauh dari markas inti. Di persimpangan tersebut ada sebuah spanduk yang dimana memuat sebuah infomasi penggalangan dana untuk membantu pembangunan panti asuhan.


Dan sepertinya sebuah rencana yang sangat bagus untuk membantu hal tersebut, lagian tidak mungkin juga jika Hellena menggunakan uang itu untuk keperluan dirinya sendiri.


"Kamu sungguh ingin meminta dan melakukan hal itu?"


"Ya, tentu saja. Lagian tidak mungkin aku memakai uang yang nantinya dia berikan," jelas Hellena yang malah membuat Miller bingung.


"Loh, kenapa tidak? Kamu dapat menyimpan dan menggunakan uang itu untuk kerluan mu hidup, sehingga kamu tidak perlu lagi bekerja keras di Toko roti atau pun di Cafe lagi."


"Kau ini bodoh atau apa?" Dalbert yang dari tadi diam saja menyimak perkataan Hellena dan Miller, sekarang mulai ikut berbicara. Dia merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Miller, yang rasanya tidak dipikirkan dulu saat berbicara.


"Jika Eddyln tidak bekerja di Toko roti atau pun di Cafe, semua orang akan curiga dari mana dia mendapatkan uang untuk bertahan hidup." Tentunya perkataan Dalbert sangat disetujui oleh Hellena.


"Benar kata Daddy, jika aku tidak bekerja disana itu malah akan menimbulkan masalah besar untuk ku. Anggap saja bekerja di 2 tempat tersebut hanyalah sebuah pengalihan isu dan perhatian orang lain pada kehidupan ku."

__ADS_1


Tentu Hellena sudah menyusun dan memperhitungkan semuanya dengan benar. Mana mungkin Anak yatim piatu seperti dirinya tidak bekerja? Lalu, dari mana dia akan mendapatkan uang untuk bertahan hidup?


Meskipun Hellena tahu, bahwa pendapatan dari bekerja di Toko roti dan di Cafe tidak lah lebih besar dari pendapatannya dari bekeja untuk The Black Dream. Namun, untuk menutupi pendapatan itu Hellena harus mengalihkan perhatin orang lain agar tidak curiga bahwa dia bergabung dalam dunia Mafia.


Selain itu perlu dikatahui juga, jika semua pendapatan Hellena tidak pernah dia gunakan secara keseluruhan.


Hellena sering sekali ikut berdonasi rutin untuk setiap orang yang membutuhkan. Entah itu korban bencana alam, memberi para anak yatim-piatu yang bernasib sama seperti dirinya dan tentunya masih banyak lagi prilaku mulia yang Hellena lakukan secara diam-diam.


Terlepas dari itu, Hellena juga mengikuti beberapa invertasi kesehatan dan juga invertasi untuk di masa depannya. Meskipun dia tidak tahu, kedepannya dia masih akan hidup atau tidak.


Hellena menerapkan pesan Ibunya dalam hidupnya itu, jangan pulang sebelum Tuhan yang menjemput mu sendiri.


Selama menunggu itu datang, Hellena harus mempersiapkan dan menata hidup untuk kedepannya. Entah berapa lama dia akan bertahan di dunia ini, dan entah apa yang akan terjadi kedepannya juga.


"Benar juga ya, kenapa aku tidak terpikir kesana?" Miller sendiri baru paham setelah Dalbert dan Hellena menjelaskan.


"Ck, bahkan sampai sekarang aku tidak mengerti, kenapa orang bodoh dan konyol seperti mu bisa masuk kedalam dunia Mafia?"


"Hei!"


Pekikan keras dari Miller menunjukan protes dengan apa yang baru Hellena katakan tentang dirifpnya itu. Dia bukan orang seperti itu, mungkin.


***


Dimana Matheo yang entah ada urusan apa disekitaran tersebut, malah kini terlihat sedang dihadang oleh beberapa orang yang berbadan besar dan juga berotot membuat Matheo mau tidak mau menghentikan laju mobilnya.


"Siapa kalian?" Dengan lantang Matheo bertanya pada orang-orang yang kurang lebih berjumlah 5 orang itu, meskipun jika boleh jujur dia juga sedang menahan rasa takut karena dia hanya sendirian saja.


5 lawan 1, bukan lah lawan yang seimbang.


Sekarang Matheo tetap saja merasa sedikit takut dan was-was untuk menghadapi orang-orang tersebut, meskipun dia sendiri mampu menguasai salah satu seni bela diri.


"Tidak perlu banyak tanya! Ayo, serang dia!" Salah satu orang yang mungkin saja Bos dari mereka ber-lima itu memberikan perintah, tentunya yang membuat 4 orang lainnya mulai maju untuk menyerang Matheo.


Mungkin untuk beberapa pukulan pertama Matheo mampu menghindar dan juga melawan. Namun tetap saja kekuatan dari 4 orang tersebut membuat Matheo kalah telak.


Bahkan sekarang wajah tampan Matheo sudah memiliki sedikit lebam diarea tertentu, selain itu salah satu sudut bibir Matheo mulai sobek dan mengeluarkan darah segar.


Brukk


Tubuh tegap dan tinggi Matheo harus tumbang begitu pendapatkan pukulan keras diarea perutnya, dia mencoba untuk berdiri kembali.


Namun salah satu dari ke-empat orang itu sudah mulai kembali mengambil ancang-ancang untuk memukul Matheo, namun sebuah teriakan menghentikan pukulan tersebut.

__ADS_1


"Hei!"


Teriakan tersebut mengambil alih perhatian semua orang disana, termasuk Matheo yang mengenali orang yang berteriak tersebut.


"Elle," tanpa sadar Matheo malah mengumamkan kata tersebut yang mungkin saja ditujukan untuk Hellena.


Hellena? Ya, dia adalah Hellena.


Hellena yang merasa urusannya dengan Miller sudah selesai, memilih untuk segera pulang saja. Lagian besok dia harus kembali sekolah, sehingga membuatnya untuk segera pulang kerumah.


Namun saat dipertengahan jalan, dia melihat orang yang dia kenali sedang dipukuli oleh beberapa orang. Hal itu membuat Hellena tidak bisa mengabaikan hal tersebut atau bahkan pura-pura tidak melihat dan tahu hal tersebut.


Dengan santai Hellena melangkah dan mendekati gerombolan orang tersebut, termasuk Matheo yang kini sudah kembali berdiri namun dengan keadaan yang kacau.


"Kau tidak apa?" Tanya Hellena sambil menatap lekat pada Matheo dan memindai keadaan Matheo yang mungkin saja tidak sedang baik-baik saja.


"Ya, tidak apa. Apa yang kamu lakukan disini? Pergilah!" Matheo sendiri takut Hellena malah ikut menjadi korban seperti dirinya.


Mungkin jika dia mati itu sudah menjadi takdir untuk dirinya, tapi rasanya dia akan sangat bersalah jika membawa orang lain ikut dengannya.


"Tentu saja menolongmu. Jika aku pergi, siapa yang akan menolong mu sekarang?"


Tanpa sadar keduanya kini berbicara Informal, mungkin karena keadaan yang sedang darurat sekarang.


"Perg-"


"Hei! Kenapa kalian berdua malah mengobrol?"


Perkataan Matheo harus terpotong karena salah satu dari orang yang menyerangnya itu kini terlihat kesal dan marah melihat interaksi Hellena dan Matheo.


"Dan apa yang kalian tunggu? Ayo, kembali serang mereka berdua sekarang!" Titah yang merupakan Bos dari kelima orang tersebut.


Sedangkan kini Hellena dan Matheo saling berpandangan, mereka berdua menatap satu sama lain dengan lekat. "Ayo, lawan mereka sekali lagi! Kini bersama ku," kata Hellena yang mencoba menyakinkan Matheo untuk kembali melawan orang-orang tersebut.


Ada sebuah kesalahan kecil yang Hellena lakukan, dia memakai identitas asli sekarang. Bukan menutupi dirinya sebagai Black Fire.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!

__ADS_1


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.


__ADS_2