Our World Is Different

Our World Is Different
CHAPTER 44


__ADS_3

..."Waktu kecil menangis untuk mendapatka pengabulan. Dewasa, menangis bukan lagi sekedar menghabiskan air mata, melainkan juga tengelamnya oleh harapan sendiri."...


..._Putu Bagus Ade...


...Happy Reading Semua...


.......


.......


44. Perdebatan Antara Kakek dan Cucunya


Sedangkan orang yang sedang dicari-cari sekarang sedang berada didalam kamarnya. Orang itu sedang fokus mengerjakan tugas sekolahnya, namun sambil mendengar sebuah musik melalui sambungan Headphone miliknya.


Sehingga tidak mengetahui dan mendengar teriakan Kakeknya itu.


Ceklek


"Jeff?"


Tiba-tiba seorang masuk kedalam kamarnya itu, dia adalah John. Setelah mencari ke beberapa tempat, kini tujuan terakhir John adalah kamarnya.


Dapat Carl lihat, jika orang yang sedang dicarinya itu tampak sedang belajar sambil mendengarkan musik. "Pantas saja dia tidak mendengar teriakan membahana Kakeknya itu," John hanya bisa mengela napas lelah sedang membayangkan bagaimana nantinya perdebatan yang akan terjadi antara Kakek dan Cucu itu.


John lebih memilih melangkah masuk menghampiri orang yang dicarinya itu, setelah jarak mereka berdua cukup dekat. John dengan pelan penepuk bahu  pemuda itu.


Sontak pemuda yang ditepuk bahunya itu menjadi kaget, "Astaga!"


Kini pandangan John dan pemuda itu bertemu. "Paman? Kau membuat ku kaget!" Pekik pemudah itu pada John, yang sekarang terlihat menurunkan Headphone yang dipakainya.


"Ada apa?"


"Kakek mu memanggil Jeff, kamu harus segera kesana menemuinya." John secara langsung menyampaikan tujuan kedatangannya, mencari orang yang dipanggil Jeff itu.


"Ada apa lagi? Aku sedang belajar sekarang," entah ini yang keberapa kalinya Kakeknya itu selalu menggangu waktu tenangnya itu.


Jeffrey Dominic. Nama lengkap dari pemuda yanh dipanggil Jeff itu, yang sekarang sedang memasang wajah kesal karena ulah Kakeknya yang mengganggu waktu belajarnya itu.


Jeffrey merupakan akan dari Dalbert, yang tentunya merupakan Cucu satu-satunya untuk Baskara karena baik Baskara maupun Dalbert sama-sama hanya mempunyai satu anak saja.

__ADS_1


"Temui dulu saja, kamu pasti sudah tau seperti apa sifatnya." Tentunya John tidak akan kembali tanpa Jeffrey bersamanya, karena itu hanya akan menambah tugas saja untuknya.


Baskara tidak akan berhenti berteriak dan menyuruh Jeffrey menghampirinya, jika Jeffrey belum menghampirinya.


"Ck Kakek tua itu, selalu saja membuat ulah setiap harinya." Panggilan Kakek tua tersebut tertuju pada Baskara tentunya, anggap saja panggilan spesial.


Spesial ketika dia sedang kesal. Meskipun dengan kesal, tetap saja Jeffrey melakukan apa yang dikatakan oleh John. Dia mulai berjalan mengikuti John keluar dari kamarnya menuju halaman belakang.


"Sekarang apa lagi yang sedang dia lakukan Paman?" tanya Jeffrey disela-sela dia dan John yang sedang berjalan bersama.


"Tuan sedang berkebun, mungkin dia membutuhkan bantuan mu." Jawab John dengan santai, meskipun sekarang dia melihat kedua mata Jeffrey yang membulat sempurna setelah mendengar perkataannya itu.


John tau apa yang ada dipikiran Jeffrey sekarang, hanya satu yang cocok untuk itu. Penolakan, itu adalah jawaban yang tepat. "Jangan selalu membantah Tuan, Jeff!"


Untuk kesekian kalinya John menberikan nasehat tersebut pada Jeffrey, tapi tetap saja hal itu selalu dilanggar.


"Itu sih Paman saja yang lakukan, aku akan melakukan yang aku inginkan." Sebenarnya Jeffrey sendiri bukan tipe Cucu yang durhaka, atau pun pembangkang.


Dia hanya melakukan sesuai dengan hati nurani dan juga pikiran yang dia inginkan, lagian prilaku dari Kakeknya juga yang membuat dia selalu bersikap seperti itu.


Selain itu Jeffrey juga bukan Anak buah Kakeknya yang akan selalu menuruti perkataannya, seperti John contohnya. Oleh karena itu juga, John cenderung lebih formal pada Baskara karena sangat menghormati dan merasa berhutang budi pada Baskara.


Sedangkan pada Jeffrey sendiri, dia cenderung lebih santai bahkan sudah menganggap Jeffrey sama seperti Anaknya sendiri.


John tidak tahu lagi harus menjawab perkataan Jeffrey seperti apa lagi, dia memilih diam saja dan terus berjalan menuju halaman belakang.


Begitu sampai dihalaman belakang, sudah tentu masih ada Baskara yang tetap sama seperti posisi sebelumnya. Berkacak pinggang menunggu kedatangan John, dan mungkin lebih tepatnya Jeffrey.


"Kamu dari mana saja? Kenapa tidak datang saat Kakek panggil tadi," sembur Baskara begitu Jeffrey berdiri tepat didepannya.


Sontak Jeffrey memundurkan langkahnya begitu mendapatkan semburan pertanyaan seperti itu dari Baskara, masalahnya air liur Baskara sedikit mengenai wajah tampannya ini.


"Kek, santai dong ngomongnya. Air liur Kakek sampai mengenai wajah tampan ku ini," protes Jeffrey sambil mengelap wajahnya dengan lengan bajunya itu, yang sempat terkena air liur Baskara tanpa sengaja.


Memang Jeffrey sudah tidak ada takut-takutnya pada Baskara. Disaat keadaan Kakeknya sedang marah pun, dia masih sempat bercanda seperti itu.


Sedangkan dibalik wajag datar John, sebenarnya di sedang menahan tawa mendengar perkataan Jeffrey. Ingin tertawa tapi takut jika Baskara malah ikut memarahinya nanti, jadi dia memilih jalan aman saja.


"Kau ini, dasar Cucu durhaka. Mana ada air liur Kakek muncrat mengenai wajah jelek mu itu," tentunya Baskara tidak terima dengan tuduhan yang Jeffrey berikan padanya.

__ADS_1


Perkataan dari Baskara membuat Jeffrey mendengus kesal, "sudah tua juga, tetap saja tidak ingin mengaku. Ini nih yang selalu membuat ku kesal dan sering membantah ucapannya."


"Kalau aku jelek, berarti Kakek pun sama. Bukannya Kakek pernah bilang, bahwa wajah kita hampir sama."


Baskara tidak bisa menjawab perkataan Jeffrey, karena memang dia pernah mengatakan itu pada Cucunya.


"Sudah lah, lupakan itu. Cepat bantu Kakek menanam cabai ini!" Titah Baskara sambil memberikan sebuah cangkul kecil pada tangan Jeffrey.


"Apa-apaan Kakek ini? Aku tidak mau berkebun, tadi aku sedang belajar jadi akan melanjutkan belajar ku." Tolak Jeffrey secara langsung, dia tidak berbohong untuk menghindari perintah Kakeknya itu.


"Lanjut belajarnya nanti saja, sekarang bantu dulu Kakek."


"Tidak Kek, lagian kenapa Kakek berkebun pada saat tengah hari seperti ini? Ini akan membuat kulit ku menghitam saja," Jeffrey tidak habis pikir dengan Baskara yang selalu memilih berkebun pada saat siang hari, bukan pada pagi hari ketika matahari belum seterik sekarang.


Ini juga menjadi salah satu alasan kenapa Jeffrey selalu menolak perkataan Kakeknya itu. Sebab Baskara selalu menyuruhnya pada saat waktu yang tidak tepat. seperti sekarang ini.


"Ck, kamu ini laki-laki. Tidak apa jika kulit putih mu itu sedikit menghitam akibat sinar matahari, tandanya kamu seorang bekerja keras yang berjuang dibawah teriknya matahari."


Perkataan Baskaran sungguh sangat lah membangun semangat untuk para pejuang, tapi masalahnya Jeffrey bukan orang yang termasuk kedalamnya.


"Tetap tidak mau, nanti sore saja saat matahari tidak seterik sekarang." Jeffrey tetap menolak perkataan dan bujukan dari Baskara, dia sungguh tidak ingin kulitnya menjadi belang.


Memang Jeffrey mempunyai kulit yang putih dan bersih, sama persis seperti kulit yang Ibunya punya. Berbeda dengan Baskara dan Dalbert yang mempunyai kulit putih, namun cenderung sedikit coklat.


"Kamu ini, selalu saja menbantah perkataan Kakek. Tidak ku izinkan pulang, baru tau rasa kamu!" Pada akhirnya sebuah ancaman yang keluar dari mulut Baskara, dan itu selalu saja dapat membuat Jeffrey kembali mengikuti perintah tersebut dengan terpaska.


Tolong garis bawahi dan ingat itu!


Pada akhirnya tetap saja Jeffrey ikut membantu Kakeknya meskipun dengan terus saja menggerutu. "Kakek ini hanya bisa mengancam saja, lagian aku juga ingin pulang agar cepat bertemu dengan Eddyln."


Sedangkan John sudah terbiasa melihat perdebatan tersebut, sudah seperti menjadi makanan sehari-hari untuknya. Tapi dia juga tahu, perdebatan tersebut akan membantu mengobati rasa kesepian dari Tuannya itu.


Berdebatan tersebut tidak akan benar-benar terjadi, mungkin hanya sekedar cekcok kecil. Pada dasarnya, baik Baskara dan Jeffrey akan selalu saling menyayangi satu sama lainnya.


To Be Continue


Haiiii👋👋👋


Author yang baik ini kembali menyapa.

__ADS_1


Makasih buat yang udah baca, kalau ada typo tolong tandai ya. Jangan lupa rutinitas like, vote dan komen. Gratis kok dan gak ribet, jadi yuk langsung like, vote dan komen!


Semoga suka dengan cerita ini, bay bay see you next part.


__ADS_2