Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 21: Hari-hariku Kosong Tanpamu


__ADS_3

Pemandangan seindah apa pun tidak sebanding dengan seruat wajah ayu wanita yang kini tengah meringku di dalam dekapan lengan Robbin.


Cahaya surya melewati celah-celah gorden dalam kemilau patah-patah, menyinari wajah Clay yang luar biasa bercahaya. Wanita itu menarik napas sebelum benar-benar membuka mata. Tubuh hangatnya menggeliat, hingga Robbin mengendurkan pelukan.


"Putri tidur sudah bangun, jadi semalam ingin mengatakan apa? Sebelum aku pergi rumah tampak baik-baik saja, dan begitu aku kembali semua terlihat berbeda. Apa yang terjadi?" tanya Robbin.


Semalam setelah memastikan Clay tidur nyaman dan suhu tubuh normal, Robbin membersihkan rumah yang berantakan. Makanan basi di tempat sampah belum dibawa keluar dari rumah, pun dengan gelas dan piring tergeletak begitu saja di atas meja. Clay memang jarang sekali melakukan pekerjaan rumah, tetapi untuk sekadar mencuci bekas makannya sendiri wanita itu bisa.


Robbin merasa ada yang tidak beres, apalagi setelah melihat kondisi dan reaksi Clay semalam. Tubuh wanita itu gemetaran, seolah-olah takut akan kehadiran seseorang, sebelum mengetahui yang datang adalah dirinya. Akan tetapi, begitu membuka mata kelegaan tergambar jelas. Istrinya bukan hanya kaget, ketakutan terpancar dari sorot matanya yang merah.


Napas Clay tercekat, tangannya gemetar sementara Robbin menatap dalam butuh penjelasan. "Hanes dan aku hanya—"


"Hanes?" potong Robbin, dia mengerang sebab geram. "Jangan katakan apa pun tentang dia!"


Tubuh Clay berjingkat karena peringatan Robbin terdengar seperti bentakan. "Ba-baiklah, aku ingin tau Kak Robbin benar pergi bekerja atau—" Kalimat yang ingin keluar dari bibir tertahan di tenggorokan.


Clay tidak ingin bertanya atau menghakimi sang suami kalau memang benar kala itu tidak bekerja, melainkan bertemu dengan calon istri yang belum kesampaian. Pun karena dirinya tidak sesuci itu, hingga mempertanyakan apa yang dilakukan sang suami di luar sana.


Bukankah itu tidak adil? Sementara dia hampir bermain serong dengan pria lain. Tidak, bukan hampir, tetapi sudah. Tangan Clay terangkat, mengusap ringan bibir dengan telunjuk.


Mata beralis tebal Robbin memicing, dia mencoba diam tanpa berniat menyela. Namun, Clay justru merapatkan bibir, sehingga membangkitkan keinginan terpendam dalam diri Robbin. "Apa kamu tidak ingin melanjutkan?" tanyanya lirih.


Robbin sudah tidak tahan lagi menolak dorongan untuk masuk ke dalam diri sang istri. Tatapan Clay terlalu lembut, pun dengan lekukan dan kulit yang serupa sutra. Wanita itu terlalu menggoda, untuk dilewatkan dengan percuma.

__ADS_1


"Martha. Kak Robbin, menemuinya, 'kan?"


Nada rendah yang digunakan Clay untuk menyebut nama wanita di masa lalu Robbin laksana gemuruh badai di telinga. "Dari mana kamu mendapatkan nama itu?"


"Jadi, benar Kak Robbin pergi untuk menemuinya? Bukan bekerja?" Clay menahan napas ketika mempertanyakan itu. Dia sudah maju dan artinya tidak boleh mundur lagi, daripada penasaran mending ditanyakan bukan?


Clay mencuri-curi pandang ke arah Robbin sembari memilin pinggiran selimut. Dia menarik udara banyak-banyak melalui hidung, sebelum melanjutkan. "Aku takut kecurigaanku selama ini tidak berdasar. Sungguh aku bukannya tidak percaya kepadamu, Kak Robbin, tapi sejujurnya aku memang kurang yakin," katanya kemudian.


"Bagus, aku suka karaktermu yang selalu berterus terang," ujar Robbin. Clay tampak terkejut mendengar pengakuan itu, tetapi Robbin memilih takpeduli seraya berkata, "Memang ada sesuatu yang perlu kita jernihkan di sini. Terutama, aku tidak mau membahas atau mendengar nama wanita itu. Kedua, aku tidak pergi ke mana-mana selain urusan pekerjaan. Dan, terakhir, sesuai pertanyaanku sebelumnya. Kamu tau nama itu dari siapa?"


Clay tampak lebih gusar dari sebelumnya, dia sudah diperingatkan untuk tidak menyinggung apa saja tentang Hanes. Lalu, dia harus mengatakan apa?


"Lupakan, lupakan saja, Kak Robbin." Clay bangun dari tidur dan duduk di pinggiran kasur.


Clay mendadak lemas dengan tarikan napas tajam. Dia menyadari Robbin mengubah posisi, duduk di belakangnya dan mencondongkan tubuh lebih dekat. Kaki pria itu kini menyusul di samping kanan-kirinya, mengapit Clay dengan begitu mesra.


Robbin membiarkan ketiga ujung jarinya menyusuri leher jenjang sang istri. Lalu, menumpukan dagu di sana, sehingga bibir menyentuh cuping telinga wanita itu. Dia dapat merasakan napas istrinya tercekat, membayangkan bagaimana reaksi selanjutnya jika memagut telinga dengan gerakan lamban.


"Hari-hariku kosong tanpamu," bisik Robbin, dia menyapukan bibir di ceruk leher Clay, sampai merasakan denyut nadinya.


Pipi Clay mendadak panas, pembuluh darah terasa mendidih. Dia belum pernah merasakan sentuhan seintens ini dari Robbin. Sentuhan yang sanggup memacu kinerja jantung lebih cepat. Yah, kelakuan sebelum-sebelumnya memang terkesan menggoda, tetapi dirinya tidak selalu seperti itu. Dan, hanya bersikap begitu terhadap Robbin saja.


"Apa yang membuatmu meragukan tujuanku pergi dalam seminggu ini?" Suara Robbin berubah parau, menahan gejolak jiwa.

__ADS_1


"Sebentar." Clay beranjak, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. "Ini, wanita ini siapa?"


Clay menyodorkan ponsel kepada Robbin dan pria itu mengamati foto sambil memicing. Mengusap dagu sekilas lantas berdecak, mencondongkan tubuh ke belakang, kedua lengan kokohnya dijadikan tumpuan.


"Jadi, Clay, aku hanya bisa mengatakan dia rekan kerja, dan bukannya kamu sudah tau pekerjaanku gimana? Aku sendiri juga terkejut mendapat rekan seorang wanita, tapi demi apa pun tidak ada yang terjadi di antara kita. Apa kamu puas mendengarnya?"


"Belum, di situ kalian terlihat mesra. Lihat senyum Kak Robbin, itu sangatlah langka, aku tidak pernah mendapatkannya," rajuk Clay sembari mengerucutkan bibir dan melipat lengan di atas perut, dia membuang muka.


"Kemari, duduk di dekatku!" pinta Robbin, tetapi Clay malah mundur selangkah.


Robbin mengulurkan tangan lantas menarik lengan Clay hingga terjatuh di atas pangkuannya. Dia mengulas senyum, mendapati pipi istrinya semerah tomat ketika tersipu malu.


"Sejak kapan kucing ini sejinak merpati? Aku sudah lelah menghadapi tingkah polahmu yang menggemaskan itu," goda Robbin.


Bibir Clay terbuka untuk membalas ucapan Robbin, tetapi urung sebab suaminya lebih dulu membungkam mulutnya dengan ciuman keras. Dia pun tanpa sadar mengerang, menggelitik Robbin untuk melakukan lebih dari ini.


Seiring lembutnya sentuhan Robbin, bibir Clay yang semula kaku melembut, merespons saat indra perasa Robbin mendesak masuk melewati barisan gigi. Liar, membius dan tidak dapat dielak. Suami-istri itu saling menyamai gerakan.


Punggung Clay melengkung, kedua tangan yang saling bertautan bergelayut di leher Robbin. Keduanya menikmati sensasi luar biasa, rasa kebas menyebar dari kaki hingga ubun-ubun.


Sebatas ciuman saja tidak cukup untuk mereka, Robbin mengangkat tubuh Clay tanpa beban lantas menjatuhkannya ke atas kasur. Jari-jemari Robbin mencari-cari ujung baju istrinya, dia ingin segera mengenyahkan kain yang membalut tubuh indah sang istri.


Tubuh Clay bergerak-gerak gelisah, menggeliat ketika jemari Robbin menyentuh kulit perutnya.

__ADS_1


"Kak—"


__ADS_2