Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 38: Tong Kosong Nyaring Bunyinya


__ADS_3

"Robbin, apa langkah kita selanjutnya?" tanya Johanes tanpa menoleh, dia sibuk merakit seperangkat komponen yang biasa disiapkan sebelum memulai tugas di lapangan. Karena tidak kunjung mendapat sahutan dia menoleh. "Letakkan ponselmu atau kulempar!"


"Aku yakin itu tidak ada hubungannya dengan apa yang sedang kita garap sekarang," sahut Berry yang baru masuk ruangan. Tangan kanan-kirinya penuh bawaan, sehingga menutup pintu dengan kaki.


Sebab Robbin tipe orang yang tidak mudah terpancing, memutuskan membisu. Dia mematikan ponselnya lantas meletakkan di meja seraya menekuni layar komputer.


"Kamu mau menangkap basah dia, kan?" sindir Johanes sambil beranjak dari duduk. Dia mengarah ke lemari berukuran dua meter kali satu meter di sisi kanan pintu.


Ada kalanya ketenangan Robbin di ambang batas, dia menyahuti dengan nada sarkas, "Jangan campuri urusanku!"


Situasi itu memancing Berry menoleh, dia menoleh secara berganti ke arah Johanes dan Robbin. Pria itu sudah membuka mulutnya, tetapi urung bicara.


Johanes mendengus kesal lalu menyanggah perkataan Robbin, dia kembali duduk di belakang mejanya. "Bisa saja asal kamu fokus pada misi kita, ketimbang mengulur-ulur waktu dengan mengamati ponselmu setiap satu menit sekali!"


"Cih, terlalu melebih-lebihkan." Robbin membuang muka. Memang pada kenyataannya tidak secepat itu temponya, kendatipun cukup sering.


"Kalian bahas apa, sih?" Berry sudah tidak tahan lagi dengan sikap saling menyerang kata kedua sahabat baiknya yang seolah-olah musuh bebuyutan.


"Oke, tangkap baik-baik kata-kataku, Ber. aku juga sudah muak dengan sikap dia akhir-akhir ini!" Tunjuk Johanes, pria itu menyugar rambut sebahunya ke belakang. "Coba pikir, dia memperistri wanita yang kita jumpai sedang berada di hotel bersama Hanes."


"Wanita asia cantik jelita, tetapi—" Berry tidak melanjutkan kalimatnya, dia ngeri melihat tampang Robbin saat ini. Wajah itu tampak tegang, seakan-akan hendak melahap orang hidup-hidup tanpa dorongan air.


"Nah, tepat sekali, Ber. Bukankah dia terlihat seperti ... uh, ya, aku tidak mau menyebut mantan kekasihmu, Rob," aku Johanes.


Tercipta kesenjangan waktu sekitar sepuluh detik, Berry mengusap dagu seolah-olah tumbuh janggut di sana. Dia mengulas senyum sebelum mengutarakan pendapat. Pria satu ini memang gemar sekali mengumbar lesung pipi. "Jadi, apa masalahnya?"


"Wanita itu bisa saja ada hubungan khusus dengan anak Big Boss," terang Johanes.


Berry terdiam sembari menggigit-gigit bibir bawah bagian dalam sebelum menanggapi. Kalau diingat-ingat lagi, omongan Johanes ada benarnya. Pasangan di hotel waktu itu tampak mesrah, tetapi sebagai orang yang berpikiran luas, dia mengenyangkan spekulasi negatif.

__ADS_1


"Kurasa Robbin lebih mengenal wanita itu daripada kita, Jo, dan besar kemungkinan yang kita pikirkan waktu itu salah," tutur Berry.


Sok bijak, itu menurut pendapat Johanes saat ini menilik dari caranya menatap Berry.


Sambil menusuk-nusuk telunjuk ke pipi Berry mengimbuhi pidatonya. "Ambil sisi baiknya, setelah Robbin dekat—eem, menikah dengan wanita itu sikap pemurung yang melekat di dirinya hilang. Dia banyak senyum-senyum sendiri, bukan?"


"Pas, dia jadi gila!" Ada tawa di sela-sela sahutan Johanes.


"Kamu mestinya memperhatikan, Jo, saat Robbin diam-diam mengamati aktivitas istrinya melalui ponsel, " goda Berry, alis tebalnya bergerak naik-turun. "Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit jiwa atau ke dokter—"


"Enak saja!" Robbin menghardik dengan pipi bersemu merah, malu karena ketahuan berbunga-bunga di depan teman-temanya.


"Lihat, Jo, apa kamu tidak ingin seperti dia juga?" Berry semakin gencar menggoda Robbin pada saat itu.


"Terserah!" Robbin mengangkat tangan tanda acuh tak acuh.


Ketiganya pun kembali menekuni tugas masing-masing sampai dikejutkan oleh gerakan spontan Robbin.


Kursi yang Robbin duduki terpental ke belakang ketika beranjak dengan serampangan dan kedua karibnya menoleh serentak.


"Ada masalah?" tanya Berry dan Johanes.


"Bajingan-bajingan itu membawa istriku!" geram Robbin lantas keluar dari ruangan setelah memberi penjelasan singkat. Insiden mengerikan itu terjadi sepuluh menit yang lalu kala Clay tidak dalam pengawasan.


"Robbin!" seru Berry mengikuti langkah panjang sang teman.


Bak pemain kriket Robbin menerjang beberapa orang yang menghalangi jalan. Dia mengambil jalur tangga darurat alih-alih lift, kaki jenjangnya kini menapaki dua anak tangga sekaligus.


"Robbin!" seru Berry, melempar anak kunci yang ditangkap Robbin, tangkas.

__ADS_1


Tanpa menunda-nunda Robbin masuk ke mobil, menyalahkan mesin lantas menginjak pedal gas. Kendaraan roda empat itu melesat cepat mengalahkan kecepatan cahaya.


Robbin tahu ke mana harus menyusul istrinya, tetapi jalanan menjelma labirin yang susah di cari ujungnya. Dia pun berhenti beberapa kali karena rambu lalu lintas berganti warna.


Dari kejauhan, Robbin melihat mobil Johanes menyusul di belakang. Dia tahu pasti bahwa mereka tidak akan membiarkan dirinya bergerak sendirian.


Ketidaksabaran mendorong Robbin untuk membunyikan klakson berkali-kali hingga dimaki penggunaan jalan lain. Namun, dia tidak peduli, begitu jalanan longgar mobil melesat kencang.


Robbin dan Johanes mengarahkan kendaraannya jauh meninggalkan kota dan berhenti di halaman depan sebuah bangunan tua. Tembok berbatu itu tampak lembab serta tercium aroma lumut, pada sisi atapnya hampir dipenuhi tanaman merambat.


Lampu otomatis meredup begitu mesin mobil dimatikan, ketiga pria itu turun dan bergerak lambat ketika mendekati bangunan bergaya tempo dulu.


Atmosfer di sekitar sana amat membekukan dan sunyi. Kecurigaan menghantarkan kewaspadaan berkali-kali lipat, Robbin memberi kode kepada Johanes dan Berry. Mereka merupakan tim yang solid, sehingga mudah menerima isyarat dari satu sama lain.


Secara naluriah sebagai agen rahasia mereka menyadari mata-mata yang membaur dalam kegelapan.


Bunyi ceklek dan kersik-kersik samar, terdengar cukup tajam di telinga ketiganya, sampai suara tembakan membelah kesunyian. Beruntung timah panas itu berhasil dihindari dan menembus ke dalam tanah hingga permukaan bumi merah kecokelatan itu terlontar ke udara.


Gerak refleks Robbin, Johanes, dan Berry berhasil menyelamatkan diri dari serangan terduga orang yang bersembunyi. Tiga sekawan itu menyebar ke tiga arah yang berbeda.


Dengan bermodalkan cahaya bulan, mereka mengendap-endap menuju bangunan tua. Bayang-bayang tangan bersenjata revolver mengacung ke arah Berry, secara sigap Johanes menerjang orang itu hingga senjatanya terjatuh dari genggaman.


"Aakh!" pekik tertahan terdengar.


Pergulatan sengit antara Johanes dan orang itu terjadi, bogem mentah bersarang di bagian tubuh masing-masing secara berganti. Suara perkelahian keduanya tidak cukup keras untuk di dengar dari jarak jauh.


Sampai Johanes berseru, "Robbin, pergi!"


Namun, seseorang menghadang langkah Robbin, dia memutar bahu serta mengepalkan telapak tangan. Kemudian, mengambil kuda-kuda. Pria plontos bertubuh kekar itu siap untuk menumbangkan lawan.

__ADS_1


"Ayo! Kemari!" titahnya.


Senyum miring tersungging singkat di bibir Robbin, dia tidak biasa bertindak sambil berbicara. Ibarat kata— tong kosong nyaring bunyinya—tidak sedikit pun melekat pada jiwa.


__ADS_2