
Orang yang terlibat kekisruhan telah diringkus oleh aparat setempat, tidak terkecuali Robbin dan Berry. Kedua pria itu belum sempat memeriksa keadaan Clay.
Mereka ditahan di kantor terdekat, guna memenuhi proses penyidikan, sehingga mengetahui sebab musabab perkelahian. Jelas saja tindakan itu membuat Robbin geram, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak selain mengikuti perintah. Pria asal Indonesia itu tidak mungkin mengancam dengan pistol andaikan bisa, tentu dia tidak mau dideportasi.
Para petugas setidaknya mengamankan sepuluh orang termasuk Robbin dan Berry, mereka dibagi dalam beberapa orang di ruang terpisah.
"Kalian tidak bisa menahanku, aku harus menemui istriku, dia masih di sana!" teriak Robbin, tidak terima.
"Tenanglah jagoan, salah satu dari kami ada yang memeriksa ke sana," ujar petugas mengejek, menambah gelombang kemarahan di hati Robbin—hingga bangkit dari duduknya sambil menggebrak meja.
"Kalau sampai terjadi sesuatu kepada istriku, aku bersumpah akan menyatukan kalian dengan tanah!!!"
Pintu kayu ruang interogasi terbuka perlahan, seseorang menyelinap masuk. Keraguan tergambar jelas di wajahnya saat itu.
"Tidak ada orang di mobil, kami hanya menemukan ini." Petugas itu menunjukkan kalung milik Clay yang dimasukkan dalam katung plastik.
Amarah Robbin berkecamuk, dia menyambar baju orang yang ikut terciduk bersamanya. "Brengseekk!! Kuhabisi kau!!" Dia melempar orang itu ke meja ruang interogasi. Furnitur berkualitas buruk tersebut sampai patah terkena hantaman tubuh saking kerasnya.
Lalu apa? Dengan cara apa Robbin menemukan Clay, selama kalung itu masih bersama sang istri tentu mudah untuk menemukannya.
Petugas di sana mengerahkan segala tenaga untuk menandingi kekuatan Robbin. Namun, sia-sia—lantaran suami Clay mengamuk bagai harimau buas—dia menghunjam wajah orang itu dengan geram.
Si pembuatan onar lain hendak membantu, tetapi dengan sigap Berry menarik bagian belakang bajunya. "Jangan macam-macam, kawan!" Dia mengunci leher orang itu dengan lengan.
Bertepatan dengan itu pula, Rocky membuka ruang interogasi. Menarik pundak Robbin dan membanting anak buahnya ke dinding. "Hentikan tindakan gegabahmu!"
"Dia membuatku kehilangan Clay!" Robbin terengah-engah sebab emosi masih menguasai diri. "Karena perbuatan bodoh mereka istriku—"
Perkataan Robbin dihentikan Rocky dengan tamparan keras di pipi. "Simpan tenagamu! Kita akan mencarinya!"
Tidak mempedulikan rasa pening di kepala akibat tamparan, Robbin mengambil kalung Clay yang tergeletak di lantai. Dengan marah meninggalkan ruangan, dia membuka dan menutup pintu begitu keras hingga kaca penyekat bergetar.
"Ber, lepaskan tanganmu!"
Wajah orang yang Berry piting tampak merah dan mengerang kesakitan. Sesuai perintah, dia pun melepaskannya.
"Ikuti Robbin, jangan biarkan dia berbuat ceroboh," ujar Rocky berintonasi pelan, penuh tekanan dan mendapat anggukan kepala dari Berry.
__ADS_1
"Mari, Tuan." Seorang petugas mengajak Rocky memasuki suatu ruangan. Pria paruh baya itu memiliki pengaruh besar di beberapa wilayah sekitar negara bagian, sehingga dapat menjamin kebebasan tanpa syarat untuk para anak buahnya. Pun sejauh ini, dia tidak pernah tercatat dalam kasus kriminal—secara terang-terangan.
"Maaf, karena salah satu anakku terlalu emosional," ucap santai Rocky saat berjabat tangan, usai bernegosiasi.
"Yah, bisa dimaklumi, Tuan. Semoga istrinya cepat ditemukan, kalau tidak keberatan biarkan pihak kami membantu."
Rocky tersenyum ramah. "Terima kasih, itu sangat membantu."
Kemurkaan menyelimuti sorot mata Robbin, dia menatap nyalang ketika Rocky menghampiri. Tanpa rasa hormat diri berdiri di hadapan pria itu. "Sekarang apa? Aku tidak yakin kalau ini murni kericuhan dua kelompok orang bodoh!"
"Masuk mobil!"
Lengan Berry merangkul pundak Robbin lantas menyeretnya agar masuk ke mobil Rocky, sebab kendaraan pria berlesung pipi itu sudah tidak layak digunakan.
"Apa ini rencana para musuhmu, Rocky?" sergah Robbin begitu duduk di dalam mobil. "Aku ingin kembali ke tempat kejadian—sekarang!"
Rocky dengan tenang menyulut cerutu, kebiasaan ketika menghadapi kemarahan anak buah favoritnya yang sedikit tempramental.
Dan, pada saat itu, supirnya paham harus berbuat apa, dia mengarahkan kendaraan ke jalan tempat kerusuhan bermula.
Mendengar kabar mendadak itu Rocky tercenung sejenak—tanpa memberi sanggahan. Dia duduk santai menghadap lurus ke depan. Sampai kapan pun, Robbin tidak akan diizinkan keluar dari agensinya.
Sesudah mobil menepi dan mesin mati, Robbin bergegas turun. Dia meneliti lokasi terakhir kali Berry meninggalkan Clay sendiri. Pecahan kaca berderak ketika terinjak oleh sepatunya. Diulurkan lengan saat menyeberang jalan.
Sebuah kafe yang tidak begitu ramai berada di sana, Robbin masuk ke tempat itu untuk mencari informasi terkait istrinya. "Maaf, Tuan, apa Anda melihat wanita ini atau seseorang telah membawanya pergi tepat saat kekacauan di sini berlangsung?"
Pria berperawakan tinggi kurus berjanggut itu memperhatikan foto dari ponsel Robbin. "Sayang sekali, saya tidak tau, tetapi kamera CCTV di sini kemungkinan tidak melewatkan kejadian apa pun."
"Bagus." Rasa putus asa di hati Robbin mulai pupus, dia mengikuti pemilik kafe penuh semangat.
Di balik meja kasir dan punggung pemilik toko, Robbin mencermati monitor yang menampilkan kejadian 24 jam lalu. Jemarinya mengepal saat melihat seorang menghampiri mobil Berry—kaca sampai dipecahkan—istrinya ditarik paksa juga mendapatkan pukulan di tengkuk hingga pingsan.
"Sial!" Robbin mengusap wajah kasar.
"Heh, ada yang menyelamatkan wanita itu," seru pemilik toko.
Robbin nyaris tidak berkedip ketika mengawasi monitor. Memang benar ada yang membopong tubuh terkulai Clay. "Tuan, tolong putar ulang dalam gerakan lambat."
__ADS_1
"Tentu saja," sahutnya.
Pria yang menyembunyikan wajah di bawah topi dan kaca mata itu tidak menoleh sekitar saat memasukkan Clay ke mobil.
"Apa dia temanmu?"
Robbin terdiam lama, mengamati detail fisik pria bertopi itu. Namun, sesuatu mengingatkan dirinya kepada seseorang. "Putar sekali lagi, Tuan," gumam Robbin.
Dengan kesabaran ekstra pemilik toko memutar videonya sekali lagi, hingga dikejutkan geraman Robbin.
"Tidak salah lagi, terima kasih, Tuan," ucap Robbin.
"Semoga keberuntungan berpihak kepadamu!" seru pria kurus berjanggut.
Robbin melangkah dengan pasti, rahang bersikunya mengeras. Dia berlari menuju mobil Rocky.
"Gimana?" tanya Berry, mengikuti Robbin sampai duduk di sebelahnya.
"Ingat pemilik mobil sewaan?"
"Orang yang sama?"
Robbin mengangguk. "Jeremy."
Kedua pemuda itu tidak menyadari perubahan raut wajah Rocky. Pria berdarah Belanda itu mengubah posisi duduknya karena terkesiap, sampai—
"Rocky aku butuh seseorang yang bisa melacak identitas asli orang ini," desak Robbin. "Heh Rocky!" panggilnya menyadari tidak dihiraukan.
"Bukan masalah." Meski terkejut, Rocky mempertahankan suara agar tetap tenang. "Ada fotonya?"
"Ada, sebentar." Robbin mengeluarkan ponsel, lalu mengirim video ke nomor bosnya.
Secara tidak sadar, Berry pun merasa lega karena telah menemukan jalan keluar untuk masalah ini.
Menit berikutnya ponsel Rocky berdering, pesan masuk melalui aplikasi berbasis internet. "Kukirimkan alamatnya ke ponselmu."
"Trims," ucap Robbin.
__ADS_1