
Seperti yang sudah dijanjikan tiga hari lalu, Clay berupaya menjadi istri sejati. Membuatkan kopi pada pagi hari juga menyiapkan roti panggang isi selai.
Faktanya, Clay selalu gagal memenuhi selera Robbin, kopi yang disajikan terkadang terlalu kental atau terlalu encer. Entah mengapa rasanya sulit mengerjakan hal semacam itu.
Persis seperti pagi ini, Robbin menjulurkan lidah ketika mencicipi kopinya. "Rasanya seperti lumpur," cemooh pria itu tanpa menutup-nutupi dan sukses membuat Clay mendengus sebal.
"Kenapa harus kopi racikan, sih? Yang instan lebih konsisten rasanya," bela Clay.
"Kalau tidak sanggup boleh banget angkat tangan." Robbin berdiri untuk merebus air, mengambil stoples berisi bubuk kopi hitam murni dan cangkir kosong. Pria itu tampak akrab dengan segala hal tentang dapur.
Clay mengamati aktivitas Robbin tanpa berkedip, dia tidak mau melewatkan detail sekecil apa pun. Dengan tatapan kagum Clay melihat suaminya menyeduh air mendidih ke dalam cangkir yang sudah di isi bubuk kopi lantas memasukkan dua buah gula berbentuk kubus. Tidak ada yang berbeda, persis seperti itu yang dia kerjakan tadi, tetapi tunggu, suaminya masih mengaduk air hitam pekat itu.
Lalu, nah, ini dia bagian yang terlewat, Robbin mengambil semacam penyaringan. Dia menuang air kopi ke cangkir satu lagi. Suara gemercik air membentur dasar cangkir.
Oh, ya, ampun. Pantas kopiku dibilang seperti lumpur, orang Kak Robbin tidak bilang ampasnya minta disaring, batin Clay, masam.
"Kak Robbin curang!" sungut Clay sambil melenggang ke arah mesin pemanggang dan mengambil roti yang mencuat, dia mengoleskan selai apel di masing-masing sisi lantas menumpuknya.
"Apa?" Robbin melirik Clay dari balik bahu.
"Kenapa tidak bilang maunya gitu?" Clay meletakkan sepiring roti panggang di hadapan Robbin.
Robbin tidak menimpali, dia hanya mengedikkan bahu sambil duduk, lantas menyeruput kopinya sedikit, setelah itu memakan roti buatan Clay.
"7, untuk roti yang kamu buat hari ini," kata Robbin sambil mengingat Clay telah menghanguskan seluruh roti yang ada kemarin untuk sarapan, sehingga harus membeli lagi sebagai persedian untuk hari ini dan esok.
Mata bulat Clay berbinar ceria, dia mengulas senyum penuh kepuasan. Lalu, melingkarkan kedua lengan pada Robbin hingga pria itu tidak bisa melanjutkan kegiatan makannya sebab terkunci di dalam rangkul sang istri.
"Bisa lepaskan sekarang?"
"Ya, maaf, nilai rotinya cukup membayar atas kopi itu." Clay berujar sambil lalu menuju lemari pendingin lantas mengeluarkan buah stroberi, "Kak Robbin mau dikupasin apel?"
"Hari ini aku mau buah kiwi aja."
__ADS_1
Mendengar kata 'kiwi' membuat Clay bergidik, dia mengerti bahwa Robbin saat ini tengah menggodanya. Pria itu tahu kalau dirinya memiliki ketakutan berlebihan terhadap buah cokelat berbulu itu. Clay sendiri tidak ingat pasti sejak kapan. Yang jelas, dia geli.
Robbin mengulum senyum saat melihat raut kecemasan tercetak jelas di wajah Clay. "Ada, kan?" tanyanya.
"Cari aja sendiri!" sembur Clay masam lantas mencuci stroberi di bawah air mengalir. "Kita tidak pernah belanja itu ingat?"
"Masa?" Alis Robbin bertautan, kemudian beranjak dari duduk mengarah ke lemari pendingin. Dia mengeluarkan sesuatu dari sana. "Mari kita lihat, nah, ini ia. Untung aku membelinya kemarin."
Bibir ranum Clay cemberut seraya melipat tangan di depan perut, dia menyadarkan diri ke pinggir meja marmer sembari berujar, "Kak Robbin, jauhkan itu atau—" Kedua lututnya terasa lemas saat ini, dia hanya sanggup bergeser satu langkah dari tempatnya.
"Ini hanya telur." Robbin memperlihatkan sesuatu yang dibawa. "Hari ini aku lapar sekali, tolong beri aku selembar keju dan roti tambahan." Tangannya terulur saat mengambil wajan lalu menyalakan kompor listrik.
Clay pun mengambil apa yang diminta Robbin, kemudian memasukkan selembar roti ke dalam mesin lagi. "Kak Robbin, hari ini aku mau berbelanja."
Dahi Robbin berkedut, memang tidak seharusnya dia mengurung Clay di rumah. "Aku akan mengantarmu."
"Kuharap tidak mengganggu waktu kerjamu."
Robbin melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. "Kamu benar, ada hal penting yang harus kukerjakan."
Setelah menghabiskan roti lapis kedua, Robbin berangkat kerja, sedangkan Clay membersihkan meja dan perkakas yang kotor.
Begitu selesai membersihkan rumah Clay bersiap-siap, dia mengenakan pakaian agak tebal, pada musim gugur udara sekitar sama seperti memasuki musim dingin. Andai salju turun prematur, tentu menambah kesenangan tersendiri bagi Clay. Dan, tepatnya itu akan terjadi pada bulan Desember-Januari.
Clay memesan taksi, dia minta diantara ke tempat perbelanjaan. Dari sana berlanjut ke taman, dia duduk-duduk sendiri sambil mengamati suasana.
Di barat daya, terlihat dua remaja laki-laki bermain bola, pada sisi yang lain tampak ibu muda mendorong kereta bayi, dan jarak lima meter Clay melihat pasangan muda bercengkrama riang.
Pada jam-jam sibuk seperti sekarang taman sedikit sepi, Clay terlihat mengeluarkan minuman dari kantong belanjaan. Dia menarik bagian atas kaleng untuk membukanya.
Sebelum sempat minum, Clay merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Dia pun menunduk, guk, begitu sapa hewan berbulu serupa tembaga itu.
"Hai, manis," ucap Clay sembari menggaruk bagian belakang telinga anjing itu. Karena merasa nyaman, ia duduk tenang sambil mengibaskan ekornya ke kiri-kanan, mata hitam gelapnya berkilat-kilat.
__ADS_1
"Wolfe!" Setengah berlari seseorang mendekat ke arah Clay. "Maaf, Wolfe biasanya tidak begini terhadap orang baru."
"Tidak masalah, Wolfe anjing yang manis," sahut Clay dengan seulas senyum, jemari lentiknya masih menikmati kelembutan bulu Wolfe.
Pemilik anjing itu memperhatikan Clay dengan seksama, mungkin baru menyadari perbedaan ras mereka.
"Jeremy." Pria bermata biru itu mengulurkan tangan.
"Clay. Maaf, aku harus segera pergi," pamit Clay, menyambar kantong belanjaan dan bergegas meninggalkan orang asing itu.
Tanpa menoleh pun Clay tahu kalau Jeremy menatap ke arahnya. Dia tidak peduli dan melenggang santai menjauhi tempat itu.
Dari kejauhan, sepasang mata mengawasi dengan nyalang. Betapa pun Robbin berusaha membuatmu jarak dengan Clay rasanya mustahil, dia benar-benar gusar melihat istrinya berjabat tangan dengan pria lain.
Dan, Clay tidak menyadari keberadaan Robbin saat ini, dia tampak memberhentikan taksi, tetapi sudah tiga kali ditolak. Sampai sebuah mobil berhenti di sebelahnya.
"Butuh tumpangan?" Jeremy menurunkan kaca mobil.
"Tidak terima kasih," tolak Clay sesopan mungkin.
Namun, Jeremy tidak pantang menyerah dia turun dari mobilnya. Dan....
Suara keras klakson membuat Clay berjingkat, sedangkan Jeremy mendekati mobil itu.
"Hai, apa masalahmu?" tanya Jeremy sedikit arogan.
Pintu mobil terbuka. "Dia ada yang jemput," kata Robbin, seolah-olah menegaskan bahwa wanita itu milikku.
"Oh." Jeremy mengangkat tangan, lantas pergi dari sana bersama anjing yang tampak mengintip dari jendela di kursi belakang.
Robbin juga berjalan ke arah mobil dan masuk ke sana disusul istrinya. "Kenapa tidak telepon?"
"Aku hanya tidak ingin mengganggu waktu kerjamu," sahut Clay, sambil memasang sabuk pengaman.
__ADS_1