Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 42: Tak Sanggup Lagi


__ADS_3

Dua hari sepulang dari rumah sakit, Robbin mengemas pakaian Clay ke dalam koper. Hati wanita itu langsung menciut melihat pemandangan yang menyesakkan. Ucapan suaminya kala itu tidak main-main.


Clay menunduk dalam, mata bulatnya menekuni kuku-kuku kaki yang bercat merah hati, dia menegur lirih, "Kak Robbin?"


"Heemm," sahut Robbin, kepalanya menoleh sekilas kemudian melanjutkan aktivitas yang terjeda dua detik.


"Tidak bisakah kepulangan ku diundur beberapa hari?"


"Sudah dijadwalkan, My Angel." Robbin berhenti, lalu duduk di ujung tempat tidur. Menatap lekat-lekat wanita cantik yang sedang berdiri di ambang pintu.


Kekecewaan melingkupi wajah Clay saat ini, jelas sorot matanya tampak mendung. Air yang menggenang di pelupuk mata siap jatuh kapan saja. "Tidak berperasaan!"


"Memang."


Clay menggerang, memutar bola matanya jengah. Kapan Robbin bisa mengerti kalau dirinya tidak mau jauh-jauhan? Kaki jenjangnya mengentak-entak ketika mendekati suaminya, sambil mencebikkan bibir. Air matanya diseka cepat sebelum betul-betul jatuh.


"Aku. Tidak. Akan. Beranjak. Dari. Sini!" ujar Clay penuh penekan di setiap kata lantas melipat tangan di depan perut.


"Tidak sulit membopongmu sampai airport." Sekali lagi kepalanya menoleh dan menegakkan punggung, sudut bibir Robbin naik ke atas membentuk senyum lebar sampai barisan gigi putihnya kelihatan.


Setelah itu, Robbin berbalik badan untuk menutup koper dan menariknya ke sisi tempat tidur. Dia duduk sembari mencondongkan tubuh proporsionalnya ke belakang dengan bertumpu pada kedua lengan.


"Jadilah gadis penurut yang manis," ucap Robbin sambil mengedipkan mata.


"Aku sesak, separuh napasku bersamamu, lalu gimana bisa kita berjauhan untuk waktu yang tidak bisa Kak Robbin tentukan?" rajuk Clay.


Robbin hampir terguling ketika tiba-tiba Clay berhambur ke atas pangkuannya. Salah satu lengan ramping istrinya disampirkan di pundak, menyusupkan jari jemari ke dalam rambutnya.


Dan, Jari-jari Clay yang lain menyingkirkan helai rambut Robbin yang menutupi kening, kedua mata mereka saling tatap cukup lama. Merasakan sensasi menggelitik ketika jemari lentik itu akhirnya bergerak perlahan mengikuti kontur wajah.


"Aku tersiksa jauh darimu, sejak saat aku mengenalmu." Ucapan Clay terdengar seperti gumaman penuh goda.

__ADS_1


Jantung Robbin berpacu lebih cepat, hatinya telah berubah menjadi puding saat ini. Dari jarak yang begitu dekat, dia dapat mencium aroma parfum Clay yang memabukkan. Udara sekitar membuat tubuhnya panas, dengan napas tercekat begini dia tidak sanggup memenuhi kebutuhan paru-paru.


Gerak laku Clay yang berani seakan-akan menantang kepekaan diri Robbin, dia pun mendorong lembut bahu kiri istrinya ke tempat tidur. "Dapat pelajaran seperti ini dari mana?"


Clay membulatkan mata, pipinya bersemu merasa. "Naluriah, bahkan sambil menutup mata pun bisa."


"Benarkah?" Robbin tergelak, lantas melingkarkan lengan kanan ke perut datar Clay dan lengan satu lagi bertumpu untuk menjaga keseimbangan. Supaya tidak menindih tubuh sang istri sepenuhnya.


Tanpa Robbin ketahui, badan berotot dan kuatnya melemahkan seluruh jaringan tubuh Clay. Dengan lembut, dia gerakan jari telunjuk mengangkat dagu wanita itu supaya bisa melihat ke dalam hati melalui mata. Lalu, ibu jarinya mengusap bibir ranum sang istri, mengundang getar dalam jiwa yang terkekang begitu lama.


"Claymira," bisik Robbin dengan suara serak di telinga istrinya, bibirnya menelusuri pelipis hingga pipi. Tanpa menunggu persetujuan, mempertemukan kedua bibir, hingga melebur menjadi satu, indra perasaannya mendesak agar membuka.


Penyaluran emosi itu lama, dalam, dan benar-benar ... Robbin bertanya-tanya, seberapa sering Clay melakukan ini? Dia merasakan istrinya bergetar di bawah tubuhnya. Dan, membuatnya semakin gemas dan geram.


Robbin mengerang pelan, setiap kali sedekat ini Clay tampak gugup dan mengapa rasanya berbeda ketika wanitanya mendekat lebih dahulu. Seolah-olah sudah terbiasa dekat dengan seorang pria, petualangan cinta yang tidak perlu diragukan lagi soal kemampuan sensualnya.


Namun, tatkala mengingat kedekatan mereka akhir-akhir ini, Robbin menyadari kecanggungan Clay, seperti baru pertama atau belum terbiasa seintim ini dengan seorang pria.


"Oh, Kak Robbin."


Sentuh Robbin yang semula tanpa tuntutan kini memanas, Clay mengerang ketika menyebutkan namanya, setelah sabar menunggu suara kecil berselimut hasrat terpendam itu keluar, dia memeluk pinggul ramping sang istri sepenuhnya. Selagi tangan satunya bergerak pelan di sekitar punggung bawah, telapak tangan lainnya meremas setiap helai rambut tebal istrinya.


"Aku tak sanggup lagi menunggu," gumam Robbin sebelum bibirnya menyusup lebih dalam lagi.


Seluruh indra keduanya menegang bersamaan, lengan kiri Clay melingkar untuk memeluk pinggang, sedangkan lengan kanannya berada di pundak datar Robbin. Saling mengeratkan rengkuhan.


Clay terbuai oleh sentuh Robbin, mata bulatnya hendak terpejam untuk menikmati bibir suaminya yang kelaparan.


Namun, erangan Robbin berhasil menghentikan itu. "Jangan tutup matamu, aku ingin melihat api berkobar di sana."


Robbin memberi gigitan-gigitan kecil, memainkannya dengan sangat lembut, dia semakin bersemangat ketika mata Clay berbinar. Melahap keduanya dengan rakus, perlahan ditariknya lengan yang melingkar. Mencari-cari kancing kemeja istrinya tanpa berniat melepaskan bibirnya.

__ADS_1


Jari jemari bergerak pelan bukan karena tidak bersemangat, justru kelembutan inilah bukti dari ketidaksabaran untuk menyalurkan kebutuhan batin. Menciptakan momen indah yang nantinya terus melekat di dalam benak hingga maut memisahkan.


Robbin memulai dari paling bawah, satu kancing terlepas, dua, tiga ...


"Sial!" umpat Robbin, mendengar alram berbunyi nyaring sekali. Mengingatkan bahwa pesawat Clay akan terbang tiga jam lagi. Dia bergegas bangun, mengabaikan denyut menyiksa di antara pangkal pahanya.


Clay masih mengerjap-ngerjap begitu polosnya. "Kenapa?"


"Bersiaplah, kita berangkat sekarang."


"Ah, tidak mau," rengek Clay sambil tengkurap. Kedua kaki jenjang yang menggantung di pinggir tempat tidur dihentak-hentakkan.


Robbin menggerang frustrasi, dia tidak boleh egois. Kalau aktivitas membangkitkan adrenalin ini dilanjutkan bisa berabe urusan.


Keputusan kali ini sudah tepat, Clay lebih aman tinggal di Jakarta bersama keluarganya. "Ayo, kita bisa terlambat nanti."


"No!!!" Karena sedang tengkurap teriakan Clay terdengar lirih.


Kepala Robbin menggeleng, lalu menggigit bibir bagian bawah. Gemas melihat tingkah lalu istrinya. Tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya jauh dengan Clay setelah hari ini. Dia menepuk gemas bagian belakang tubuh di bawah pinggul istrinya. "Bangun!"


Clay pun menyerah dan berbalik badan, lalu duduk merapikan tiga kacing yang dilepas Robbin tadi. "Kak Robbin cuma mengantarku sampai bandara aja?"


"Ya, maafkan aku."


"Jahat, jahat sekali!" dengus Clay, dia beranjak dari duduknya lantas menghampiri cermin besar berbentuk oval setinggi dua meter. Mengamati pantulan dirinya dicermi. Ada semburat kemerahan pada kedua pipi, dia teringat akan sentuhan Robbin sesaat lalu. "Aku terlupa untuk meluruskan rambut."


"Biarkan seperti itu," kata Robbin sembari mendekati Clay. Melingkarkan kedua lengan pada pinggul, dagunya bertumpu di atas pucuk kepala istrinya. "Aku lebih suka rambut gelombangmu."


"Ini seperti singa," gerutu Clay.


Robbin melepaskan salah satu lengannya lantas menyisir rambut Clay dengan jari-jari. "Siapa bilang? Kamu cantik apa adanya," katanya sembari menundukkan kepala, menghirup wangi di ceruk leher sang istri.

__ADS_1


__ADS_2