Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 29: Cukup Membakar Hati


__ADS_3

Bibir ranum Clay tersenyum geli, ini kali pertama melihat kegugupan di wajah mempesona Robbin. Dia tidak yakin benar, tetapi hatinya bisa merasakan itu. Pria itu bergegas keluar dari mobil setelah membantunya melepas pengait sabuk pengaman dan kini tengan berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu.


Telapak tangan besar Robbin terulur, Clay pun menautkan jemari lentiknya di antara sela-sela jari. Clay terhenyak begitu sang suami menggenggam mantap, seolah-olah ingin menujukkan kepada dunia kepemilikan atas dirinya. Gelenyar hangat seketika menjalari pembuluh darahnya, kebahagiaan meletup-letup tidak terkira. Dan, dia teramat menyukainya sampai tidak bisa berkata-kata. Hanya senyum manis yang terlukis di bibir.


Kedua tangan yang saling menggenggam itu berayun ringan, mereka mengarah ke pub beruansa klasik yang cukup ramai. Karena sekarang bukan hari Jumat dan Sabtu, hiburan semacam musik live tidak ada.


Clay dan Robbin memilih tempat di dalam ruangan. Mereka menempati kursi di lantai dua pub tersebut, tidak berselang lama seporsi es krim cokelat dan segelas merlot diantarkan oleh pramusaji.


"Mau makanan ringan?"


"Masih kenyang," tolak Clay lembut.


Robbin menangkup telapak tangan Clay yang ada di atas meja lantas membelainya. Sampai suara telepon memaksa berhenti, dia membuka pesan yang masuk.


Orang yang ingin bertemu dengan Robbin ada di luar ruangan. Dia harus meninggalkan Clay sebentar. Dirinya tidak mau terlihat bersama sang istri, sebab terlalu beresiko.


"Jangan ke mana-mana, mengerti!" pesan Robbin sebelum pergi.


"Oke," sahut Clay, lengan kokoh Robbin menariknya lebih dekat lantas memberi kecupan singkat di pelipis.


Clay mengamati langkah tegas Robbin yang semakin lama semakin menjauh. Bahkan dari belakang, pesona sang suami tak terelakkan. Mengagumkan, seanggun gerakan macan kumbang.


Sambil menunggu Robbin kembali, Clay menggunakan waktu luangnya bermain game. Sesekali, dia memperhatikan sekitar. Meja di sudut tangga diisi, seorang berambut pirang yang sedang duduk santai sambil membaca majalah.


Clay juga menelisik setiap detail arsitektur pub itu, pada salah satu tembok terdapat berbagai jenis kupu-kupu herbarium yang dibingkai dengan begitu cantik. Mungkin ada lebih dari dua puluh jenis di sana.


Lima belas menit berlalu, Clay mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dia perlu ke toilet untuk buang air kecil sebelum Robbin datang.


Usai dari kamar kecil Clay bergegas, kaki jenjangnya terhenti ketika tiba di tempat yang sesaat lalu dia duduki. Tubuhnya menggigil seketika, orang yang beberapa hari ini tidak ingin ditemui ada di depan mata. Pria itu duduk santai sambil menyilangkan kaki, lalu berdiri begitu menyadari keberadaan Clay.

__ADS_1


Tanpa berpikir lama Clay putar haluan, dia tidak mau lagi berhubungan dengan orang itu. Namun, dengan tangkas pergelangan tangannya dicengkeram dan ditarik paksa keluar dari pub.


"Clay, stop menjauh dan takut sama aku," katanya dengan nada lembut seperti biasa. "Aku bisa nekat kalau kamu bersikap seperti ini."


"Han, kumohon mengerti dan pergi dari hidupku. Beri aku tenangan!" Clay mengiba, iris matanya tampak sendu.


Hanes mengusap wajah kasar, mendongak sebentar lantas menangkup wajah Clay dengan kedua telapak tangan. Dia menatap lekat-lekat raut masygul sang teman. "Mudah sekali kamu memutuskan hubungan yang sudah terjalin di seumur hidup kita, Clay. Hanya untuk si pengawal sialan itu!"


"Tutup mulutmu!"


"Lihat dirimu," dengus Hanes seraya melepaskan kedua telapak tangan dari pipi lembut wanita itu. "Bahkan kepribadian lembutmu berubah. Kamu menjadi gadis yang kasar."


"Kamu yang berubah, Han! Bukan aku!" Clay membuang muka, dia menutup mata selama dua detik untuk menetralkan hati yang bergolak. "Sikap kasarmu akhir-akhri ini membuatku takut. Kamu tidak terkontrol. Aku sudah bersuami. Setelah menikah hubungan kita seharusnya diberi batasan."


"Persetan! Aku tidak peduli, dengar!" bentak Hanes, dia meraih kedua pergelangan tangan Clay, "Ayah dan Daddy Albert tidak akan senang mendengar kita bermusuhan."


"Oh, ayolah, Han. Aku tidak memusuhimu sama sekali." Clay menunduk dalam, sebelum menantang sorot mata tajam Hanes. Dia hempas kuat jemari yang mencengkeram pergelangan tangan. "Sebelum kamu melewati batas. Kamu hampir—Oh, astaga. Andai waktu itu—"


Clah menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Dia jengah dengan semua yang terjadi diluar kendali akhir-akhir ini. Kesalahan waktu itu menyeretnya sampai sejauh ini. Memang benar waktu itu dia seperti istri yang haus akan belaian suami.


Clay mengerang sebelum mengupat lirih. Dia tidak mau berada sedekat ini dengan Hanes. Dia takut Robbin melihatnya di sini. "Salah paham. Anggap saja tidak pernah terjadi, ingat? Itu katamu!"


Hanes tersenyum miring. Tidak, dia menolak melupakan kecelakan manis itu. "Tidak gampang! Lihat apa yang akan Robbin perbuat ketika mengetahui apa yang sudah kita lakukan."


"Kamu mengancamku?" Clay semakin geram, ini tidak boleh dibiarkan. Cukup sudah membiarkan Hanes menindasnya, dia tidak boleh terlihat lemah. "Salah besar kalau kamu menganggap aku takut! Sekarang, pergi! Temui Kak Robbin, dia lebih percaya kepadaku ketimbang dirimu!"


"Kamu yakin?" Hanes menatap tajam wanita cantik yang sejak dulu dirinya puja. Dia harus mendapatkan apa yang dimau dalam hidup ini. Tanpa terkecuali.


Dengan kedua lengan terlipat di depan perut, Clay membalas gertakan yang terkandung dalam sorot mata Hanes. "Ya, ayo, tunggu apalagi?" Meski hati cenat-cenut, dia mempertahaankan suara tetap tenang.

__ADS_1


"Oke, tunggu sampai suamimu menemukan kita di sini."


OMG, bantu aku Tuhan, batin Clay, setiap detik yang bergulir begitu menegangkan. Dia tidak bisa menemukan sanggahan yang pas untuk pertanyaan Robbin nanti.


Dering ponsel terdengar, Clay dan Hanes saling tatap sesaat sampai satu di antaranya menerima panggilan yang masuk.


"Halo, oh, sial! Oke aku ke sana sekarang!" umpat Hanes lantas memasukkan ponsel ke sela celana jins-nya. "Urusan kita belum selesai," katanya lalu mengusap pipi Clay lembut.


Begitu Hanes pergi Clay bernapas lega, dia bersyukur detik-detik paling mendebarkan terlewat.


"Clay, ayo, pulang!" Suara dalam dan berat menegaskan, Robbin sudah berdiri di belakangnya dengan jarak satu meter.


"Sudah?" tanya Clay, gugup.


Pria itu tidak menanggapi, membuat perut melilit, kepala, hati, dan jantung Clay berdenyut-denyut tidak menentu. Apa yang bisa dia harapkan? Robbin tidak mendengar semua pembicaraannya dengan Hanes? Mustahil.


Robbin mengambil langkah panjang menuju parkiran, dia tidak mengurangi kecepatan meski Clay tertinggal dua langkah.


"Kak Robbin," tegur Clay setelah duduk tenang di dalam mobil.


Robbin diam saja, dia terlihat memasukkan sesuatu ke dalam dasbor.


"Kak Ro—"


"Diamlah!" bentak Robbin, membuat tubuh Clay berjingkat. Wanita itu terlihat memegang dada. "Maaf," sesalnya kemudian menyadari emosi kekecewaan membuncah, dia pun memperhatikan ketegangan di raut wajah sang istri.


Pembicaraan Hanes dan Clay memang tidak ada yang masuk ke indra pendengarannya, tetapi dengan melihat kedekatan mereka saja sudah cukup membakar hati Robbin.


"Tidak apa-apa," sahut Clay lembut, lebih tepatnya gugup.

__ADS_1


"Apa kamu ingin membeli sesuatu sebelum pulang?" tawar Robbin, dengan intonasi yang begitu kaku.


"Kita sudah membeli semua tadi."


__ADS_2