
Sulur anak rambut menempel di sekitar pelipis dan dahi Clay yang basah oleh keringat. Robbin mencengkeram bahu wanita itu, kemudian mengusap penuh kasih.
"Yuk, makan dulu," ucap Robbin, dia menatap sorot mata sedih sang istri. "Perut kosong, selain membuat lapar juga menjadikan pikiran tidak karuan."
Bahkan perkataan Robbin tidak membuat Clay bereaksi, bibir wanita itu seolah-olah terpasang selotip. Dia yang senantiasa tersenyum hangat tampak sesuram langit kelabu.
Robbin menaikkan sebelah kakinya ke atas tempat tidur, menghadap tepat di depan wajah muram sang istri. "Lihat aku!"
Clay mendongak, kedua telapak tangan Robbin menangkup masing-masing pipi yang lembap dan dingin. Pria itu menempelkan keningnya, ujung hidung mereka juga bertemu. Embusan napas si suami terasa begitu hangat dan segar.
"Berhenti mencemaskan sesuatu yang tidak pasti. Nyatanya aku masih di sini dan baik-baik saja," tegas Robbin, berusaha menyalurkan energi positif. Dia memiringkan kepala, mengecup bibir Clay singkat lalu menjauh. Menciptakan jarak tiga puluh senti. "Well, kita bisa makan di kamar. Tunggu, aku akan kembali."
Robbin hendak berlalu, tetapi jemari dingin Clay meraih pergelangan tangannya sembari berkata, "Tidak, sebaiknya makan di dapur saja."
"Baiklah, jangan lama-lama." Robbin tersenyum dan meninggalkan kamar setelah mengusap ringan pucuk kepala Clay.
Bahu Clay merosot begitu punggung lebar pria itu menghilang di balik pintu, dalam sekali kerjap air mata kembali mengaliri pipi. Bantal di samping kiri diraihnya, dia membenamkan wajah di sana hingga dikejutkan suara dering telepon genggam.
Mata redupnya mengamati layar bertuliskan sebuah nama, telapak tangan ramping Clay menghapus bekas air mata. Dia menghirup napas lebih dalam sebelum menerima panggilan.
Clay menyentuh gambar gagang telepon di ponsel. "Hai, Dad." Dia menyapa dengan suara serak dan mendengarkan ucapan di seberang sana.
Begitu ada jeda, dirinya menyahuti, "Tidak, aku hanya mimpi buruk." Clay menenangkan sang ayah yang terdengar amat cemas. "Astaga, Dad, aku bahagia di sini, sungguh. Kak Robbin baik kepadaku."
__ADS_1
Meski sudah dijelaskan, Albert masih tidak percaya. Clay yang mendengar segala tutur kata sang ayah hanya menggeleng pelan. Dia tahu cinta pertama dalam hidupnya itu tidak sampai hati kalau melihatnya menderita.
"Ya, ini tidak seperti yang Daddy pikirkan, dia menyayangiku." Clay menghela napas seraya bertanya, "Sekarang, apa yang membuat Daddy meneleponku?"
Ya, Tuhan. Salah lagi, batin Clay. Dia mendengar omelan sepanjang rel kereta api, tanpa minat menyela. "Oh, ayolah, Dad, tentu saja aku kangen kalian."
Clay beranjak dari duduk lantas mendekati meja rias, iris matanya tampak merah dan kelompok mata membengkak. Dia memasang telinga lebar-lebar, kedua sudut bibir tertarik ke atas. Mata redupnya berbinar bak mentari yang datang setelah hujan mendera.
"Syukurlah, aku bahagia mendengarnya. Sebab sembilan hari yang lalu Kak Robbin bertanya mengenai kabar mereka. Terima kasih Daddy telah memenuhi permintaan ku." Telepon masih menempel di telinga selagi Clay berjalan ke kamar mandi, hingga sang ayah mengakhiri perbincangan.
"Oke, I love you, Dad. Salam untuk Mommy dan keluarga di sana, maaf karena jarang sekali memberi kabar," ucap Clay begitu mendapat kesempatan bicara.
"Bye bye." Sambungan telepon pun terputus.
...***...
Tepat di salah satu lorong rumah sakit tampak seorang pria paruh baya tengah selesai menjalani pengobatan saraf. Dia diapit oleh dua orang perempuan—paruh baya dan muda. Meski senyum tidak tersungging, wajah ketiganya terlihat berseri. Roman kelegaan tergambar jelas.
"Terima kasih, Pak Albert," ucapnya tulus, begitu bertemu orang yang membawanya kemari.
"Ini tidaklah benar, Pak, Anda di sini bukan karena saya. Sebab yang menanggung semua biaya berobat tidak lain adalah putra Anda sendiri," terang Albert.
Terapi yang dilakukan selama beberapa bulan ini membuahkan hasil, pria paruh baya itu sudah bisa berjalan meski agak terseret-seret. Dan, kini mereka bermaksud keluar dari bangunan bertingkat yang menguarkan aroma khas obat-obatan dan disinfektan.
__ADS_1
Albert terlihat memikirkan sesuatu, dia berjalan perlahan mengimbangi orang di sebelahnya dengan kedua tangan saling bertautan di belakang badan.
"Begini, Pak, tolong pertimbangkan kembali keinginan Anda untuk segera kembali ke Indonesia," kata Albert kemudian.
Walaupun tidak menoleh, Albert tahu pria di sampingnya itu tampak terkejut. Memang senyaman-nyamannya negeri orang lebih nyaman negeri sendiri.
"Ini hanya sekadar saran saja, Pak, kalau Anda tidak keberatan," imbuh Albert lagi. Alih-alih berkata jujur, Dia justru melemparkan umpan terbungkus pilihan kepada lawan bicara. Dirinya tahu, dengan begini pria itu akan bimbingan dan bisa jadi mengurungkan niat. Dirinya tidak mungkin mengambil resiko lebih banyak lagi. Setidaknya, kedua orang tua Monica aman di sini.
"Sejujurnya tinggal di sini memudahkan saya dan istri, karena jarak dengan rumah sakit begitu dekat, tetapi saya memiliki kewajiban untuk menjaga Monica."
Albert melirik gadis yang disebutkan dari balik bahu. "Kalau masalah itu, saya jamin dia aman. Bukan begitu, Ica?" papar Albert berakhir tanya.
"Ya, Ayah, Pak Albert selalu memastikan semua aman," ungkap Monica, sebagian disambung dalam hati terlalu aman malah, sampai aku tidak bisa ke mana-mana selain bersekolah. Kalau mau keluar dari rumah pun selalu ada yang mengekor, aku bukannya tidak suka, tetapi itu terlalu berlebihan—seperti presiden yang butuh pengawalan ketika blusukan.
"Anda dengar sendiri, 'kan, Pak?" Albert membusungkan dada, merasa bangga atas tindakan yang dia rasa benar. "Monica sudah saya anggap seperti putri sendiri. Mengingat putri saya satu-satunya ikut suami." Kenangannya nyaris meneteskan air mata kerinduan.
"Saya mengerti, tetapi apa tidak terlalu merepotkan?"
Albert menoleh sebentar lalu berujar, "Tidak sama sekali."
"Terima kasih sekali lagi, keluarga saya berhutang budi kepada Anda," ucap pria di samping Albert. Dia tidak tahu dari mana datangnya Albert, yang dia tahu hanyalah pesan singkat dari sang putra melalui situs jejaring sosial milik sang putri. Anak sulungnya itu berkata, akan ada orang yang menggantikannya sementara dia bekerja ke luar kota, seperti yang sudah-sudah memang selalu begitu.
"Tidak ada hitung utang budi dalam keluarga," sahut Albert, "Mari saya antar."
__ADS_1
Tanpa terasa perbincangan berlangsung sampai lobi, di depan sudah menanti mobil putih mengkilap dengan pintu geser. Ruangan di dalamnya begitu lenggang hingga kaki bisa selonjoran.
Keempat orang itu masuk satu per satu. Monica dan ibunya telah terlelap di kursi belakang, sedangkan dua lainnya masih bercakap-cakap; mulai dari membahas bola, bisnis, politik, dan seputar masa kecil anak masing-masing. Kehangatan keluarga begitu kental terasa.