Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 53: Tidak Adil


__ADS_3

Jauh di kedalaman hutan terdapat pondok bekas peternakan burung dara. Meski tidak lagi digunakan, binatang bersayap itu sering datang—seorang pria duduk santai sambil menikmati secangkir kopi. Dua-tiga batang rokok telah habis disesap, dia memasang teropong menghadap ke sisi barat sekitar satu jam lalu.


Melalui alat untuk mengamati dari jarak jauh orang itu mengawasi pergerakan Berry dan Clay ketika duduk-duduk di tepi danau. Dia tahu bahwa laki-laki yang bersama Clay bukan suaminya, Robbin meninggalkan teman serta istrinya sekitar setengah jam lalu.


"Halo, ya, aku tidak mengenal laki-laki yang sedang bersama Clay, tetapi bukan masalah," terang pria itu kepada seseorang di seberang telepon.


Karena perlu membereskan alat-alat teropongnya, si pria menggunakan pengeras suara.


"Apa kamu punya fotonya?"


"Uh, sayangnya tidak. Maaf." Pria itu menghentikan aktifitasnya sejenak, "Tunggu, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya."


"Siapa?"


"Terberkatilah mereka, mobil yang sama, itu Robbin." Kembali, orang itu berkemas. "Kamu kapan terbang kemari?"


"Pekerjaan ku belum selesai, yah, paling dua minggu lagi. Selama itu kamu harus mengawasi mereka."


"Yah, aku menyukai pekerjaan ini?" Setelah menyela, pria berambut pirang itu mengusap peliharaannya penuh sayang. "Bagus sobat!"

__ADS_1


Hewan itu menggoyang-goyangkan ekornya lantas berseru, guk guk.


"Aku harus pergi sebelum mereka menyadari keberadaanku di sini," katanya kepada seseorang di seberang telepon.


"Ya, kutunggu info selanjutnya."


"Yah, apa pun Brother."


Telepon terputus. "Tanpa kamu pinta pun aku akan mengawasi Clay," gumamnya.


Sambil menggendong tas berisi teropong, dia turun dari pondok kayu. Hewan berkaki empat itu mengikuti setiap gerakan tuanya.


Hewan itu menggonggong, lidah yang berliur menjulur, ekor berbulu lembut memukul-mukul jok belakang mobil—di mana ia meringkuk di sana.


Roda mobil SUV mengarah ke jalan berbatu menuju jalan raya, musik hip-hop menemani pengemudi selama menempuh perjalanan.


...****************...


"Kak Robbin?"

__ADS_1


"Ya," sahut Robbin sambil mengacuhkan pemandangan di luar jendela yang sejak tadi dilihatnya.


"Itu dia biang masalahnya." Tunjuk Clay, dia berjalan tertatih, mendekati makhluk berwajah hitam yang memiliki kumis jarang-jarang panjang dengan mata kekuningan. "Panther."


Clay menggendong tubuh gemuk dan lentur itu, mengelus-elus bagian bawah leher. Menggoda bibir bungkam si Panther agar terbuka.


"Awas terluka." Robbin mengernyitkan alis hingga pangkal hidung mengerut. Jemari lentik istrinya digigit-gigit kucing hitam Berry.


Bibir Clay mengembang, mata bulatnya tampak bersinar. "Tidak akan, ia hanya bermain-main."


"Aku baru tahu kamu suka kucing."


"Heeem, aku tidak mengatakan suka, tapi Panther kucing paling menggemaskan yang pernah kulihat," jelas Clay, dia pun menurunkan tubuh hitam gemuk itu.


Robbin tiba-tiba berjongkok, dia mengamati kaki ramping Clay. "Masih sakit? Kalau iya kita bisa tunda—"


"Tidak, Kak Robbin, besok pasti sudah sembuh. Aku sungguh ingin segera pulang ke Indonesia, aku kangen Daddy dan Mommy."


Sekonyong-konyong, Robbin mengangkat Clay, lalu membaringkan ke tempat tidur. Menangkup kedua pipi, memberi kecupan lembut di kelompok mata wanitanya yang otomatis menutup. "Di mana keluargaku, Clay. Aku pun merindukannya. Tidak adil kalau cuma kamu yang bisa menemui Pak Albert dan Bu Belle, sedangkan aku sampai saat ini belum diberikan kesempatan untuk melihat Ayah, Ibu, dan adikku."

__ADS_1


Iris mata keduanya berserobok, hidung bangir mereka nyari bersentuhan—dengan jarak tidak lebih dari satu senti. Napas hangat saling menyapu wajah masing-masing.


__ADS_2