
Entah bagaimana Clay mempertahankan suara dan hatinya tetap tenang, dia mengulas senyum janggal. Dilihatnya raut wajah Robbin yang tampak santai-santai saja.
"Ya, seperti yang kamu lihat," sahut Robbin lalu mengalihkan pandangan ke arah Clay, "Berita ini menyebar dengan sendirinya, My Angel."
"Iya, tidak masalah, Kak Robbin. Ha-Hanes bukan orang luar, dia bisa atau boleh tau gimana keadaanku." Sialnya, Clay tidak bisa mencegah pita suaranya goyah. Dia bertanya-tanya, sebelum kesadarannya kembali apakah kedua pria ini memutuskan untuk tidak berseteru.
Menit kelima setibanya Hanes, seorang gadis kecil menyembul dari balik pintu bersama dua orang pria dewasa.
"Papa, dia sudah bangun!" seru gadis itu sambil menarik-narik ujung baju pria berambut sebahu.
"Mereka yang membantuku, Clay. Kenalkan, Berry," ujar Robbin seraya melirik pria pemilik lesung pipi. "Itu Johanes dan Shayriel—putrinya." Tunjuknya dengan dagu.
Robbin memperkenalkan kedua teman karibnya, Clay masih menyesuaikan diri dengan orang-orang baru itu. Termasuk sikap antara Hanes dan suaminya. Dia mengira apakah mungkin ini hanya mimpi semata? Dirinya masih tertidur di suatu tempat yang boleh jadi di antah-berantah.
Clay tahu dirinya hanya membuang waktu dengan mengira-ngira, sehingga mengambil tindakan asal, mencubit kecil tangannya sendiri. "Aww," pekiknya menarik perhatian semua yang ada di kamar itu.
Serentak, Robbin dan Hanes mendekati Clay, keduanya sama-sama mengulurkan tangan. Sampai Hanes memilih mundur, mungkin demi menghindari pertengkaran dan berusaha bersikap sopan.
"Mana yang masih sakit?" tanya Robbin cemas.
Mata bulat Clay mati-matian menahan tangis karena sakit. Tatapan matanya nanar. Dia tahu situasi yang sedang terjadi ini nyata dan tidak masuk akal, Robbin sesantai itu menghirup udara yang sama dengan Hanes. "Tidak ada, aku baik-baik saja."
"Hai, Mrs. Robbin," sapa Shayriel, dia hendak mendekati Clay, tetapi dicegah oleh sang ayah.
Gadis itu memiliki mata paling cemerlang yang pernah Clay lihat selama ini, mata biru terang yang memancarkan keceriaan.
"Hai, Shay. Tidak apa-apa, kemarilah." Clay mengembangkan bibir ranumnya, sembari mengulurkan tangan.
Shayriel setengah berlari ke arah ranjang, jemari mungil berisinya menerima uluran itu. Clay jadi membayangkan memiliki buah hati selucu ini bersama Robbin.
"Apakah sudah ada pangeran yang datang menciummu?" tanya Shayreil mengundang gelak, Johanes langsung menggendong gadis manis itu.
"Maaf, dia terlalu sering berkhayal," sesal Johanes sembari berjalan keluar dari kamar.
"Dia gadis yang cerdas, justru bagus," aku Clay.
Johanes menarik sudut bibir, tetapi tetap membawa putrinya pergi.
"Papa, aku tidak mau keluar, aku ingin menanyakan sesuatu kepada putri tidur. Tidak, tidak, dia putri salju," celoteh Shayriel lambat-laun mengecil.
"Oh, ya, aku membawakan kopi untukmu, Rob," kata Berry.
__ADS_1
Clay diam-diam memperhatikan, rahang teman-teman Robbin mengeras ketika menoleh ke arah Hanes. Dan, wajah mereka terlihat familier.
"Terima kasih," ucap Robbin lantas mengeluarkan kopi dalam gelas berbahan kertas itu.
Berry mengangguk kecil. "Aku tidak bisa tinggal lama, oh, ya, di sana juga ada roti." Tunjuknya sebelum keluar dari kamar mengikuti jejak Johanes.
"Maaf, merepotkan."
"Tidak jadi soal." Berry melirik Hanes sekali lagi, lalu benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup.
Pintu kembali terbuka.
"Apa ada yang tertinggal?" Robbin mengira salah seorang temannya kembali untuk mengambil sesuatu.
"Dokter memanggil Anda, Pak," terang perawat itu.
"Baiklah, sebentar lagi, saya akan ke sana."
Perawat menanggapi ucap Robbin dengan senyuman. Lalu, meninggalkan ruang.
"Clay, aku keluar sebentar, ya."
"Jangan bercanda, aku hanya sebentar, kok, kan ada Hanes di sini." Robbin menjepit ujung hidup Clay dengan lembut, lalu mengusap bahu ringkih istrinya penuh sayang. "Aku janji tidak akan lama." Dia sempat mengerlingkan mata sebelum pergi.
"Berhenti takut sama aku, Clay." Hanes yang sejak tadi diam mengeluarkan suara begitu Robbin tidak ada. Pria itu berjalan perlahan-lahan, iris matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan dengan kata-kata.
Gerakan Hanes menambah kegugupan di hati Clay saat ini, kedua telapak tangannya meremas selimut erat-erat. "Han, begini, aku tau ini tidak sopan, tapi tolong menjauh dariku sekarang."
Sudut bibir Hanes terangkat sebelah, dia sama sekali tiada niat menuruti permintaan Clay. Yang ada semakin mempersempit jarak mereka.
"Han aku sudah memperingatkan mu jauhi aku!"
"Mengapa?" Hanes meraih jemari lentik Clay. "Begitu mendengar kamu diculik, aku langsung mengerahkan semua anak buah Ayah. Tidak bisakah dirimu mengucapkan terima kasih?"
"Jadi—"
"Iya, kalau aku tidak datang, jelas Robbin dan kedua temannya itu kalah jumlah," terang Hanes.
"Maaf, aku tidak bermaksud—"
"Bukan masalah, lagian aku juga tidak rela kamu terluka."
__ADS_1
Robbin berdeham beberapa kali, wajah menawannya terlihat agak kaku. Merasa tidak nyaman dengan kedekatan Clay dan Hanes, masih belum terbiasa.
Lekas-lekas, Clay menarik tangannya. "Dokter bilang apa, Kak Robbin?"
"Tidak ada, hanya diminta untuk menebus obat. Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Robbin lembut, kemudian menoleh ke arah Hanes. "Han, terima kasih sudah bersedia tinggal sebentar selama aku pergi tadi, dan kurasa—"
Senyum tersungging di bibir pria tampan berwajah lembut itu, Hanes menepuk pundak Robbin singkat. "Aku memang harus pulang sekarang. Jaga dia, aku bersumpah akan membunuhmu kalau terjadi apa-apa!"
"Tentu saja, nyawaku taruhannya." Sorot mata Robbin memancarkan kesungguhan. "Hati-hati."
Hanes mengibaskan tangan ke udara sebelum membuka pintu, langkah kaki tegasnya berangsur-angsur menghilang.
"Hanes turut andil?"
"Iya, dia datang di saat-saat terakhir. Aku bersyukur atas itu," ucap Robbin sungguh-sungguh. Dia mengulurkan tangan meraih gelas kopi yang ditinggal tadi. "Keberatan kalau aku tinggal ke kamar kecil sebentar? Badanku lengket semua."
"Pergilah, aku lebih baik sendiri daripada ditemani Hanes."
Alis Robbin mengerut, lalu mengedikkan bahu. Pria itu berjalan ke arah nakas. Kemudian, mengeluarkan kantong merah hati. Dengan langkah malas dia mengarah ke toilet yang ada di pojok ruangan. Menit berikutnya terdengar gemericik air.
"Ah, aku juga merindukan air," gumam Clay.
Selanjutnya, Robbin sudah keluar dari sana. Air membasahi rambut lebatnya, dia asyik menggosok-gosok dengan handuk kecil yang di sampirkan pada leher. Butir-butir air yang terlontar tanpa sengaja seperti kristal keperakan.
"Kak Robbin."
"Eh'hem?" Robbin duduk di kursi dekat tempat tidur Clay, dia masih mengeringkan rambut. Wajah kusam sesaat lalu terlihat segera sekarang. Dalam waktu sesingkat itu, ternyata Robbin sempat bercukur. Bulu pendek di rahang dan dagunya sudah hilang.
"Apa Daddy tau soal ini?" tanya Clay, mengetuk-ngetukkan ujung telunjuk kanan ke ujung telunjuk kiri. "Jangan diceritakan kepadanya, ya."
Robbin merapatkan bibir atas dan bawahnya hingga menipis. Dia merasa gagal menjaga Clay, semestinya sang istri tidak terlibat dalam masalah yang dirinya buat. "Sebelum natal, setelah kondisimu membaik aku akan mengantarkan kamu pulang. Aku tidak mau kejadian seperti ini terulang kembali."
"Maksudnya?" Clay menatap tajam Robbin. "Kak Robbin mencampakkan aku?"
"Mencampakkan? Aku hanya memastikan kamu aman. Bersama Pak Albert keamananmu terjamin."
"Kak Robbin tidak berhak mengatur hidupku! Aku tidak mau pulang tanpamu." Clay membuang muka. "Jangan pernah berpikir untuk memulangkan aku!"
Robbin menghela napas kasar. "Tolong menurutlah untuk kali ini. Jangan keras kepala."
"Aku tidak mau jauh dari Kak Robbin, titik!"
__ADS_1