Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 30: Darurat


__ADS_3

Kembali diabaikan itu sakitnya luar biasa, seperti terasing di tengah-tengah kemeriahan. Tergolek sendiri di sudut keramaian lalu lalang sejuta penduduk lokal maupun manca negara.


Clay mengamati suasana di luar jendela, lampu-lampu kota mulai menyala. Terang benderang mengalahkan para bintang. Dia mengatur napas sebelum berbalik ke arah Robbin.


"Kak Robbin, marah?"


"Tidak alasan untuk itu, aku tau Hanes temanmu, dan tolong jangan bahas dia!" tegas Robbin tanpa menoleh.


Clay mengubah lagi posisi duduknya menghadap lurus ke depan. Dia menerawang ke awang-awang.


Andai kamu tau, Kak Robbin, banyak sekali yang belum kuungkapkan kepadamu. Jujur aku terlalu takut mengatakan itu, belum sanggup kehilanganmu. Bolehkah aku menyimpan rahasia ini untukku sendiri? Aku terlalu malu *mengaku*i, batin Clay dengan semburat kemerahan pada mata, air bening nan hangat itu terjatuh dalam sekali kedip.


Clay membuang tatapan sendu jauh-jauh, melemparkan ke luar jendela mobil. Sampai tidak ada yang tahu bahwa tangisnya telah luruh, mengalir begitu saja di kedua pipi.


"Sial!" umpat Robbin mendadak menepikan mobil. Dia tahu sang istri tengah menangis meski sedari tadi mata fokus ke jalan raya. Kedua lengannya terulur, menarik Clay ke dalam pelukan. "Berhenti menangis, kumohon, my angel."


Bukannya mereda justru tangis Clay semakin pecah, dia tersedan-sedan hingga baju Robbin basa karena air mata. Telapak tangan besar itu mengusap-usap pucuk kepala dan satu lagi mengusap ringan punggung sang istri.


Robbin turut terhanyut arus kesedihan Clay, dia tidak tahu kalau sikapnya membuat sang istri sesedih ini. Biasanya akan baik-baik saja.


"Maaf," kata Robbin lembut. Dia mengendurkan pelukan lantas mengusap pipi basah Clay. "Aku memang terlalu berlebihan. Tidak seharusnya aku marah tanpa alasan, tapi hatiku memaksakan itu, sakit melihatmu dengan pria lain, sekalipun Hanes orangnya."


Clay sudah cukup tenang untuk menimpali, tetapi mobil Robbin tiba-tiba ditabrak pengemudi lain dari belakang. Memaksanya untuk melihat dari balik kursi pengemudi.


"Brengseekk!" umpat Robbin begitu melihat plat nomornya. Menurut informasi yang didapatkan sesaat lalu, mereka yang menginginkan kartu memori itu.


"Ada apa?" tanya Clay.


"Menunduk!"


"Kenapa?"


"Menunduk, my angel!" tegas Robbin, dia segera mencengkeram setir lalu mengarah ke jalan. Mobil hitamnya meliuk-liuk dengan kecepatan penuh, nyaris menabrak pengguna jalan lain kalau mata kurang waspada, serta kecepatan kaki dan tangan berkurang.


"Awas, Kak Robbin." Clay memperingatkan, dia masih ingin hidup lebih lama lagi. Menua bersama Robbin.

__ADS_1


Sudut mata Robbin melirik sekilas, Clay terpejam sembari berpegangan kuat-kuat, wajah kuning langsatnya tampak sepucat mayat. "Tenang, tidak akan terjadi apa-apa." Robbin memberikan penghiburan.


"Mana bisa! Jangan main-main dengan nyawa, Kak Robbin," teriak Clay dengan mata masih terkatup rapat hingga guratan tegas tercipta di kedua sudut mata pun dengan kelopaknya.


"Aku tau, mulai berdoalah kalau begitu," kata Robbin, suara berat dan dalamnya mengandung irama menentramkan. Dia terus mengawasi pergerakan mobil di belakang.


Seketika itu, Clay menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan perlahan, terus berulang-ulang dan hatinya berangsur tenang.


Kecepatan mobil Robbin tidak berkurang sama sekali hingga ban yang bergesek dengan aspal berdecit. Dia terus melaju sampai orang-orang yang mengikutinya tidak kelihatan.


Namun, tanpa di duga, mereka turut menambah laju. Sebuah kendaraan muatan kontainer dari lainan arah seakan-akan tidak kasatmata. Baik Robbin dan si penguntit tidak ada yang mau mengalah, sampai pengemudi kontainer menepi secara perlahan karena ditakutkan terjadi tabrakan.


Setelah melewati kontainer itu, Robbin melihat sekilas ke kaca di depan. Raut wajah tampannya menegang, rahang tegas itu bergemeretuk karena hampir terkejar oleh si penguntit.


Robbin tanpa sadar menggiring mereka ke jalan yang lumayan sepi, dia tidak bisa terus-terusan menghindar.


"Clay kemudikan ini!" pinta Robbi.


Bagai sambaran petir di telinga, air muka Clay yang mulai sendu semakin layu karena permintaan sang suami, dia menolak dengan keras. "Tidak, aku tidak bisa. Jantungku masih jedag-jedug tidak menentu, antara hidup dan mati," ujar Clay gemetaran.


"Well, tidak ada cara lain, Dear."


"Apa yang, Kak Robbi lakukan?" Pertanyaan Clay tidak diindahkan. Pria itu kembali bertingkah sembrono dan berhasil membuat sang istri ngeri.


Mobil hitam Robbin sedikit oleng, karena takut keluar dari jalur, Clay pun memenuhi permintaan Robbin. Berusaha mengemudikan kendaraan roda empat itu dengan benar, sedangkan sang suami menembakkan pistol ke salah satu ban si penguntit.


Letusan ban pecah mobil itu terdengar nyaring serta benturan keras saat kendaraan di belakang kehilangan keseimbangan.


Robbin bernapas lega. "Terima kasih, my Angel."


"Itu tadi siapa, Kak Robbin?"


Bahu datar Robbin mengedik. "Yang jelas orang itu menginginkan sesuatu dariku."


Selain fokus kembali ke jalan raya mata tajam Robbin mulai berangan-angan. Dia tidak bisa berlari terus-menerus. Apa pun yang akan terjadi, kartu memori itu harus ada di tangan Rocky. Dan, itu berarti meninggalkan Clay lagi.

__ADS_1


Tidak, ini bukan gagasan yang baik. Robbin membatin.


"Kak Robbin, perutku lapar karena tegang," celetuk Clay.


Telapak tangan besar Robbin terulur untuk menyentuh lembut pipi Clay. "Sama, kita makan di sana saja." Tunjuk Robbin dengan dagu.


"Yah, Kak Robbin, masa jauh-jauh ke London kita makan ayam goreng tepung?"


Robbin tergelak sejenak, dia meremas telapak tangan lentik Clay lalu membawanya untuk di cium. Meskipun tidak seputih porselen, urat-urat hijau di pergelangan tangan Clay terlihat. Bibir keras Robbin berhenti di sana, aroma segar menyusup lembut sampai ke hati.


"Darurat," terang Robbin.


"Oke." Ternyata satu kata itu hanya pemanis semata, tersebab bibir ranum Clay bergumam tidak jelas.


Setelah memarkir mobil, keduanya berjalan santai ke dalam tempat makan di sana. Mereka memesan paket lengkap.


"Kak Robbin," cicit Clay.


"Hm."


"Aku minta kulitnya," kata Clay, kedua ujung jari telunjuk dan tengah di arahkan perlahan menuju piring Robbin. Selayaknya gerakan kaki, jari-jari itu melangkah santai.


"Lah, itu punyamu masih ada." Robbin melihat kulit ayam di pinggiran piring sang istri.


"Buat nanti, bagian yang enak dimakan belakangan," sanggah Clay, "Boleh tidak?"


"Katanya tidak mau gemuk, tapi suka kulit ayam," ledek Robbin, bibirnya mengulas senyum tertahan.


"Dih, tidak mau kasih, ya, sudah." Dua jari Clay mundur teratur.


Sambil terus tersenyum, Robbin meletakkan kulit ayam di atas piring Clay. "Karena aku suka wanita gemuk, jadi makanlah."


"Kak Robbin suka wanita gemuk?"


Robbin tidak menjawab, karena nasi tersangkut di tenggorokan, dia meneguk minuman bersoda di sisi kanan tangannya. Setelah terasa lebih baik, dia berkata, "Iya."

__ADS_1


Clay melongo, terpancar ketidakpercayaan di sorot mata bulatnya. Sejak kapan, Kak Robbin suka wanita gemuk? Clay membatin sambil mengerjapkan kelompok mata cepat, sedangkan yang dipandang lekat-lekat mengulas senyum dan mengunyah secara bersamaan.


"Mikir apa, heem?" tanya Robbin gemas sambil menjepit hidup mancung Clay dengan sebelah tangan yang bersih.


__ADS_2