Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 51: Hal lain?


__ADS_3

Waktu pergi tadi rumah Berry tidak dikunci, sehingga Clay bisa langsung membuka pintu. Kemudian, memberi jalan supaya pemilik rumah membimbingnya menuju dapur.


"Semoga aku punya persediaan untuk kita makan." Bahu datar Berry mengedik, lalu melanjutkan ucapan. "Dan, semoga masih layak."


"Kapan terakhir kali kamu mengunjungi tempat ini?"


"Satu minggu lalu, aku lebih suka tinggal di apartemen." Berry berjalan lurus hingga tiba di ruang bergaya klasik. Beberapa barang terlihat antik sebab termakan usia.


Clay mengamati ruangan minimalis itu, terdapat pintu di sisi kiri, dia mengira di baliknya sebuah kamar mandi. Selayaknya dapur, kompor, lemari es satu pintu dan tempat pencuci piring melengkapi tempat itu. Di bagian atas perlengkapan tersebut ada lemari gantung.


"Mi instan ada di sana," Tunjuk Berry sambil mengambil panci dari lemari yang lain.


"Oh, astaga!!!" pekik Clay, ditabrak mamalia hitam berbulu bertubuh gemuk. Dia terlonjak ke belakang, pinggulnya membentur meja dan karena kurang keseimbangan kakinya jadi terkilir. "OMG!" Air menggenangi kelompok mata, tidak kuasa menahan sakit dan malu karena jatuh berguling.


"Panther, huss!" Berry mengusirnya, tetapi binatang berbulu itu menolak dengan mengeong-ngeong. "Maafkan kucing nakal ini," sesal Berry.


Panther menggeliat di sekitar kaki Berry, kucing itu bukan peliharaannya. Namun, sering datang tanpa di undang seperti saat ini.


Langkah Berry sedikit tersandung-sandung karena terbelit si kucing saat mengarah ke tempat Clay, dia akhirnya berjongkok dan memberi uluran tangan. "Jangan bangun dulu kalau pusing. Kepalamu membentur lantai keras sekali."


"Iya, sedikit. Aku harap tidak gegar otak," gerutu Clay mengundang gelak tawa pria berlesung pipi itu.

__ADS_1


"Oh, bagus sekali tanggapanmu," imbuh Clay, belum juga menyambut tangan Berry. Dia memastikan tidak lagi pusing, menarik napas dan mengembuskan perlahan.


Setelah merasakan lebih baik, Clay menautkan jemari dalam genggaman Berry. Namun, sakit menyentak tiba-tiba begitu mencoba berdiri tegak. "Aow, aow, kakiku."


"Berry menunduk, memperhatikan pergelangan kaki Clay. " Jangan panik, semua baik-baik saja, oke." Dia membawa lengan wanita itu di pundak, menopangnya agar bisa berjalan pelan ke kursi terdekat.


Karena tidak ada pilihan lain, Clay menurut dipapah teman suaminya. "Terima kasih."


"Sama-sama, emm, boleh ku periksa?" tanya Berry, akan tidak sopan kalau menyentuh tanpa persetujuan.


Tanpa melihat lawan bicaranya Clay membalas dengan pertanyaan. "Kamu tukang pijat?"


"Silakan." Suara Clay terdengar pasrah dan tersiksa.


Berry berlutut di depan Clay, membuka pengait sepatu bertumit datar itu secara perlahan. Dia mengamati ekspresi kesakitan istri temannya. "Ini sedikit menyakitkan, Miss, tarik napas."


Pergelangan kakinya memang tidak mengeluarkan suara gemeletuk, tetapi rasa sakit akibat di... ah, Clay menggeram dibuatnya. Persendian kakinya serasa mau copot.


"Oh, Tuhan, cukup!" Air mata Clay berguguran di pipi, dia memekik histeris begitu pergelangan kaki di tarik Berry.


"Coba gerakan pelan-pelan," pinta Berry. Dia masih berlutut di depan Clay.

__ADS_1


Dengan mata menyipit dan berurai air mata Clay menggoyang-goyangkan kaki ke kiri-kanan. "Tidak buruk, paling tidak kaki ini masih pada tempatnya."


"Duduk sebentar," pinta Berry lantas mengambil sesuatu dari dalam laci, botol kaca berisi cair kekuningan berada di genggaman. "Ini bisa mengurangi sakitnya."


Clay terkejut ketika Berry membawa kakinya ke atas lutut. "Jangan tegang begitu, aku cuma melabur dengan minyak," kata Berry sembari memberi pijat lembut di daerah yang terluka. "Gimana, enak?"


"Ya, lumayan," sahut Clay.


"Aku dan yang lain biasanya berganti dalam hal ini."


"Hal ini?" beo Clay.


"Memijat, aku dan Robbin kadang-kadang bergantian," papar Berry, senyum mematikan tersemat di sudut bibir nya.


Baik Clay maupun Berry tidak menyadari kehadiran Robbin, suami wanita itu memperhatikan interaksi keduanya sambil menyandarkan diri di kusen pembatas ruangan. Lengan kokoh terlipat di depan dada, iris mata kecokelatanya menusuk tajam. Enggan berpaling sedetik dari sang istri. "Apa aku melewatkan sesuatu?"


Suara dalam dan berat Robbin seakan-akan menyedot habis darah di wajah Clay, iris mata kecokelatan suaminya seperti menyiratkan 'apa kalian main-main di belakangku?'


Di ambang pintu Robbin mengunci tatapan kepada keduanya. Dada bidangnya mengembang, lalu mengempis seiring dengan embusan napas kasar.


Suasana hati Robbin tidak memengaruhi Berry, pria manis itu kelewat santai saat meletakkan kaki Clay ke lantai.

__ADS_1


__ADS_2