Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 59: Sampai Lubang Semut


__ADS_3

Meskipun sudah menemukan sedikit kebenaran tidak mengubah apa pun, Jeremy belum juga menghubungi Robbin.


Sekarang pencarian diperluas sampai ke tempat-tempat yang biasa Jeremy kunjungi. Mulai dari pub sampai tempat olah raga.


Tiga hari berlalu sejak mengawasi kediaman Jeremy, segala macam riset telah diterapkan. Sumber-sumber kredibel sudah digali, tetapi tidak kunjung mencapai hasil yang diharapkan.


"Bukannya aneh si Jeremy itu belum menghubungi kita sampai detik ini?" Ingat Robbin, makin panik setiap detiknya.


Berry baru datang dan membawa roti lapis daging, menyebarkan aroma gurih ke setiap sudut ruangan. "Makan?"


Robbin melambaikan tangan ke udara menegaskan penolakan, dia sering membiarkan perut kosong seharian. Paling hanya minum air mineral untuk melembabkan tenggorokan.


"Aku tau ini berat bagimu, Rob, tetapi tidak ada gunanya menyiksa diri. Kalau kondisimu drop malah susah menemukan Clay," tutur Berry.


"Balasan setimpal atas keteledoran ku." Robbin tampak murung, lingkar di bawah matanya menjadi bukti bahwa dia tidak istirahat dengan benar. Pun dengan tulang pipi dan rahangnya terlihat menonjol sebab kurang asupan makanan.


"Tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran, bahwa hal seperti ini menimpa Clay, mengingat kejadian sebelum ini. Dia nyaris—" Tidak sanggup, melanjutkan Robbin mengusap wajah dengan kasar dan menyugar rambutnya ke belakang.


"Kamu ini bicara apa? Clay pasti baik-baik saja. Dia ada di suatu tempat yang aman." Hibur Berry, meski hatinya sendiri tak yakin. "Mungkinkah Jeremy membawanya ke luar negeri?"

__ADS_1


"Kamu benar, gimana tidak terpikir olehku." Robbin segera mengeluarkan ponsel, menghubungi kenalan lama yang bertugas di salah satu penerbangan. "Halo, kawan, apa Darel sudah menghubungimu ... ya, masalah hilangnya istriku ... mungkin saja Jeremy membawa Clay keluar London... eem, jadi sudah ya ... tolong jangan hentikan pencarian —bila perlu bantu cari sampai ke lubang semut."


"Mereka sudah memeriksa seluruh bandara, tetapi tidak ada catatan mengenai Jeremy," terang Robbin begitu panggilan selesai, bertepatan dengan itu nomor dari mancanegara tertera di ponselnya yang menyala.


Mata dalam Robbin terbelalak membaca sederet angka di layar. Orang tua Clay menelepon. "Halo, Pak. Albert." Dia menggaruk kepala ketika mertuanya menanyakan sang istri.


"Clay, dia ada." Robbin beranjak dari duduknya. "Kami baik-baik saja, Clay sedang—"


Tercipta jeda selama lima detik. "Tentu saja dia bersamaku saat ini. Eem, ingin ngobrol, ya?"


Raut wajah Robbin mulai menegang, dia bingung harus mengatakan apa. Perlahan matanya menjadi merah, air mata mengalir melewati kedua pipi. Sedikit parau dirinya berujar, "Ya, kita pasti pulang, tetapi tidak sekarang. Sebelum natal, aku akan membawa Claymira ke Indonesia."


Sepertinya orang tua Clay tidak percaya atas semua pernyataan Robbin, pria paruh baya itu mencercanya dengan berbagai desakan agar dia cepat pulang. Pak Albert ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dibahas melalui telepon.


Jalan buntu, Robbin mengusap wajah kasar dengan sebelah tangan. "Apa yang Anda katakan!" Intonasi bicaranya mulai meninggi. "Jangan sentuh keluargaku Pak Albert, atau Anda akan menyesal!"


Robbin terlihat gusar, dia terus bergerak gelisah di kamar itu. "Oke, saya akan pulang!"


Mungkin karena salah ucap Robbin mendapat teguran. "Oke ralat, saya dan Clay segera kembali, Anda puas!"

__ADS_1


"Arrrggghhh!!!" Begitu panggilan berakhir Robbin membanting ponsel sembarangan. "Kita mesti bergerak cepat, hari ini Clay harus ketemu. Orang tuanya meminta kami pulang. Dan—"


Hidup sudah tidak ada rasanya, Robbin terdiam lama. "Pak Albert mengancam keselamatan keluargaku."


"Ini rumit. Begini saja, kamu tetap pulang tanpa Clay—"


"Gimana bisa?" sambar Robbin.


"Ada cara lain? Ah, gunakan nenek Jeremy sebagai jaminan supaya dia keluar." Berry beranjak dari duduk menuju lemari pendingin. Mengambil minuman bersoda untuk diri sendiri. "Kamu tidak mempunyai banyak pilihan, ku akui ini ide gila. Atau—" Sedikit tidak enak hati, dia terdiam.


"Katakan saja," pinta Robbin.


Berry mengambil napas dalam. "Bukan maksudku memojokkan, tetapi mengatakan sejujurnya kepada orang tua Clay jauh lebih baik."


"Akan ku pertimbangkan." Robbin mengarah ke kamar mandi dengan lemah.


Robbin menatap diri melalui cermin, kacau. Bukan hanya pikiran yang berantakan, penampilan lebih bisa membuktikan itu.


"Kesempatanku mulai menipis," gumam Robbin seraya membasuh muka. "Mengikutisertakan orang tidak bersalah juga bukan kebiasaanku."

__ADS_1


__ADS_2