Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 61: Keselamatan


__ADS_3

Keinginan utama dari yang paling Robbin utamakan hanyalah keselamatan Clay, dia tidak bisa menganggap enteng hal ini. Dengan asumsi mencintai wanita itu sepenuh hati, bukan berarti dapat menjauhkan segala konsekuensi dari pekerjaan yang selama ini dirinya geluti.


Perjalanan hidupnya sejak awal tidak pernah main-main, orang yang pada umumnya menghindari bahaya, Robbin justru menghampirinya. Ibarat kucing, dia selama ini selalu berhasil lolos dari malaikat pencabut nyawa. Terbukti, satu jantungnya masih berdetak sampai detik ini—udara pun masuk-keluar ke sepasang paru-paru yang mengembang dan mengempis seiring tarikan napas.


Atas keberuntungan itu, sebagai diri Robbin dengan begitu tolol memandang semua akan berjalan dengan baik-baik saja. Dapat menghindarkan orang-orang penting dalam hidupnya dari marabahaya, tetapi dia harus berpikir lebih bijak mulai sekarang. Yang dijadikan pokok penghidupan bukan lagi tentang satu nyawa, permainan takdir ini taruhannya begitu besar. Sebesar rasa takutnya kehilangan Claymira.


Melepaskan, jauh lebih baik daripada menempatkan Clay dalam bahaya. Sudah jauh-jauh hari memikirkan solusi paling mutakhir, untuk saat ini—berpisah—bukan untuk selamanya.


"Pak Albert benar, dilihat dari sudut pandang mana pun, kita tidak serasi. Kamu lebih aman tinggal di sini, bersama kedua orang tuamu." Meski di dalam hati terasa sakit, Robbin mengakui kenyataan itu. Tanpa mengurangi ekspresi seolah-olah tak peduli, dia melanjutkan. "Sudah dua kali ini aku hampir—bukan hampir, tetapi telah membahayakan nyawamu."


"Apa-apaan! Pemikiran konyol!" seru Clay, bertolak pinggang—tahu pasti ke mana arah pembicaraan suaminya—dia menatap keempatnya secara berganti. "Musibah bisa datang dan menimpa siapa saja, kumohon jangan berlebihan!"


Nyali Clay menciut sesaat kala mendapat tatapan tajam dari semua orang. Mereka jelas menolak mentah-mentah keyakinannya. "Baiklah, apa yang menimpaku memang mengkhawatirkan, tetapi Kak Robbin bisa menyelamatkan aku, dengan bantuan Hanes tentu saja. Kuhargai itu dan bukan berarti, Hanes boleh mengadu, kan? Terlebih aku bukan lagi tanggung jawab Daddy," jelasnya, berharap bisa mengurai perselisihan di antara mereka, terutama suami dan ayahnya. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan melewatkan hari tanpa Robbin.


"Mudah dipahami, bukan?" Clay tidak tahu lagi harus bicara apa, sedangkan keempat pria di ruang itu diam saja.


Ruang kerja berpendingin itu makin terasa dingin, suasana canggung menghantam dari berbagai sisi. Clay menatap ayahnya lebih lama, menunggu kata-kata yang hendak meluncur dari bibirnya. Berharap beliau berubah pikiran, seandainya mengharap perpisahan dia dan Robbin.


"Keluar Daddy bilang!" Albert tetap kukuh.


"Oke, sekali lagi kutekanan, tanpa Kak Robbin aku merana." Tanpa malu-malu, Clay berjinjit—sebelah lengan kokoh Robbin membantunya menjaga keseimbangan dengan memegang pinggul—bibir mendarat di pipi kasar sang suami. Lengan rampingnya turut berperan melingkar di punggung dan perut, memeluk erat tubuh tegap berisi pria itu.


Kenyataannya, Robbin menikmati sentuhan lembut itu. Menghirup banyak-banyak aroma penenang jiwa. Dia juga merana, sudah setengah gila jauh dari istrinya. Setelah begitu lama berpisah, tidak ingin lagi merasakannya.


Dengan enggan, suami-istri itu saling melepaskan diri. Sebelum pergi, Clay mengusap lembut rahang berjenggot tipis Robbin. Ini kali pertama, dia melihat sang suami tampak kacau. Perlahan jari tangan turun ke leher, hingga dada dan berakhir di sisi badan.

__ADS_1


Mata dalam Robbin berserobok dengan mata bulat Clay, bersatu dalam gelombang kerinduan yang sedikit tersalurkan. Mengikis perasaan khawatir di dasar hati, mereka bersyukur dapat bertemu kembali. Cinta dan kasih terpancar nyata di kedua pasangan mata yang tampak berkilauan saat ini.


Clay maupun Robbin menarik napas dalam-dalam, hingga memutuskan menuruti permintaan pria paruh baya itu. Dia memaksakan kaki melangkah pergi.


"Sayang, tutup pintunya, oke?" perintah Albert dan sang putri memutar bola mata, jengah.


Diiringi empat pasangan mata, Clay menutup daun pintu ganda berukuran raksasa ruang kerja ayahnya.


Tangan Robbin terulur, menarik kursi yang terjatuh tadi. Dia mengembalikan ke tempat seharusnya, lantas duduk di sana. Menempatkan lengan di masing-masing pegangan. Karena tidak ada yang membuka percakapan lebih dulu, dirinya mulai menyuarakan apa yang dimau.


"Bisa tinggalkan ruangan sebentar, Jeremy, Hanes," pinta Robbin kepada kedua orang yang tidak memiliki hubungan keluarga. "Pak Albert, kita perlu bicara empat mata."


Dahi Albert mengernyit. "Lima menit kukira lebih dari cukup."


Pintu di belakang Robbin tertutup perlahan, dia melirik lewat bahu yang datar. Lantas berdiri dan mendekat, guna memastikan dua orang itu tidak berusaha mencuri dengar.


"Aku tidak menerima pembelaan atau alasan apa pun atas kejadian yang menimpa Clay," ucap Albert.


"Saya tidak pernah berpikir begitu." Robbin dengan santai duduk kembali di seberang meja Albert. "Andaikata, Anda sungguh-sungguh memintaku menjauh—saya tidak akan membiarkan Anda menang dengan mudah. Usaha itu tentu berakhir dengan kegagalan, sampai titik darah penghabisan pun saya tak rela menjauh dari putri Anda!"


"Omong kosong!"


"Perlu Anda tau, pada akhirnya Clay lebih penting daripada pekerjaan saya saat ini," jelas Robbin.


"Kamu berniat keluar dari agensi Rocky? Ha-ha-ha, cerdik juga rupanya, memang dengan warisan yang Clay terima untuk apa repot-repot bekerja."

__ADS_1


Sial! Robbin tidak serendah itu. Pantang menerima uang sepeser pun yang bukan hasil dari keringatnya. "Anda pikir begitu?"


"Tanpa ragu!"


Robbin nyaris meledak mendengar dua kata bernada profokasi ayah Clay. "Anda pernah mempekerjakan saya, mestinya tau berapa bayaran pengawal khusus."


Pertahanan Albert agak goyang, dia tahu betul imbalan pengawal sekelas Robbin cukup besar. Mungkin sepuluh kali lipat dari gaji yang diterima para pengawal pribadinya. Namun, dalam berbagai aspek, Albert menutup mata. "Biaya hidup mahal. Aku tidak mau Clay sengsara."


"Ini salah satu bukti bahwa Anda tidak mengenal baik Claymira," tegas Robbin.


"Apa maksudmu?" tanya Albert geram, gimana bisa ada yang meragukan perannya sebagai orang tua.


"Seperti wanita pada dasarnya, Clay memang suka dimanjakan, tetapi bukan sekadar dengan uang. Dia wanita paling sederhana yang pernah kukenal, mampu mengimbangi keadaan sekitar—menghargai apa yang saya sediakan."


"Waktu lima menitmu habis."


"Sekali ini, saya biarkan Anda menang. Saya akan menjemputnya di lain waktu." Robbin mengulas senyum sebelum beranjak dari kursi.


"Jangan terlalu yakin," sahut Albert, dia bertolak dari duduknya. Berjalan memutari sisi meja dan berakhir di hadapan Robbin.


"Lebih dari yakin, bukan hanya istri. Sudah cukup Anda merahasiakan keberadaan keluarga saya, sebelum kesepakatan menikah dibuat, Anda berjanji akan mempertemukan kami. Nyatanya sampai hari ini, satu kabar baik pun tentang mereka belum terdengar."


Albert tersentak, buru-buru bersikap tenang sebelum Robbin menyadari keterkejutannya. "Mereka berada di tempat yang aman, dalam keadaan baik."


"Setelah terus-menerus mengancam keselamatan mereka, mudah sekali mengatakan sebaliknya," sindir Robbin.

__ADS_1


__ADS_2