
Terdengar bunyi klakson sekali, Clay terperanjat dari duduk. "Ada tamu," gumamnya.
"Mungkin temanku, tunggu biar aku pastikan?" kata Robbin. Dia mengintip lewat lubang pintu, mobil Berry terparkir tepat di depan teras.
"Ayo! Kita harus pergi sekarang." Robbin mendahului Clay, dia menurunkan empat koper ke lantai bawah. "Yakin semua sudah masuk sini?"
"Ya, Kak Robbin." Clay mendekat, dia memakaikan syal di leher Robbin. Telapak tangannya menepuk-nepuk dada bidan pria itu. "Udara lebih dingin pada bulan ini."
Robbin mengembangkan senyum, menarik pinggul Clay ke arahnya. Memberi sentuhan singkat di bibir. "Tinggal selangkah lagi, aku sebenarnya tidak mau membawamu saat menyelesaikan tugas kali ini. Tapi, karena keras kepalamu itu semua menjadi sedikit lebih rumit."
"Maaf, aku tidak mau jauh-jauh darimu, Kak Robbin. Aku janji tidak akan nakal, ku turuti mau mu." Kedua lengan Clay menyampir di pundak Robbin.
"Yah, kita lihat saja nanti." Robbin mengendurkan pelukan, menyelipkan jari di sela-sela jemari lentik istrinya.
Koper sudah dimasukkan ke bagasi semua, Robbin membukakan pintu belakang untuk Clay. Sebelum masuk, dia menatap ke atas sekilas, semburat abu keungu-unguan mewarnai langit pagi itu.
"Gimana lukamu?" tanya Berry begitu Robbin duduk di samping pengemudi.
"Tidak ada yang serius, lupakan saja." Robbin melirik ekspresi cemas Clay dari balik bangku. Hidung dan pipi istrinya tampak merah akibat hawa dingin yang mengerikan. "Berry, naikkan termostatnya."
Suhu di dalam mobil berangsur-angsur menghangat, Berry menyalahkan mesin kendaraan. Memutar lagu supaya tidak terlalu kaku.
"Daripada menginap di hotel, lebih baik di rumahku saja," usul Berry, tanpa mengurangi fokus ke jalan raya. "Sehari aja, kan?"
"Selama tidak merepotkan, eem, menurutmu apa sebaiknya kita ubah rute?"
"Tidak ada yang perlu dicemaskan lagi, Rob, orang-orang itu sudah—"
"Oke, kalau menurutmu gitu," potong Robbin, sebab Clay tidak boleh tahu detail pekerjaannya seperti apa. Tidak untuk sekarang, meski suatu saat nanti wanita itu akan mengetahui.
Berry melewati beberapa blok, kemudian berhenti di tempat pengisian bahan bakar. "Aku butuh kopi," katanya, "ada yang mau?"
"Maaf tadi tidak menawarimu sebelum berangkat," sesal Robbin.
Berry mengedikkan bahu sambil berlalu, cara jalannya yang terkesan malas-malas memancing tatapan beberapa wanita di sana.
__ADS_1
"Kak Robbin, aku sepertinya pernah bertemu dengan temanmu itu," ujar Clay, membuat Robbin menoleh ke belakang.
Pernyataan Clay mendorong ingatan Robbin ke asumsi kedua temannya kala itu. Raut wajah Berry memang lebih mudah dikenali daripada Johanes, tetapi dia tidak mau lagi membahas kisah basi itu. Baginya, yang lalu biarlah berlalu.
"Memang kamu pernah sekali bertemu dengannya, di rumah sakit ingat?"
"Iya, sih, tapi kurasa itu—"
"Sudahlah, jangan memaksa sesuatu yang tidak penting."
"Oke, oke." Clay meringkuk dekat jendela persis di belakang Robbin, sehingga pandangan pria itu terhalang kursi.
Selang lima menit Berry kembali, dia masuk dan menutup pintu keras-keras. "Dasar wanita sinting!"
"Hey, kenapa?" Robbin tersentak begitu melihat kondisi Berry, ujung kemeja di balik jaketnya basah terkena noda kopi.
"Aku berusaha membantunya, tapi—sial, dasar tidak tahu terima kasih," umpat Berry sambil memasukkan gigi dan mobil pun melaju ke jalan raya. Dia mengomel sepanjang jalan.
Robbin menoleh ke arah Clay, rupanya wanita itu sudah tidur pulas.
"Selamat datang," seru Berry.
"Keren." Suara lembut menyahuti dari arah belakang, Clay sudah membuka pintu. "Ayo!"
Batu-batu kecil berderak ketika Clay berjalan di atasnya. Dia menatap kagum suasana sekitar, burung-burung berkicauan riang. Terbang tinggi lalu menukik tajam.
"Jujur saja aku juga jarang ke sini, paling saat akhir pekan," aku Berry.
"Peninggalan orang tua?"
"Yah, begitulah," sahut Berry.
Keduanya sudah berdiri dengan jarak satu langkah dari Clay, Berry pun berujar, "Izinkan aku bukan pintu." Pria berlesung pipi itu membungkuk sopan dengan sebelah tangan di balik punggung.
"Maaf, aku terlalu antusias." Clay tersenyum malu-malu, sambil mengusap alis kanan. Lalu mundur selangkah di dekat Robbin, menggamit lengan keras suaminya. Dan, mendapat usapan sayang di pipi kiri.
__ADS_1
Meski jarang ditempati, rumah Berry sangat terawat, dia menunjukkan beberapa ruang. Ada perpustakaan mini di bawah tangga, tiga kamar tidur di lantai atas. Semua perabotan tampak mengilap.
"Buatlah diri kalian nyaman di sini," kata Berry sebelum meninggalkan suami-istri itu berdua-duaan.
Robbin menutup pintu, dia menunduk untuk menyapukan bibir di pipi Clay. Jemarinya menelusuri tulang rusuk dan berakhir di pinggul. Dia menyukai aroma lembut yang menguar ketika menenggelamkan wajah pada ceruk leher istrinya. Menenangkan, tetapi mampu menghanyutkan. Merayu Robbin untuk berbuat lebih jauh.
"Kak Robbin, aku tidak berpikir untuk membuat kenangan manis di sini," bisik Clay di telinga Robbin. Meski sebetulnya tergugah oleh sentuhan manja penuh tuntutan suaminya.
"Hanya berpelukan, tidak lebih, aku janji," ucap Robbin parau lantas melonggarkan rengkuhan.
Iris mata keduanya terpancang kuat, Robbin merapikan sulur anak rambut Clay ke belakang telinga. Tanpa aba-aba bergerak di balik tengkuk, saling bertukar napas cukup lama hingga tersengal. "Manis, terkena diabetes pun aku rela."
Ibu jari Robbin mengusap bibir Clay yang tampak merah dan sedikit bengkak. "Kenapa kamu tidak pakai hadiah dariku?"
"Hadiah?"
"Itu yang ada di kotak beludru."
Tidak sadar Clay membimbing telapak tangan ke leher, mimpi waktu itu menyisakan trauma yang mendalam. Bahkan jari-jemarinya mendadak gemetaran saat memasukkan ke dalam koper tadi.
"Kamu baik-baik, saja?" tanya Robbin, menyadari kecemasan pada raut wajah Clay. Jemari lentik sang istri lebih dingin dari sebelumnya.
Tenggorokan Clay susah menelan saliva. "Aku oke."
"Kalau kamu tidak suka hadiahnya bilang saja, begitu sampai Jakarta kita beli yang baru. Atau sebelum balik kita belanja dulu."
"Kak Robbin tidak kecewa kalau aku minta ganti yang baru?"
Alis Robbin mengerut, dia menangkup kedua pipi tirus Clay. "Tentu saja tidak, apa, sih, yang tidak aku berikan untuk istri tersayang?" Kemudian, mencolek ujung hidung.
Mata bulat Clay semakin bersinar, sebagaimana hatinya saat ini. Dilimpahi cinta yang begitu besar. Akhir kisah cinta penuh paksaan kini berujung manis. Dia tidak lagi membangun cinta seorang diri, Robbin sekarang turun andil di dalamnya.
"Hey, mau apa?" Robbin memegang pergelangan tangan Clay. Jemari lentik itu menarik ujung sweter.
"Bukan baju," tegas Clay.
__ADS_1
"Eh, eh, katanya tidak berpikir buat kenangan di sini?" Iris mata Robbin berkilau jail, menatap bibir penuh Claymira. Seksi, itu yang kini bersemayam dalam pikiran.