
Kawasan tempat tinggal Jeremy tidak mengejutkan Robbin, tiada ubahnya kompleks—sederet hunian dibangun berdekatan dan hampir sama dengan satu lainnya. Kebanyakan dilengkapi halaman mungil dan serambi, tetapi tidak memperlihatkan kemewahan.
"Granny," sapa seseorang kepada wanita berusia senja yang sedang duduk santai sambil menikmati secangkir teh di serambi.
Karena berada di rumah orang yang sedang Robbin cari, dia menduga bahwa itu nenek Jeremy. Tatkala mendekat, dirinya berusaha menampilkan peran seolah-olah teman lama. Tanpa canggung sedikit pun bertanya, "Permisi, Ma'am."
"Ya," sahut Granny sambil menurunkan kacamata ke ujung hidung. "Kalau kamu mencari Jeremy, dia tidak ada di rumah."
Wah, apa sebelumnya ada yang mencari tikus ini lebih dulu? Robbin bertanya-tanya dalam hati. Dia agak terkejut mendengar ungkapan wanita tua itu. Sebelum berkata Robbin berdeham. "Apa Anda tau ke mana?"
"Ya, ampun, mana aku tau. Dia itu pemuda bandel, beberapa hari lalu mencuri mobil ayahnya untuk berkemah di hutan," cerocos Granny, geram.
Tunggu, ada yang tidak beres di sini, Robbin mengusapkan telunjuk ke pelipis kanan. "Hutan?"
"Ya, ban mobil itu penuh lumpur, bagian belakangnya penyok akibat tergelincir dan menabrak pohon." Granny terus menggerutu.
Untuk apa? Oh, Tuhan, apa Jeremy memata-matai kehidupanku? Tidak, tidak, dia merencanakan hal buruk terhadap Clay, batin Robbin, berbagai spekulasi berkecamuk di pikiran.
"Kamu temannya?" tanya Granny tiba-tiba, baru menyadari bahwa etnis mereka berbeda. Dia memicing, mengarahkan pandangan dari ujung kaki sampai kepala Robbin.
"Iya, dia menolong istriku beberapa kali, jadi aku merasa berutang budi," kata Robbin tidak sesuai dengan isi hati, di mana dia ingin membuat perhitungan begitu menemukan keberadaan Jeremy.
"Oh, wanita asia itu istrimu?"
"Dia di sini?" Robbin nyaris berjingkrak mendengar ucapan Granny. Prasangka buruk tentang Jeremy terbang sebagai dari dalam kepalanya.
"Iya, satu hari lalu. Kasihan, dia tidak sadarkan diri waktu di bawa ke sini dan Jeremy membawa wanita malang itu pergi lagi," papar Granny, masam—lalu melanjutkan. "Anak bandel itu bilang mau mengantarkannya pulang. Hey, tapi kenapa kamu malah mencarinya kemari? Oh, ya, ampun. Bocah itu berbohong! Begundal itu pintar membuat masalah!" gerutunya, wanita tua itu tidak melihat geram kemarahan yang kembali hadir di mata Robbin.
"Baiklah, Ma'am, Terima kasih atas informasinya," pamit Robbin, berjalan ke arah mobil jaguar hitam yang disewa untuk beberapa hari.
"Apa Jeremy punya catatan kriminal?" tanya kepada Berry.
"Mungkin."
"Oke, kita harus tau tempat nongkrong atau kerjanya di mana," gumam Robbin.
__ADS_1
Belum juga meninggalkan perumahan, Granny dihampiri dua pemuda berpenampilan sangar. Kalung rantai melingkar di leher dan satu orang lagi di saku celana.
Pemuda-pemuda itu bersikap kasar, sehingga Robbin memutuskan untuk turun tangan.
"Rob, cukup, jangan sok pahlawan, oke!" tegas Berry.
"Tenang, aku hanya ingin bicara dengan mereka."
Sesuai kata-katanya, Robbin tidak mengambil tindakan kekerasan. Namun, mengeluarkan sejumlah uang dari saku jaketnya. Setelah memastikan Granny aman, baru kembali ke mobil.
"Well, apa yang terjadi?" Kelakuan ingin tahu Berry menggebu-gebu.
Sebelum menyahuti, Robbin mengenakan sabuk pengaman. "Apa ada yang mencurigakan selama aku pergi untuk membeli tiket?"
"Tidak, apa ada sesuatu yang tidak beres?"
"Aku curiga Jeremy menguntit ke mana pun Clay pergi. Dia kalah taruhan dengan kedua orang tadi, dan aku khawatir Clay dijadikan alat untuk mendapatkan uang."
"Apa dia psikopat?"
Jarak dari kediaman Jeremy menuju rumah Berry memakan waktu sekurang-kurangnya dua jam, sehingga mereka memutuskan untuk mampir ke rumah makan cepat saji.
Seperti biasa Berry sering menjadi pusat perhatian, entah mengapa penampilan berantakan pada dirinya menambah kesan jantan. Apalagi ditunjang dengan tinggi badan 195 cm dan otot di bagian-bagian tubuh yang tepat.
Namun, itu tidak berpengaruh terhadap wanita berkacamata yang duduk di pojok rumah makan itu. Berry mengenalnya, ah, dia tidak bisa melupakan wanita mungil itu. Senyum tersungging hingga pipinya menciptakan cekungan dalam.
"Tunggu sini." Berry mendahului langkah Robbin dan temannya itu menggeleng, tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Lama bekerja bersama Berry, membuat Robbin sedikit banyak mengetahui tabiat teman bulenya itu. Bukan bermaksud menguping, tetapi karena tidak ada tempat lagi, dia duduk berdekatan dengan meja wanita mungil itu.
"Aye, Nona tidak tau terima kasih! Kita berjumpa lagi," ucap Berry, tetapi tidak mendapat tanggapan, malah wanita itu hendak pergi.
Seketika itu Berry menumpukan kaki kiri di bangku depan, sehingga wanita itu tidak bisa berkutik. "Santai saja, tidak perlu buru-buru."
Tidak lama, seorang pramusaji datang dan meletakkan pesan wanita itu. "Silakan menikmati."
__ADS_1
"Terima kasih," sahutnya, "Pak, tolong jangan ganggu saya."
"Pak?"
Wanita itu memutar bola mata, jengah. "Wajahmu terlalu boros untuk dipanggil kakak."
Berry tertawa lepas, hal itu kontan menambah kadar pesonanya. "Ah, aku belum pernah memakan orang sebelum ini."
Rupanya, Robbin ikut menahan tawa mendengar gertakan Berry, tetapi dia memilih bukam dan menunjukkan apa yang dipesan kepada pramusaji.
"Eeh, itu minumanku," bentak wanita berkacamata, sayang suara wanita itu begitu lembut didengar.
"Kamu tau, ini tidak cukup untuk menebus ucapan terima kasihmu," terang Berry santai lantas mencomot kentang goreng.
Ketika hendak memaki lagi, pria berpakaian necis dan wanita seksi menegur wanita yang bersama Berry. "Ainsley, oh, jadi benar dia selingkuhanmu?"
"Maling teriak maling," sindir wanita mungil bernama Ainsley, dia mulai memahami arah pembicaraan lawan bicaranya. "Oh, ya, kita sudah tunangan."
Bukan hanya Berry yang terkejut atas pengakuan Ainsley, wajah dan telinga Robbin merah karena tersedak mendengar itu. Dia tidak tahu kalau diam-diam sang teman memiliki hubungan serius dengan wanita yang jauh dari seleranya.
Ainsley menyelipkan tangan ke lengan kokoh Berry, sedangkan pria berlesung pipi itu tampak acuh tak acuh.
Secara naluri, Ainsley tahu wanita seksi yang sedang bersama mantan pacarnya melempar tatapan penuh goda ke arah Berry. "Mengapa tidak kamu kenalkan kepada kami."
"Kurasa pengalaman mengajarkan aku agar tidak sembarangan memperkenalkan pasangan," celetuk Ainsley, ketus.
"Kenapa tidak, aku Berry McDavoy."
Si wanita seksi menyerobot uluran tangan Berry. "Senang berkenalan denganmu Mr. McDavoy." Hendak menempelkan pipi, tetapi dengan cepat dihindari.
Robbin yang melihat sandiwara itu mengernyitkan alis, sejenak pikiran suntuknya hilang sebab penasaran adegan yang terjadi berikutnya.
"Maaf, aku bisa kena cakar kalau bersentuhan dengan wanita lain lebih dari berjabat tangan. Bukan begitu, sweetheart?" Secara tak terduga, Berry meraih dagu Ainsley, menerapkan cium kelas ringan, tetapi sanggup mengguncang persendian. Dia menyapukan lidah di sudut bibir wanita mungil itu. Menikmati kecupan manis seraya berbisik. "Hanya dirimu wanita yang terakhir dalam hidupku."
Robbin menahan tawa geli melihat ekspresi Ainsley yang menyiratkan keterkejutan. Jemari mungilnya mengepal ketika menerima serangan tiba-tiba dari Berry.
__ADS_1