
Untuk tiba di Bandar Udara London City membutuhkan waktu sekurang-kurangnya tiga puluh satu menit, dengan jarak tempuh sejauh sebelas mil. Dari taman Hyde mengambil arah barat di Cumberland Gate menuju N Carriage Dr, lurus ke Bayswater Rd. Lalu, berbelok ke kiri melewati Piccadilly, kemudian masuk-keluar empat kali jalur bebas hambatan.
Setibanya di tempat parkir bandara, Robbin berlari ke sisi pintu tempat Clay duduk. Wanita itu enggan melangkah, dia menatap halaman parkir tanpa benar-benar melihatnya.
"Ayo, dong, aku janji menyusulmu secepat mungkin," bujuk Robbin.
Napas berat Clay berembus kasar, dia menoleh ke arah Robbin. Binar mata bulatnya memancarkan ketidakrelaan, lidahnya seakan-akan kaku ketika mengatakan keberatan. "Kak Robbin—"
Tercipta jeda dua menit sebelum Clay melanjutkan kata-katanya, "Tolong, jangan usir aku."
"Astaga, siapa yang usir kamu?" Robbin menggeleng, bisa-bisanya Clay berpikir demikian dangkal. Sungguh keputusan ini juga berat baginya, tetapi kejadian nahas yang hampir merenggut nyawa itu memaksakan diri untuk menentukan pilihan. "Pahamilah, bahwa aku berusaha memperkecil resiko dari pekerjaanku. Sama sekali tidak ada maksud lain."
Sklera yang melindungi bagian penting di dalam mata Clay mulai merah, pun kelopaknya membendung air yang siap tumpah dalam sekali kedip. Dia menyedot lendir yang hendak keluar dari lubah hidung. "A-aku tidak mau pulang, sudah lama aku memimpikan bersama-sama terus dengan Kak Ro-Robbin."
Pundak Clay merosot, lalu berguncang. Tangisnya pecah, diraihnya selembar tisu di dasbor.
Telapak tangan Robbin mengusap wajah sendiri dengan kasar, lalu membungkukkan badan. Dia merengkuh bahu Clay, lututnya bertumpu di pijakan bawah pintu. "Hentikan, jangan menangis. Ini untuk kebaikan mu."
Robbin mengecup lama pelipis istrinya, sebelah tangan yang lain mengusap pucuk kepala. Berbisik lembut di telinga Clay, "Aku hampir mati melihatmu terbaring tak berdaya akibat keteledoranku. Tidak lagi, Clay, keselamatanmu terancam bersamaku."
"Sama saja, aku mati pelan-pelan kalau jauh darimu," cicit Clay.
Rengkuhan lengan Robbin mengendur, dia meraih dagu Clay agar menoleh ke arahnya. Mengecup bibir bergetar itu singkat, dan terasa sedikit asin bercampur air mata. "Jadi, kamu ingin kita berdua mati di sini, jauh dari keluarga?"
"Tidak, bukan begitu, Kak Robbin, aku hanya—"
"Aku tidak merasa kamu merepotkan, tetapi sikap membangkangmu menyulitkan pergerakanku." Robbin mengusapkan kedua ibu jari di masing-masing pipi basah Clay. "Kali ini, untuk sekali saja menurutlah."
"Menurut bukan gayaku," bentak Clay.
Robbin kontan berdiri dan menyelipkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana. Rahang bersikunya mengeras, terdengar gesekan geraham. "Memang bukan, kamu itu manja, keras kepala, dan susah diatur. Setuju atau tidak aku memaksamu pulang!"
"Terserah!" Clay geram lantas keluar dari mobil, mengambil langkah panjang penuh tekanan pada setiap pijakan. Dia berputar ke bagian belakang mobil, menurunkan kopernya sendiri.
"Aku tidak butuh bantuanmu!" Clay menyentak telapak tangan Robbin yang hendak membantunya mengangkat koper. "Lihat, aku tidak manja apalagi keras kepala."
__ADS_1
Clay menjinjing koper dengan susah-payah sebab beratnya sanggup mengendurkan persendian tangan, sedangkan Robbin memperhatikan semua itu sambil menahan tawa.
"Sudahlah, sini biar aku saja," kata Robbin.
"Silakan kalau kamu memaksa!" Clay berjalan satu langkah di depan sang suami, dan tindakan impulsif itu tidak luput dari penilaian Robbin.
Iris mata kecokelatan Robbin menikmati gerakkan gemulai pinggul Clay, alangkah indah dan menggoda dari belakang. Betapa elok kaki jenjang yang berbalut celana jeans ketat, berlenggak-lenggok anggun bak model ternama.
"Bisa cepat sedikit! Aku tidak mau disalahkan kalau ketinggalan pesawat," ujar Clay dari balik bahu. Dia bersikap tidak peduli, menyusupkan jemari lentiknya ke dalam tas selempang. Mengeluarkan kacamata untuk menutupi kelopak matanya yang sembab.
Di belakang Robbin tersenyum simpul, menggeleng pelan dan mengayunkan kaki lebih cepat.
Keduanya berbaur dengan hiruk-pikuk orang-orang di lobi bandar udara, di tengah keramaian, jarak Robbin dan Clay terhalag dua orang. "Clay!"
Clay sengaja menulikan indra pendengar, tiada niat mengurangi laju langkahnya. Acuh tak acuh, sembari mengangkat dagu, siapa suruh menilai orang sembarangan.
Karena melangkah terburu-buru, tanpa sengaja Clay menabrak seseorang. Refleks, orang itu menarik siku agar dirinya tidak terjerembab. Lengan kokoh si pria kini berada di balik punggungnya.
"Maaf, Miss," ucapnya penuh sesal. "Oh, kurasa kita pernah bertemu."
Namun, Clay justru melepaskan cengkeraman Robbin di sikunya. "Apa yang Kak Robbin lakukan, dia membantuku supaya tidak jatuh."
Robbin mendengus keras, menunjukan bawah alasan Clay tidak diterima.
"Senang bisa bertemu denganmu, Miss."
Clay mencermati raut wajah pria bule itu, lantas berseru, "Jeremy, Jeremy, kan?"
"Nah, betul sekali." Jeremy bersikap ramah.
"Kenalankan, ini Robbin—"
"Suaminya!" sambar Robbin, pria bernama Jeremy harus tahu bahwa Clay sudah bersuami. Dia menarik bahu sang istri lebih rapat ke dadanya. Hal yang paling menyulut emosi adalah si Jeremy terus memandangi Clay.
"Baiklah, sampai jumpa, Miss, Eun, Mrs—" Jeremy menatap Robbin, dan....
__ADS_1
"Mrs. Robbin," sambung Robbin.
Tidak disangka-sangka, Jeremy meraih telapak tangan Clay, mengarahkan punggung tangan ke bibir.
"Brengsek!" seru Robbin, mendorong bahu Jeremy yang menunduk. "Dia sudah ada yang punya, Bung! Aku harus menggunakan apa agar kamu mengerti?"
"Bahasa inggrismu lancar, kok," sahut Jeremy. "Dan, itu tadi hanya untuk menghormati wanita secantik Clay."
"Omongan kosong! Pergi dan hormati wanita lain sana!"
"Kak Robbin, sudah," ujar Clay, dia menoleh singkat ke arah Jeremy. "Maaf, kita harus pergi, bye."
Jemari ramping Clay menarik siku Robbin, dia jauh meninggalkan pria bule tadi di belakang. "Apa-apaan, sih?"
"Kamu yang apa-apaan? mau-maunya disentuh orang lain! Coba bayangan berapa banyak tangan yang dicium olehnya!" Robbin bersedekap dan membuang muka. "Lupa sedang marak virus corona?"
Clay tergelak, wajah cemberut Robbin menggelitik hatinya saat ini. Melambung tinggi gara-gara mode protektif suaminya. "Lalu, apa yang harus kulakukan? Masukkan tangan ke dalam alat pemanas dengan suhu 56 derajat celcius!"
"Bukan kamu, tapi orang itu yang kubakar!" tegas Robbin.
Melalui pengerasan suara, panggil untuk naik ke lambung pesawat telah diumumkan. Robbin menarik koper Clay menuju bagasi. Wanitanya melewati semua pemeriksaan keamanan sebelum melewati gerbang menuju lapangan lepas landas.
Clay berbalik arah dan menghamburkan diri ke dalam pelukkan Robbin. Pipi basahnya menempel di dada bidang sang suami. "Terakhir, untuk terakhir kalinya aku memohon. Izinkan aku tinggal, Kak Robbin."
Robbin bergeming, lengan kirinya melingkupi bahu serta telapak terulur mengusap lembut kepala Clay. Dia melingkarkan lengan kanan ke pinggul ramping istrinya. "Masih sama, My Angel, tidak."
Tangan Clay terangkat, memukul dada Robbin keras-keras hingga berdebum. Tubuhnya semakin berguncang karena tangis, dia mengabaikan tatap orang di sekitar.
Kepalaan tangan Clay terbuka, bertolak dari dekapan Robbin. Dia tidak mau mengangkat kepala, memfokuskan mata ke lantai di bawah kakinya.
"Clay lihat aku," perintah Robbin tidak diindahkan, wanita itu mundur dua langkah sebelum berbalik badan menghadap ke gerbang menuju landasan.
"Clay!"
Bibir Robbin terkatup rapat, pandangan kabur sebab mata kecokelatan mulai memproduksi kelenjar air. Dengan kata lain, dia memproses lakrimasi untuk mengurangi rasa sakit di hati.
__ADS_1
Entah esok hari atau lusa nanti, Robbin tidak tahu pasti kapan bertemu lagi dengan Clay. Namun, dia bertekat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat.