Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 49: Sekarang menurutlah


__ADS_3

"Apa tindakan mu ini mengarah ke hubungan intim pada pagi hari?" Mata Robbin memicing, menunggu gerakan jemari Clay yang terhenti karena teguran.


Clay mendongak, mata cerianya berdenyar penuh arti, bibir ranumnya menyunggingkan senyum. "Uh, ya, aku sudah tidak sabar menguras keringat."


Robbin meraih pergelangan tangan Clay, memutar tubuh gadis itu hingga membelakanginya. Lengan kokohnya melingkar di atas dada sang istri yang kembang-kempis. Dia menggeram karena terdesak muatan keinginan untuk melucuti setiap helai penghalang kulit bertemu kulit.


Napas hangat nan lembut melumpuhkan persendian, Clay memejam sebentar. "Bisa lepas sekarang sebelum kehilangan kendali?"


Dahi Robbin mengernyit, dia menyuruk wajah di tulang selangka Clay. Pertanyaan wanita itu lebih menyiratkan pernyataan, dengan enggan dia melonggarkan rangkulan.


"Aku mau periksa lukamu, Kak Robbin." Clay mengentak kaki ke lantai dan menurunkan paksa lengan suaminya. "Sekarang, menurutlah."


Pasangan itu duduk bersisian di pinggiran tempat tidur, pertama-tama Clay menarik sweter, lalu baju Robbin melewati kepala. Dada bidan pria itu terekspos secara menakjubkan. Otot-otot perutnya terlihat keras dan hasil olahraga rutin menciptakan tonjolan proporsional.


Robbin hampir tergelak—tersebab—tidak habis pikir dengan pikiran sendiri. Dia pun diam, membiarkan Clay memeriksa dada sampai pinggangnya. "Aku tidak tau kalau kamu lulusan kedokteran," sindirnya.

__ADS_1


"Ya, bukan. Apa susahnya mengganti perban." Kelopak mata Clay mengerut, cedera Robbin menyisahkan baret merah lumayan panjang. "Sudah menutup."


"Ini tidak ada apa-apanya," gumam Robbin.


"Pernah mengalami lebih parah dari ini?"


"Keserempet peluru." Robbin menunjuk pinggang sebelah kanan, ada bekas sekitar sepuluh senti membujur di sana. "Mungkin perawat itu suka menjahit atau gimana, sampai menyematkan delapan baris benang."


"Ha-ha-ha, garing tau!" sentak Clay, lalu mengutarakan maksudnya, "Aku tidak berniat melarangmu atau apa, Kak Robbin, tapi alangkah baiknya kalau berhenti dari pekerjaan berbahaya." Clay berbicara pelan pun dengan jemarinya, menyusuri luka dengan perlahan.


"Selagi kamu tidak keberatan punya suami pengangguran," sahut Robbin acuh tak acuh lalu menarik tangan Clay yang menggelitik dadanya. "Kurasa tidak perlu diperban ulang."


"Hah! Yang benar saja, emang napas bisa disambung dengan cinta supaya hidup berlangsung lama?" Robbin mengenakan lagi bajunya. Kemudian melempar pandang kepada Clay.


Seraut wajah berhias seringai menguatkan insting primitif Robbin, Clay menggodanya dengan menaik-turunkan alis serta berujar, "Bisa, mau kutunjukkan?"

__ADS_1


Robbin menaikkan sebelah alis, menanti apa yang coba diperlihatkan. Tanpa peringatan, Clay menyatukan bibir mereka. Detik berikutnya dibuat terkejut karena wanita itu meniupkan udara. Oh, ya ampun. Bukan terbantu oleh napas buatan, Robbin justru menyambutnya dengan ******* hingga tersengal-sengal.


"Ah, Kak Robbin mengacaukan opiniku."


"Dih, kamu yang mulai." Robbin tersenyum tengil. "Eem, aku akan pergi sebentar dan Berry tetap tinggal untuk menemanimu."


"Harus?"


"Ya, My Angel." Robbin sudah beranjak dari duduknya lebih dulu, mengulurkan tangan untuk membantu Clay.


Sambil memaksakan senyum Clay menggapai telapak tangan si suami, menggenggam erat-eret sebelum kembali dilepaskan.


Robbin merasakan emosi ketidaksetujuan wanita itu, dengan lembut diraihnya dagu Clay. "Kamu makin menggoda kalau lagi marah."


Pernyataan jujur dari dalam hati, Robbin gemas melihat bibir cemberut wanitanya. "Kalau kali ini kamu nurut, aku berjanji akan mempertimbangkan usulmu tadi."

__ADS_1


"Serius?"


Robbin mengangguk sekali, tetapi tegas.


__ADS_2