
"Kak Robbin, stop!"
Embusan napas kasar Robbin menerpa wajah Clay, dia menegakkan duduknya sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangan. "Apalagi?" tanyanya kemudian, geram.
Clay merapikan rambut serta baju yang sedikit acak-acakan. Berdeham beberapa kali guna menormalkan debaran jantung, dia mengambil salah satu bantal sofa dan meletakkan di atas pangkuan. "Kenapa selama pergi tidak kasih kabar? Malah ponselnya mati. Kak Robbin sengaja, kan? Tidak ingin diganggu saat bersama dengan wanita itu?"
"Gini, kumpulin dulu semua pertanyaan yang ada di dalam kepalamu itu!" geram Robbin. Dia tidak mau ada kendala ketika berusaha meraih puncak. Cukup sudah menahan sejak kedatangan dan ketakutan berhubungan dengan makhluk bergender wanita.
"Hanya itu, Kak Robbin, tidak ada lagi." Clay mengedipkan mata juga mengangkat ketiga jari sebagi tanda kesungguhannya.
"Baiklah, akan kujelaskan secara singkat, oke." Robbin mengembuskan napas sebelum mengeluarkan kejengkelan kala mengingat kecerobohan Meghan—rekan kerjanya seminggu yang lalu.
"Ayo," desak Clay tidak sabar, dia mengentak lantai yang berbalut karpet bulu berwarna abu-abu. Telapak kaki yang tidak beralas sedikit geli karena gerakan itu. Pikiran dan jiwanya jadi meronta-ronta ingin disentuh suaminya. Akan tetapi, bukan sekarang. Dia perlu tahu lebih banyak lagi mengenai apa-apa yang dilakukan Robbin selama bekerja.
"Poselku jatuh ke air," kata Robbin.
"Emang aku anak kecil apa percaya gitu aja?" Clay melipat tangan di depan dada.
"Ketidakpercayaan mu yang menjelaskan itu," terang Robbin sambil menjepit ujung hidung mancung Clay sekilas. Dia mengulas senyum ketika bibir istrinya mengerucut.
"Aku tau Kak Robbin tidak seceroboh itu."
"Memang bukan aku yang menjatuhkan, tapi dia," balas Robbin seraya menarik bahu Clay, kemudian kedua lengan memeluknya kencang dari samping. "Awalnya aku jengkel, tapi, ya, sudahlah itu tidak sengaja."
"Kenapa tidak pinjam ponsel wanita itu untuk memberi kabar?"
"Aku tidak hafal nomormu," aku Robbin.
"Jahat! Padahal aku hafal nomor hp sampai nomor celana Kak Robbin!" umpat Clay asal lantas tersipu malu.
"Oh, gitu, jadi aku juga harus tau nomor celanamu, termasuk yang tersembunyi di baliknya," goda Robbin. Baru memikirkan saja sudah membuat seluruh indranya menegang.
Kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu pun saling merayu, mendesak satu sama lain dalam gurauan-gurauan manja. Saling menggelitik hingga tawa menggema ke setiap penjuru ruang tamu.
__ADS_1
"Kak Robbin, aku lapar," rengek Clay lalu menjauh dari Robbin.
Robbin menggunakan jari-jari tangan untuk merapikan sulur-sulur anak rambut Clay yang berantakan. "Kita harus berbelanja, persedian habis."
"Ya, ayo!" Clay menarik lengan Robbin sembari berdiri.
Robbin pun beranjak dari duduk dan melingkarkan lengan ke pinggul ramping Clay. Menarik lebih rapat ke arahnya, kemudian dia kecup ringan pucuk kepala sang istri. Dia tidak menduga telah menemukan wanita sesempurna Claymira Marcusya.
Begitu selesai bersiap-siap keduanya menuju ke super market. Bermaksud membeli beberapa jenis buah-buahan dan sayur-sayuran juga minuman kaleng. Tidak lupa membeli daging dan ikan segar.
Pintu gedung lantai satu itu terbuka ketika pengunjung masuk. Cuaca terik di luar begitu kontras dengan kesejukan di dalam super market serba ada ini.
Clay menggamit lengan Robbin seperti biasa, dia menarik pria itu supaya mengikutinya. Meski tingkahnya kekanak-kanakan tidak membuat Robbin geram, justru sang suami merasa gemas bukan kepalang.
Robbin dan Clay berjalan menuju salah satu barisan rak yang berisi minuman-minuman kaleng. Keduanya mengambil kesukaan masing-masing.
Ketika Robbin mendapati Clay berbincang dengan pemuda berkulit putih dan berambut pirang. Dia mendekati mereka sambil memelotot dan menghardiknya. Dan, dia tidak peduli kalau pun dianggap sebagai suami yang protektif.
"Kak Robbin, apa-apaan, sih?" gerutu Clay. "Mereka hanya bertanya letak beberapa barang."
Bibir ranum Clay mengulas senyum. Hampir-hampir tertawa malah, hanya saja tidak mau merusak sesuatu yang langka. Jarang sekali Robbin mengekspresikan perasaan terhadapnya dan ini seingat dia yang pertama.
Selesai berbelanja, Robbin tidak pergi ke mana-mana lagi. Mengurangi berkeliaran di tempat-tempat umum merupakan solusi. Dia tidak mau orang-orang yang menyerang di bandara mengetahui keberadaannya.
"Kak Robbin, kita sudah putar-putar jalan ini dua kali, loh, dan seharusnya lebih cepat kalau lewat sana." Tunjuk Clay, karena tidak mengetahui alasan Robbin berkeliling dan mencari rute agak jauh dari rumah.
"Jalan-jalan sama kamu itu menyenangkan." Bohong Robbin, supaya Clay tidak terlalu panik. Dia sesekali melirik ke arah spion, benar-benar memastikan tidak ada yang mengekor.
Clay mengulurkan tangan seraya mencubit geram pipi Robbin. "Oh, so sweet-nya. Lebih manis lagi kalau kita segera sampai. Aku lapar Kak Robbin, gombalanmu tidak bisa membuat perutku kenyang."
Tawa Robbin menggelegar, raut wajah Clay saat merajuk terlampau menggemaskan. Bibir ranum wanita itu mencebik, hingga Robbin menarik lebih dekat lantas memberi kecupan sepintas.
"Ih, perhatikan jalan," gerutu Clay. Menyadari betapa bahaya aksi Robbin barusan. "Kamu tau, debarannya jadi berlipat ganda."
__ADS_1
Kepala Robbin menggeleng pelan tatkala mendengar gerutu Clay. Dia bahkan ingin mencicipi bibir manis itu lagi. Dan, benar konsentrasinya buyar berada sedekat ini dengan Clay.
Setelah perjalan yang dipanjang-panjangkan itu berakhir, Robbin bergegas mengeluarkan seluruh kantong belanjaan. Membiarkan Clay berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu.
Clay terlihat antusias begitu kantong-kantong diletakkan di atas meja. "Stroberiku mana?"
Robbin ikut mencari-cari ke kantong lain sembari mengeluarkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menu kali ini. Dia tersenyum simpul begitu menemukan buah kesukaan istrinya. Tanpa berkata dia berjalan menuju keran air, mencuci beberapa biji kemudian meletakkan di atas piring.
"Wah, Kak Robbin sudah menemukannya." Clay berdiri di belakang Robbin secara tiba-tiba sambil memeluk pinggangnya sekilas lalu mengambil sebiji.
Tubuh yang semula tegang segera rileks begitu Clay menjauh. Robbin mengembuskan napas lantas melangkah menuju meja.
"Heemm, seger," celetuk Clay sambil merem. "Kak Robbin mau?"
"Terima kasih, itu terlalu asam," tolak Robbin seraya bergidik seakan-akan merasakannya.
"Benarkah?" Clay mendekat, menyentuh dada bidang berbalut kaos hitam polos Robbin. Dia mengambil sebuah stroberi menggunakan tangan satunya. "Sekarang, Kak Robbin tutup mata."
"Jangan macam-macam!" sergah Robbin.
Clay tergelak. "Ayolah, sebentar saja."
Alih-alih menolak dengan keras justru Robbin menuruti permintaan aneh sang istri. Dengan santai dirinya menunggu apa yang akan terjadi, dan merasakan jemari Clay menyentuh bibir bagian bawah. Seketika ribuan semut menyerbu, dia hendak membuka mata, tetapi telapak tangan wanita itu menutupinya.
Dan, dengan perlahan Clay menyelipkan buah berwarna merah itu di antara bibir dan membiarkan jemari lentiknya di situ. Sementara Robbin mengunyah secara perlahan. Hal itu membuat keinginan terpendam berpusar di dalam perutnya.
"Aaw, Kak Robbin, ih, malah digigit! Sebel!"
"Habis, katanya lapar malah main-main. Sudah duduk sana biar aku buatkan sesuatu," tegas Robbin setengah tertawa saat bicara sebab melihat kekesalan di wajah wanitanya
Sesaat berikutnya terdengar bunyi bel secara berkala, Clay pun bangkit dari duduknya. "Biar aku yang buka."
"Duduklah, biar aku saja," titah Robbin, dia harus memastikan siapa tamu yang datang. Tidak mau mengambil resiko kalau-kalau, orang berniat buruk berkunjung.
__ADS_1
Robbin mengintip melalui lubang intip di pintu. Napasnya sempat tercekat beberapa detik sebelum kedua orang di luar sana menunjukkan kode rahasia.