
Hari keempat setelah insiden itu Robbin melarang Clay ke luar rumah sendiri, segala kebutuhan Robbinlah yang menyediakan.
Pada suatu sore, Clay menghabiskan waktu dengan merawat mawar merah jambu yang dibeli dua hari lalu. Dia menyirami bunga itu dengan alat semprot. Aroma harum tercium tatkala hidung mendekati kelopak yang merekah.
"Cantik, cantik sekali," gumam Clay, mata bulat cerahnya menyipit tatkala tersenyum.
Clay menatap langit biru yang berangsur-angsur menjadi jingga keungu-unguan, matahari sore memancarkan sinar kelembutan. Angin dingin bertiup sepoi-sepoi, mengajak rambut terurainya menari-nari riang. Wanita itu tampak menyelipkan sulur-sulur anak rambut ke belakang telinga.
Dari lantai dua Clay mendengar bunyi bel, karena sedang asyik merawat bunga dia tidak tahu ada orang yang melintasi teras. Demi kesopanan, dirinya bergegas menuruni tangga dan membuka pintu.
"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Clay kepada kedua orang di depannya.
Clay menoleh kepada kedua pria itu secara berganti dan berujar, "Kalau tidak berkepentingan, izinkan saya—"
"Sebenarnya—" Orang itu mengamati sekitar.
Saat ini Clay sedang mengulas senyum di ambang pintu yang setengah terbuka, lamun perlahan senyum itu memudar, mata Clay membelalak, moncong pistol sudah menempel di perutnya. Dia membeku seketika, tidak menduga mendapat ancam seperti dulu.
"Jangan coba berteriak, ikut kita!" gertak salah satunya.
Tangannya masih memegang kusen, Clay hendak menutup kembali, tetapi dengan gerakan kuat dan cepat orang-orang itu menahan pintu menggunakan kaki supaya tetap terbuka.
"Keluar! Cepat!" geramnya.
Kepala Clay yang semula tegak tampak lunglai, wajah berseri-seri sesaat lalu menjadi pucat pasi. Bibir ranumnya bergetar saat ketakutan mengaduk-aduk isi perutnya. Keringat dingin mencuat melalui pori-pori, bintik-bintik air membasahi kening padahal suhu udara sedang dingin.
"Ikut!" bentak seseorang bersuara garang. "Atau ini akan menembus organ dalammu?"
Jangankan membantah atau nimpali, untuk bernapas pun terasa begitu susah, dengan tarikan berat, dia melembabkan paru-paru. Seluruh persendian Clay seolah-olah melunak karena menggeligis.
Clay hampir-hampir pingsan memikirkan apa yang terjadi setelah ini, dia tidak bisa mengharapkan kehadiran Robbin secara tiba-tiba. Suaminya itu pagi tadi berkata akan pulang terlambat.
__ADS_1
Dengan kebulatan tekat Clay berhasil menggerakkan bibirnya. "Ka-kalian siapa?" Dia berpegangan pada kusen pintu kuat-kuat.
Karena sudah habis kesabaran, orang itu mencengkram siku Clay lantas menariknya memasuki mobil. Istri Robbin berusaha membebaskan sikunya dari cengkraman orang itu. Namun, dia kalah kuat dari si penyanderaan.
Sadar tidak ada yang bisa menolong, Clay mengincar kaki orang itu dan menginjakkan kakinya di sana yang malahan mendatangkan tamparan keras.
"Bodoh! Menurutlah, jangan bengal!" bentak orang itu.
Serta-merta, kepala Clay pening juga pandangan matanya kabur dan dia menyadari darah mengalir di sudut bibirnya, seakan-akan merasakan besi di dalam mulut.
"Lepas!" Berontak Clay dengan suara serak, dia mencoba melepaskan diri meski tahu hasilnya nihil.
Segala asumsi berputar-putar di dalam kepala, Clay berspekulasi bahwa kedua orang ini mencari atau menginginkan apa yang ada pada Robbin. Dirinya mendesah dan terdengar putus asa saat berbicara, "Tidak ada untungnya bagi kalian membawaku!"
Orang itu melirik sepintas lalu, tidak terpancing oleh perkataan Clay.
"Aku tidak punya apa pun, atau apa saja yang kalian cari," ungkap Clay, dia memperhatikan raut wajah tenang orang tersebut. Dia masih ingin berjuang agar dilepaskan. "Tolong, lepaskan aku, kumohon!"
"Aww," desis Clay, telapak tangannya terasa panas dan perih.
Mobil menjauhi tempat teraman bagi Clay, dia pun bangun dengan bersusah-payah. Seberapa gentar dirinya saat ini, tidak boleh menunjukkan rasa takutnya.
Clay bersikap setenang mungkin, duduk tegak di antara orang-orang bertubuh besar kemudian bertanya, "Kita tidak saling mengenal dan bisakah salah satu di antara kalian menjelaskan apa masalahnya sampai berlaku kasar terhadapku?"
"Tidak sekarang, Miss," sahut pria bermata hijau dengan bahasa inggris yang begitu fasih.
Clay menoleh, mata bulatnya berkilat-kilat penuh harapan. Orang itu berbelas kasih kepadanya. "Lalu, kapan?"
"Setelah kita—"
"Jhon!" bentak seorang di sebelah kiri Clay dan si Jhon menggeleng singkat.
__ADS_1
Clay pun diam dan mengamati jalanan di luar jendela. Mula-mula, dia mengenali bangunan di sekitarnya, tetapi lama kelamaan, terlihat sangat asing. Dirinya berasumsi bahwa orang-orang ini menggiring mobil jauh dari kota.
Tuhan bantu aku, Kak Robbin, tolong. Clay membatin, dia beranggapan ini adalah mimpi, tetapi rasa sakitnya sedemikian nyata.
Sekonyong-konyong, tubuh Clay menggigil, dia teramat takut memikirkan kemungkinan terburuk kalau Robbin tidak menemukannya. Ujung baju di cengkeraman semakin basah oleh keringat dingin dari telapak tangannya. Dirinya tidak membawa barang apa pun yang diharapkan bisa digunakan untuk meloloskan diri.
Kak Robbin, batin Clay, Aku takut, tolong aku, orang-orang ini mau membawaku ke mana? Tuhan kupasrahkan hidupku kepada-Mu, aku percaya Engkau menyertaiku. Kedua telapak tangannya saling menggenggam di depan dada dengan memejamkan mata.
Sehabis berdoa, mata bulat Clay terbuka dan tampak merah, bulir-bulir air hangat mengalir deras di kedua pipi. Isak tangis mulai terdengar samar-samar disertai pundak yang berguncang. Dia mengusap genangan air mata dengan punggung tangan.
"Diam!" bentak si garang, geram.
Clay melonjak kaget sambil tersengguk-sengguk, dengan keberanian yang tersisa dia bertanya lagi, "Kita di mana?"
"Turun!"
Mobil berhenti di depan rumah yang begitu besar, Clay menelan rasa takutnya lantas mengikuti mereka turun. Bak tersiram air es ketika mereka membawanya menuju ruang bawah tanah.
Pintu pun terbuka, kecemasan menggetarkan sekujur tubuh mendapati tempat itu amat gelap, pengap, dan kumuh. Aroma apek menusuk tajam hidungnya, spontan dia menutup dengan kedua telapak tangan. Clay harus bisa kabur dari tempat terkutuk ini atau pilihan terakhir merupakan kematian.
Tidak, aku harus bisa keluar dari sini hidup-hidup. Clay menyemangati diri sendiri, begitu mereka pergi aku harus cepat melakukan sesuatu. Tuhan besertaku, tidak ada yang perlu ditakutkan, Clay!
"Ikat dia!" perintah si pria berwajah bengis.
Kepala Clay menggeleng dan dia hendak berlari, tetapi justru tersungkur di atas lantai basah. Rambut tebalnya ditarik paksa hingga serasa terlepas dari akar-akarnya. Dia merintih sambil meronta dan memegangi kepala.
"Jangan terlalu kasar, Cag!" Pria bermata kehijauan meraih bahu Clay.
Namun, kembali orang bernama Cag mendorong Clay hingga kepala wanita itu membentur tembok. "Hah! Terlalu lama!"
Mendadak pandang Clay semakin gelap, dia menyentuh kening yang berdenyut-denyut ngilu ketika diraba. sepersekian detik berikutnya, tubuhnya terkulai lemah.
__ADS_1
Kak Rob–bin! seru Clay lirih sebelum mata tertutup.