Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 25: Kak Robbin, Aku Mau Buat Pengakuan Dosa


__ADS_3

Ucapan Robbin ketika di dapur tadi seperti duri yang menyangkut di tenggorokan, Clay bergerak-gerak gelisah di atas tempat tidur. Dia berusaha bersikap tenang, tetapi tidak bisa. Tatapan suaminya sungguh menyiksa jiwa.


Bisa saja kejujuran yang diungkapkan Clay nantinya, dapat melukai perasaan dan kepercayaan Robbin, lalu dia harus bagaimana? Tetap bungkam atau menyerah dan menerima segala konsekuensinya?


"Aku harus jujur," gumam Clay. Dia melonjak dari tempat tidur kemudian berjalan menuju lemari dan mengeluarkan baju ganti. Dirinya berjanji kepada diri sendiri bahwa akan membeberkan semua tanpa terkecuali.


"Iya, ini yang terbaik bukan? Tentu saja Clay!" monolog Clay sebelum memanjakan diri di bawah air mengalir, dia ingin segala beban turut terbawa bersama debu yang luruh dari kulit.


Seusai menyegarkan diri, tubuh dan pikiran Clay lebih segar. Dia mondar-mandir di sekitar kamar, sesekali melihat ke luar lewat jendela bergorden putih transparan.


"Ya, aku siap menerima apa saja yang akan Kak Robbin perbuatan setelah mengetahui kebenarannya," gumam Clay. Dia mendudukkan diri ke atas kasur dan meraih ponsel, memainkan sebentar lantas diletakkan lagi.


Satu jam terlewat, Clay sudah menunggu Robbin hingga jenuh. Dia pun membaringkan tubuh dengan posisi kaki menggantung. Rupanya aktivitas-aktivitas yang dikerjakan untuk menghabiskan waktu membuat mata bulatnya terpejam. Dia telah terlelap ke dalam alam bawah sadar.


"Clay, kok, tidur di lantai?" Telapak tangan besar terasa menyentuh bahu Clay. "Seperti anak kecil aja sampai menggelinding ke bawah."


"Namanya juga tidur, Kak Robbin, mana tau kalau jatuh," gerutu Clay.


"Oh, ya, kamu sudah lihat ini, hadiah yang kusimpan di lemari sebelum aku pergi?"


"Sudah, aku sangat suka." Clay melingkarkan kedua lengan ke pinggang Robbin kuat-kuat, seraya berucap, "Terima kasih."


"Berbaliklah biar kupakaikan," titah Robbin sembari membalik tubuh Clay supaya membelakanginya.


Clay merasakan sensasi menggelitik ketika jemari Robbin menyentuh tengkuk untuk mengaitkan ujung-ujung kalung.


"Kak Robbin, aku mau buat pengakuan dosa," cicit Clay dan seketika tangan Robbin berhenti bergerak.


"Katakan." Suara Robbin terdengar begitu lembut. Dia kembali berusaha memasang pengaitnya.


Dan, nada rendah itu begitu menentramkan hati Clay yang tengah gundah. Dia berdeham dua kali sebelum berujar, "Berjanjilah, Kak Robbin tidak akan marah kepadaku!"


"Janji, kamu bisa katakan sekarang," kata Robbin masih menggunakan intonasi rendah saat menimpali.


Clay memilin-milin ujung baju lalu menarik napas dalam-dalam. Dia harus katakan sekarang atau tidak sama sekali, dengan keteguhan hati dirinya berucap, "Saat Kak Robbin tidak di rumah, maksudku, waktu bertugas seminggu lalu. Aku pernah melakukan hal yang tidak seharusnya bersama Hanes. Itu bukan kemauanku, sungguh akut tidak pernah menanggapinya dengan serius. Ini kesalahan terbesar ku karena membiarkan Hanes menyentuhku. Menciumku."


Clay mengatur udara yang hendak melembabkan paru-paru, setelah mengungkap semua, hingga merasakan hela napas terhenti di tenggorokan. Kalung yang melilit lehernya ditarik kencang oleh Robbin.

__ADS_1


"Ka-kak Ro-Robbin. A-apa yang—"


"Dasar pengkhianat, menjijikkan. Berani sekali kamu berbuat hal sehina itu di belakangku?" geram Robbin.


"Ma-maaf, Kak Robbin, kumohon le-lepaskan," pinta Clay di tengah-tengah usaha mencari oksigen sebanyak-banyaknya.


"Ikut. Aku. Sekarang!"


Clay terbatuk-batuk begitu lilitan kalung itu dilepaskan dari leher oleh Robbin. Beralih mencengkeram pergelangan tangan kecil Clay, hingga langkah wanita itu terseret-seret sebab dituntut mengikuti gerak cepat kakinya.


Robbin memaksa Clay masuk ke kursi bagian belakang mobil, kemudian menghempas pintu hingga berdebam. Air mata wanita itu terus mengalir tiada henti, tetapi tidak juga meluluhkan hati Robbin. Raut wajah si pria tampak merah padam memendam kemurkaan.


Kini, kendaraan roda empat itu melaju kencang, jauh meninggalkan barisan pohon dan lampu-lampu kota. Keduanya telah tiba di depan bangunan tua serupa kastel bertembok batu abu-abu. Namun, tidak mengurangi kemegahan sebab terdapat pilar-pilar besar berbahan marmer mengkilap.


"Kak Robbin kita di mana?"


Dengan kasar Robbin menarik Clay keluar dari mobil. Dia diam sejenak untuk meredakan emosi di dalam dada. Akan tetapi, iblis membisikkan kata, bunuh saja dia.


"Kak—"


Pria itu membawa Clay menelusuri lorong yang minim penerangan dan berhenti di depan ruang berdaun pintu ganda dengan gagang besar bersepuh emas.


Hawa dingin menyergap begitu Robbin mendorong kasar pintu kayu setinggi tiga meter itu dengan kaki.


"Hanes! Hanes! Keluar ba jingan!!!" seru Robbin berang.


"Ha-ha-ha, akhirnya, kamu menyerah juga Robbin, aku sudah tidak sabar menunggumu menyerahkan Clay kepadaku. Kamu tidak berhak atas dirinya sejak dulu!" Dari sudut ruang gelap itu Hanes berjalan lambat, dia berdiri di hadapan Clay dan Robbin dengan jarak sekitar 10 meter.


"Tidak, tidak, jangan senang dulu, Nak," desis Robbin lantas mencampakkan Clay ke lantai. "Karena, aku akan habisi kalian sekarang juga. Semoga kisah cinta menjijikkan kalian kekal di alam baka!"


Robbin ataupun Hanes saling menodongkan pistol. Sorot mata dingin keduanya sama-sama gelap dan tidak terbaca.


"Hentikan! Kumohon jangan seperti ini," bujuk Clay.


Namun, tidak ada yang mau mendengar sampai suara tembakan menggema memenuhi ruang sunyi.


"Tidak!!!" teriak Clay.

__ADS_1


"Ha-ha-ha, mampus!!!"


"Hanes!" Clay berhambur ke arah tubuh yang tergeletak bermandikan cairan kental merah pekat, bau amis seperti besi menusuk tajam rongga pernapasan. "Kak Ro-bbin."


Punggung Clay melengkung, meletakkan kepala Robbin di pangkuan dan berkata, "Kak Robbin, tidak, jangan tinggalkan aku! Sungguh aku tidak bermaksud berselingkuh darimu."


"Kak Robbin bangun!" teriak Clay di tengah tangis yang tersedu-sedu."Maafkan aku, tolong bangunlah Kak Robbin, buka matamu, aku berjanji tidak akan membuatmu kecewa."


"Kak Robbin!!!" Clay mencengkeram bahu sang suami yang sudah tidak bernyawa lagi. Dia meraung-raung hingga seluruh tubuh dan panca indra terguncang hebat.


"Jangan tinggalkan aku, Kak Robbin! Tidak!"


Keringat dingin mencuat melalui pori-pori kulit, peluh membasahi sekujur tubuh Clay saat ini. Dia bergerak-gerak gelisah dengan mata tertutup rapat. Nama Robbin terus menerus disebut tanpa henti. Sampai suara berat dan dalam menyusup lembut ke dalam indra pendengaran, pun bahunya kini merasakan guncangan.


"Clay, Clay, bangun. Hey! Bangunlah, Sayang."


"Kak Robbin!" Clay terperanjat.


Robbin merengkuh tubuh terguncang sang istri yang terlonjak kaget. Dia berusaha memberi ketenangan dengan mengusap-usap kepala Clay penuh cinta.


"Tenanglah," kata Robbin.


Clay terus saja menangis selama tiga menit meski Robbin berusaha menenangkan, wanita itu memeluknya begitu erat.


"Kak Robbin jangan pergi, aku tidak mau kamu meninggalkan ku." Suara Clay terdengar parau. Mata bulat berbulu lentiknya kini telah menyipit.


"Apa yang kamu katakan, aku tidak ke mana-mana, mimpi buruk macam apa yang membuatmu tampak tertekan?" tanya Robbin, masih membelai-belai kepala Clay.


"Aku, a-aku, bermimpi kalau Kak Robbin meninggalkan dunia ini." Isak tangis memilukan Clay teramat menyayat hati.


"Ush, ush, ush, dengarkan aku! Mimpi hanya bunga tidur. Berhenti merasa takut, aku selalu di sini bersamamu," tutur Robbin, mengendurkan rengkuhan sembari memberikan segelas air mineral yang sudah diraihnya dari atas nakas.


Lalu, lengan kokoh Robbin kembali merengkuh tubuh Clay. Mengecup pucuk kepala beberapa kali, dan hal itu terasa menenangkan. Clay merasa nyaman berada di dalam dekapan suaminya.


Dalam diam Clay merenungi mimpi, dia terlalu takut menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Baik kematian Robbin atau Hanes tidak boleh terjadi, lebih-lebih dia penyebabnya.


Sekarang apa? Gimana bisa aku lupa bahwa Kak Robbin bertemperamen keras, dia akan murka kalau aku mengatakan semuanya. Clay membatin.

__ADS_1


__ADS_2