Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 22: Jangan Coba-coba, Karena Istriku Tidak Akan Membiarkan itu


__ADS_3

Ponsel Robbin berdering tiada henti, mengganggu aktifitas intim yang belum sempat terjadi.


"Masih ada waktu seumur hidup, untuk melakukannya, Kak Robbin," kata Clay, tidak nyaman mendengar panggilan masuk ke ponsel sang suami. Dia tahu itu pasti sangat penting.


Robbin mendengus kesal, mengapa ada gangguan di saat-saat sepenting ini. "Yah, kamu benar masih ada banyak waktu."


Dalam hati Robbin bersumpah kalau informasi yang didapat nanti tidak berarti, dia akan menghabisi siapa pun yang sedang berada di seberang sana. Dengan langkah malas, dia memutari kasur untuk mengambil ponsel yang terus meraung-raung.


"Halo!" sapa Robbin datar, membekukan si pendengar, "Kamu menelepon pada saat yang sa—"


Kalimatnya dipotong seseorang di seberang telepon, Robbin mendengar pemaparan dengan alis saling bertautan. Tidak lama kemudian menggaruk kepala yang tidak gatal. "Sial, kurasa dalang si penyerang sama."


Robbin melangkah keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga. Raut wajahnya menampakkan kecemasan. Dia teringat kejadian di bandara kemarin lusa. Dia tidak mau menggiring orang-orang itu sampai ke sini. Tidak jika itu nantinya membahayakan Clay.


Robbin melihat suasana di luar rumah melalui jendela, dia kemarin memang memilih jalan memutar untuk sampai. Demi memastikan tidak ada yang mengikutinya.


"Terima kasih sudah memperingatkan aku, tapi apa kamu sekarang baik-baik saja? Pastikan kamu selalu di keramaian," pesan Robbin kemudian memberi kesempatan yang di sana berbicara. Setelah itu dia menimpali, "Biasanya ini tidak terjadi. Aku akan mengirim nomor Berry, dia ada di sekitar sana."


Robbin terdiam cukup lama, mendengar ucapan peneleponnya. Begitu ada jeda dia menuturkan. "Biar gimana pun, kamu perempuan Meg, jangan mengambil resiko."


Orang itu menyela dan Robbin mengusap wajah kasar lalu menopang ke pinggang. Dia hanya bisa berucap, "Jaga dirimu." Dan, panggilan terputus.


"Kak Robbin, ada apa? Siapa yang telepon barusan?" Clay rupanya menyusul. Dia sudah berdiri di ambang pintu dengan air muka tidak kalah cemasnya.


"Dia yang fotonya ada di hpmu. Setelah tugas ini dia diikuti orang. Pun denganku." Robbin berterus terang, ini bagus supaya kecemasan Clay berubah menjadi kesiagaan.


"Astaga, dia perempuan, Kak Robbin. Apa dia akan baik-baik saja?" Clay menjauhi ambang pintu dan mondar-mandir sembari mengusap-usap alis kanan. "Dia tidak pulang bersamamu?"


Robbin mengedikkan bahu seraya berkata, "Dia cukup terlatih, tidak akan terjadi apa-apa."

__ADS_1


Tangan Robbin terulur, kemudian jemari lentik Clay menyambut uluran itu. Robbin menuntun sang istri supaya duduk di sebelahnya. Lalu, menatap dalam wanitanya ketika saling berhadapan. Sehelai rambut halus menjuntai di pipi Clay, dia pun menyelipkan ke belakang telinga.


"Semua yang ada di bawah naungan Rocky kemampuannya sudah tidak diragukan lagi, sekali pun itu perempuan," tutur Robbin, dia menarik bahu Clay agar bersandar ke pundaknya.


Mata Robbin terpejam, dia menyampirkan lengan ke sandaran lalu telapak tangannya membelai-belai bahu Clay. Pikirannya berlari ke kejadian saat berusaha mendapatkan akses masuk kamar hotel wanita si pembawa kartu memori.


Malam itu bertepatan dengan puncak acara pelelangan saham. Setelah menutup pintu kamar, baik Robbin maupun Meghan berjalan beriringan tanpa berbicara. Karena koridor sedikit lebih ramai.


"Kamu tidak punya baju selain ini?" bisik Robbin, "Aku seakan-akan berjalan bersama pria, asal kamu tau?"


Meghan memang tidak terbiasa memakai gaun, dia cenderung mengenakan pakaian formal atau santai bercelana. Rambut sebahunya pun jarang sekali digerai, dia lebih nyaman kalau diikat ketat ke belakang.


"Aku berjanji akan menemuimu dengan rok di atas lutut setelah ini, kalau itu yang kamu maksud," sahut Meghan sambil tergelak.


"Jangan coba-coba, karena istriku tidak akan membiarkan itu."


Dua orang pria berseragam hitam membuka pintu untuk para tamu. Robbin mengulurkan lengan dan Meghan mengaitkan lengannya di sana.


Mereka memasuki ruangan bersama beberapa orang yang juga memasuki ruangan. Robbin menggiring langkah Meghan menuju kursi yang telah disediakan. Meski terlihat santai keduanya memasang telinga dan mata tajam untuk menemukan target utama.


Meghan mengode Robbin dengan menggerakkan bahu, kemudian mendapat anggukkan samar. Wanita itu menyusup di antara para undangan, hingga tiba di lorong yang sepi.


"Marc, aku sudah di luar, segera jalankan R2," bisik Meghan yang terhubung dengan Robbin melalui alat penghantar suara. Dia terus berjalan ke koridor tempat sang target menginap.


"Ada apa?" tanya Meghan yang mendapat perintah untuk berhenti. Dia menjadi lebih berwaspada dari sebelumnya. Kemudian dari seberang Robbin memberitahukan bahwa target keluar dari ruang pelelangan.


"Berapa menit sampai aku bisa masuk dan memeriksa kamarnya?" Meghan mulai gugup, dia melihat dua orang berjaga di depan kamar yang dituju, tetapi Robbin kembali memerintahkan untuk pergi dari sana. "Aku bisa, Marc!"


Setelah percakapan itu, Robbin los kontak dengan wanita itu sampai dia mendapat kabar bahwa Meghan berhasil mengambil kartu memori dalam waktu sepuluh menit.

__ADS_1


Meghan datang sambil tersenyum manis, saat itu sesi pertama berakhir dan berlanjut dengan acara jamuan. Sebagian undangan sedang melantai diiringin alunan musik.


"Sukses, kita bisa pamit lebih awal. Atau pergi begitu saja tanpa memberitahu pihak penyelenggara," kata Meghan, dia kini sedang berada di dalam pelukan Robbin.


Robbin mengulas senyum hingga sudut matanya mengerut. "Pamit atau menyeret kita dalam masalah. Mari berkemas, Rocky berjanji akan mengurus sisanya."


Keduanya pun meninggalkan acara dan bersiap-siap untuk pergi secepat atau keesokan harinya.


Robbin mengenang hari itu sama persis dengan foto yang Clay tunjukkan tadi. Itu momen terakhir ketika dia berdansa dengan Meghan. Dan, memang pada saat itu dirinya cemas sekaligus takjub atas keberhasilan rekan wanitanya.


"Aku ingin bertemu dengannya, Kak Robbin," pinta Clay, mendongak dan tatapan matanya berserobok dengan mata dalam Robbin.


"Untuk apa?"


"Untuk memastikan dia tidak lebih cantik dariku, aku tetap marah karena Kak Robbin memeluknya, tersenyum lembut kepadanya. Aku cemburu, perlu kutekankan!"


Robbin tergelak mendengar pengakuan Clay. Dia mencengkeram bahu istrinya sebelum berkata, "Tidak ada wanita lain yang secantik dirimu."


Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir, Robbin tidak pernah menyangkal kenyataan yang ada di depan mata. Pesona Clay, binar ceria dari sorot matanya, kelopak berbulu lentik yang mengayun lembut, dan bibir ranum penuh goda kala mengulas senyum.


Robbin menyadari itu jauh sebelum Clay mengenalnya, hanya saja dia terlalu takut akan kecewa. Wanita terakhir yang dicinta menorehkan luka begitu dalam, nyaris mustahil terlupa dan dapat disembuhkan.


Clay menangkupkan sebelah tangan ke pipi Robbin. "Serius, tidak ada wanita yang lebih cantik dariku? Sejak kapan Kak Robbin menyadari itu? Dan, kenapa tidak berniat menyentuhku?"


Robbin menelusurkan satu tangan ke sela-sela rambut Clay. Dia meletakkan satu tangan lainnya kebahu dan menyandarkan si istri ke sofa.


"Buka matamu. Aku ingin melihatmu berbinar," bisik Robbin di telinga Clay. Dia ingin menikmati pancaran api menggelora pada kedua mata ceria itu saat memadu kasih.


Clay menurut dan membuka mata, dia melihat iris mata kecokelatan Robbin. Tatapan itu serasa menariknya semakin dalam, membawanya masuk ke kedalaman samudra asmara. Meski terasa dingin Desir hangat menjalari urat nadi ketika ibu jari sang suami menyentuh ringan garis bibirnya yang terbuka.

__ADS_1


__ADS_2