
Pagi hari berikutnya, Clay turun lebih dahulu, bermaksud membuatkan kopi untuk mereka, tetapi ketika mencapai dapur terlihat Berry sedang mengambil sesuatu dari lemari es.
"Rob, ka—" teguran Berry menggantung, sebiji anggur merosot dari tangannya mengetahui Clay-lah yang datang.
"Heem, aku baru mau buat kopi." Clay menghirup aroma kafeina, tidak menyadari tatapan Berry, dia melangkah riang menuju kursi-meja makan.
Robbin berdeham, tahu-tahu dia menyusul di belakang Clay, sehingga Berry yang terperangah, seolah-olah tidak pernah melihat istri temannya sebelum ini tersadar.
"A-aku sudah siapkan," jelas Berry, gugup. Dia sengaja berpaling ketika berpandangan muka dengan Robbin. "Roti isi daging buat sarapan tidak masalah, kan?"
"Lebih dari cukup," tandas Robbin, menilai sikap teman baiknya, hingga melempar jauh-jauh pikiran negatif di kepala.
Oke dia teman, kamu percaya kepadanya! Robbin mengingatkan diri sendiri, tetapi rasa cemburu mampu mematahkan semua logika yang ada. Dan, Robbin menarik Clay lebih dekat, mengecup bibir ranum sang istri, memastikan sang teman memahami hubungannya di sini. Seakan-akan menegaskan ulang bahwa wanita ini adalah istrinya.
"Astaga!" Clay mendorong dada Robbin begitu menguasai situasi yang terjadi, pipinya bersemu merah menanggung malu.
Berry diam-diam mengulum senyum. "Pagi yang panas!" serunya, tidak dapat menahan tawa, dia keluar dari dapur setelah menyambar secangkir kopi sambil terpingkal-pingkal.
"Kak Robbin apa-apaan, sih?" gerutu Clay, begitu tinggal berdua.
"Sarapan pagi," sahut Robbin enteng, lalu menyesap sedikit kopi.
Clay makin mengerucutkan bibir seraya menggeram. "Bukan ituuuu."
Bukannya meladeni, Robbin justru menyuapi Clay dengan roti. "Enak?"
"Heemm, iya," kata Clay tak terdengar jelas sebab mulut masih penuh makanan.
"Habiskan dulu, aku mau bawa turun koper-koper." Dalam beberapa gigitan—roti berpindah ke dalam perut—Robbin pun mengarahkan kaki menuju anak tangga.
Sesuatu berbulu lembut terasa membelit kaki, Clay menengok kolong meja, beranjak dari duduk—membuntuti si hitam manis. Namun, sebelum itu mengambil makanan kucing di lemari.
__ADS_1
Jujur, sehari kemarin berada di tempat yang nyaris belum pernah terjamah manusia sungguh menyenangkan. Clay kini menikmati saat-saat singkat bersama kucing hitam menggemaskan juga memberi makan ikan-ikan untuk terakhir kali.
"Sudah siap?" seru Berry dari pagar pembatas serambi. "Robbin di mana?"
"Masih di atas," sahut Clay tanpa menoleh. Dia terlalu larut dalam kegiatannya.
Ketika hendak masuk, Berry berpapasan dengan Robbin di ambang pintu, kedua tangan pria itu menarik koper.
"Trims," ucap Robbin, menerima bantuan Berry—membawakan dua kopernya. "Clay, yuk!" serunya kemudian kepada sang istri.
Clay saling menepukkan telapak tangan, kemudian bergegas menghampiri kedua pria itu. Robbin mengulurkan tangan kepadanya, dia pun menyambut sepenuh hati. Menyusup lembut di sela-sela jemari kasar nan hangat sang suami.
Seperti sebelum-sebelumnya, Robbin duduk di depan bersama Berry, sedangkan Clay menempati kursi belakang. Bukan tanpa alasan, Robbin hanya tidak mau membuat sang teman berperan seperti supir pribadi.
Cuaca hari ini sedikit murung, gumpalan awan keabu-abuan terlihat berambal-ambal dengan latar belakang langit gulita.
"Ah, aku akan merindukan pemandangan di sini," ujar Clay. Dia menempelkan salah satu telapak tangan ke jendela, pun hidungnya tak luput menyentuh kaca hitam transparan mobil Berry.
"Kapan pun kalian berlibur ke sini, pintu rumahku selalu terbuka." Berry menyahut dan menoleh sekilas.
"Hey, apa ada demo?" Terka Berry.
Robbin menegakkan duduknya untuk memastikan. "Seperti perkelahian dua kelompok."
"Apa kita tunggu sampai reda?"
"Iya, paling tidak sampai aparat setempat menghentikan keributan," ucap Robbin.
Perjalanan yang semula tenang dan lancar terhambat, dari jarak lima puluh meter, mereka melihat kericuhan itu. Baik Robbin atau Berry, tidak berminat serta dalam keributan dan menepi pelan-pelan, tetapi entah dari mana asalnya. Seorang pemuda menggedor-gedor kaca sampai Clay beringsut ketakutan. Tatapan pemuda itu tajam dan beringas.
Ketiganya bergeming, pintu mobil dikunci agar orang di luar tidak bisa membuka paksa.
__ADS_1
"Kak Robbin." Clay mencengkram lengan keras suaminya.
"Jaga Clay, aku akan mengurusnya," kata Robbin, membuka pintu lalu keluar dan ditutup kembali.
"Ada masalah, Bung?" tanya Robbin secara baik-baik.
Namun, tanpa aba-aba yang ditanya mengangkat tinjunya, Robbin mengelak serangan tiba-tiba dari dua orang pemuda. Tinju si penyerang menghantam kap mobil—entah bagaimana persisnya—Robbin sudah menjatuhkan salah satu dari kedua orang itu ke aspal. Lalu, berbalik badan untuk menghadapi yang satu lagi—keberuntungan sedikit jauh darinya.
Di dalam mobil, Clay terkejut ketika pemuda itu mengayunkan pukul ke arah Robbin, dengan gaya santai suaminya mengusap sudut bibir.
"Aku bertanya baik-baik!" bisik Robbin penuh penekanan. Dia mendorong orang tersebut menjauh dari mobil.
"Berry, tolong bantu dia." Kecemasan menyelimuti suara Clay. Dia tidak bisa hanya diam saat menyaksikan suaminya terluka. "Aku harus—"
Sudut bibir Robbin menyeringai, kepalan tangan dengan cepat dan mantap bersarang ke hidung pemuda tadi. Si pemuda pun terhuyung-huyung sembari mengusap darah yang mengalir dari hidung.
"Hey, duduklah, Clay!" Berry meraih siku wanita itu. Di luar mobil, lebih dari tiga orang terlihat menghampiri Robbin, situasi mulai tidak terkendali. "Bedebah!" geram Berry, rahangnya kini menegang.
"Kunci mobil, jangan pernah turun," perintah Berry sambil membanting pintu.
Clay mengangguk mantap. "Hati-hati."
Berry buru-buru menarik salah satu pundak orang yang mengerubungi Robbin, lalu menghajar orang itu tanpa ampun.
Perkelahian pun tidak terelakkan, menilik dari situasinya kekuatan mereka tidak seimbang. Orang-orang itu semakin brutal, oksigen tidak akan pernah cukup memenuhi paru-paru Clay yang sedang ketakutan—dia menatap ngeri. Meski tak menampik, sesekali baik suami atau temannya mengelak serang.
Robbin mendaratkan sikutan di perut orang yang hendak menyerang dari belakang. Orang itu terpundur membentur badan mobil. Beberapa di antaranya menggila, memecahkan kaca mobil penggunaan jalan yang berhenti karena hal ini.
Kontan tindakan anarki itu menyadarkan Robbin akan keselamatan Clay. "Berry, kenapa kemari?" tanyanya, begitu punggung menempel satu sama lain. "Clay di mana?"
"Di mobil, dia aman."
__ADS_1
"Brengseekk!" Serangan Robbin membabi buta, dia melihat dua orang mendatangi mobil Clay. Seakan-akan gelap mata, dirinya mengerahkan tendangan dan bogem mentah.
Pandangan Robbin terhalang kerumunan massa, dari kejauhan terdengar mobil patroli. Para pembuatan orang lari kucar-kacir.