
Tangan Robbin terulur untuk menyalakan lampu. Cahaya dari bohlam berpijar, dia membelalak, nyaris tidak percaya atas penglihatannya. Kemudian, berbaring menyamping di pinggir tempat tidur, menyanggah badan dengan siku.
Wanita bermata bulat itu mencoba mengubah posisi, menyandarkan punggung dan menatap Robbin dengan sejuta tanya. Apa dirinya melakukan suatu kesalahan? Dia memejam singkat, lalu menggigit bibir bawah. Terasa nyeri di bagian tertentu tubuhnya.
"Oh, Sayang." Robbin mengerang, menggeleng tidak percaya. "Ini mimpi paling manis dalam hidupku." Dia mengusap dahi berkerut serta berkeringat wanita itu, kesakitan terlihat jelas dari mata yang berkaca-kaca. "Jangan bergerak, harusnya aku tidak menyakitimu. Mestinya ini menjadi pengalaman paling menyenangkan."
"Kak Robbin tidak suka? Apa aku membuat kesalahan? Maaf, aku tidak bisa mengimbangimu." Cercaan bernada feminin menyahut ragu bercampur malu, sebab tidak tahu cara bercinta yang baik dan benar. "Aku hanya—apa kita sebaiknya—"
"Kesalahan, tidak suka, gimana mungkin? Aku sudah menantikan saat-saat ini begitu lama, tapi—" potong Robbin, tersadar kenapa wanita pemilik mata bulat ini masih di sini dan bukankah tadi sudah...
"Dasar gadis pembangkang!" Senyum Robbin mengembang di antara umpatan itu, melahap bibir ranum sang istri dengan rakus. Memberi kecupan di sana-sini, kedua lengan melingkari badan. "Terima hukumanmu!"
Tawa manja menggema, sentuhan bertubi-tubi Robbin membikin geli. Tanpa ampun menelusuri setiap jengkal lekukan dari kepala hingga kaki.
Keduanya bergelung di balik selimut tebal, mengulang kembali saat-saat mendebarkan ketika mencapai puncak intimasi. Robbin maupun Clay tidak membiarkan kalimat apa pun keluar, selain suara erangan.
Pergulatan menguras napas dan energi itu pun berakhir, Robbin serta-merta tercekat sambil berkata, "Darah, kamu berdarah!"
"Bukan aku, tetapi kita, lihat dada Kak Robbin berdarah. Apa yang terjadi?" tanya Clay menyiratkan kepanikan. "Pasti sakit sekali." Dia menyipit, alisnya otomatis mengerut.
"Ini baru adil. Bukan hanya kamu, kan, yang berdarah-darah." Kepala Robbin menunduk, dada yang berbalut perban memang tampak merah pekat. Akan tetapi, rasa sakitnya tidak sebanding dengan kehangatan tubuh Clay.
Jari-jari lentik Clay menyusuri luka di dada, sudut bibirnya tertarik ke bawah. "Katakan, ini kenapa?"
"Kemarilah." Robbin bersandar di kepala ranjang, lalu meraih bahu sang istri, memutar dan merengkuh tubuh polos itu dari arah belakang. "Sekarang ceritakan dulu, gimana caramu kembali?"
Punggung halus Clay bersandar ke dada Robbin, jemari tangan pria itu memainkan ujung rambut. Sesekali membawanya ke hidung. Perhatian yang tercurah mengalirkan sensasi menenangkan. Puas bermain-main surai, kini bibirnya memulai aksi, menyapu tulang selangka sang istri hingga mengurangi konsentrasi.
Tanpa menghentikan aktivitas Robbin mendesak. "Ayo!"
"Apanya?"
Robbin menggigit ringan cuping telinga Clay. "Ceritanya."
"Ha-ha-ha, ajaib sekali aku bisa fokus, sedang Kak Robbin begitu asyik membuatku kegelian." Clay menggeliat akibat sentuh malas-malas jemari besar itu.
__ADS_1
Robbin tertawa, dia menjauhkan bibir dari telinga, tetapi beralih ke puncak kepala merambat sampai pelipis. "Nah, sekarang sudah bisa?"
"Lumayan." Clay mengusap rahang Robbin sebelum melanjutkan ucapan, "Oke, aku mulai, ya."
Lengan Robbin melingkar di perut datar Clay, mengusap naik-turun seolah-olah sedang memainkan gitar, tetapi dengan gerak lambat.
"Jadi waktu itu—" Kenang Clay.
Tatapan Clay menerawang jauh, mengingat perbuatan konyol sebelum tiba di rumah. Dia menarik oksigen banyak-banyak, lalu...
Kembali pada kejadian siang itu, Clay sengaja mengacuhkan permintaan Robbin. Dia mengikuti kayuh tangan dengan berlinang air mata. Kakinya terasa begitu berat saat mengarah ke kapal terbang, karena kurangnya konsentrasi tidak hanya sekali menabrak penumpang lain.
"Maaf," katanya sambil lalu.
Begitu masuk ke lambung pesawat, Clay terus melihat keluar jendela. Air yang terbendung di kelopak mata mengaburkan pandangan, impian yang diidam-idamkan dipaksa hancur.
Berulangkali menyeka air mata pun percuma, semakin ditahan justru makin menganak sungai membasahi kedua pipi. "Memang dia siapa? Mudah sekali mengatur hidupku! Sebelum menikah saja aku mati-matian mengejarnya. Kini, setelah semua berjalan sesuai keinginan, aku disuruh pulang!" gerutu Clay.
Clay menggigit bibir bawah, jemari lentiknya mengepal kuat. Dia mengawasi pramugari yang sedang memberi pengarahan kepada penumpang. Karyawan maskapai itu mendemonstrasikan tentang standar keselamatan setelah para penumpang duduk tenang.
Ragu-ragu Clay mengangkat tangan, mengundang tatapan ingin tahu orang-orang. "Permisi."
"Ya, katakan."
"Saya ingin turun," tutur Clay.
Seorang pramugari menghampiri, raut wajah cantiknya berselimut kecemasan. Dengan nada khawatir, si pramugari bertanya, "Ada yang bisa kami bantu, apa Anda merasa gugup?"
"Saya mual." Dusta Clay, dia sudah bersiap angkat kaki.
Petugas pesawat itu mengembangkan bibir, menanggapi perkataan Clay seramah mungkin. "Anda bisa menggunakan toilet di sebelah sini."
"Tidak, bukan seperti itu, saya hanya ingin keluar itu saja."
"Tapi—"
__ADS_1
"Saya mohon, pesawatnya belum terbang, seharusnya saya diizinkan keluar," desak Clay, dia sudah menyerobot penumpang di sebelahnya dan menuju ke pintu. Dengan tangan gemetar, berusaha membukanya.
"Duduklah, Miss, penerbangan ini aman," bujuk Pramugari itu.
"Saya mau turun!" Clay berjongkok dan menenggelamkan wajah ke lutut. Tangisnya pecah seketika. "Kumohon."
"Kita akan lepas landas sebentar lagi, jadi—"
"Tolong izinkan, Miss Clay turun," potong seorang pria dan Clay mengenalinya.
"Jeremy!" seru Clay, dia mendongak. "Bantu aku jelaskan, tolong!" Dia berdiri lantas mengguncang lengan berotot pria itu.
Sang pramugari berusaha menahan bola matanya agar tidak berputar, lalu memberikan interupsi kepada pilot bahwa seorang penumpang meminta turun dari pesawat.
Begitulah, sepenggal cerita yang dapat Clay sampaikan kepada Robbin dan sukses menghentikan gerakan lembut jari-jemari besar sang suami.
Clay mendongak, iris kecokelatan Robbin mengunci tatapannya. Lalu, pria itu menanggapi cerita Clay "Jeremy?"
"Uhum, ingat tidak cowok yang ketemu di ruang tunggu? Itu, loh, yang kutabrak," tutur Clay.
Jantung Robbin berhenti berdetak sedetik. "Kok, bisa ada dia?"
"Mana aku tau." Clay mengedikkan bahu.
Ada yang tidak beres, siapa gerangan si Jeremy?Belakangan, setiap ada Clay selalu ada pemuda itu. Akan tetapi, sejauh ini tidak ada hal buruk yang terjadi.
Robbin berpikir sambil mengusap sayang kepala Clay, dia juga mempersembahkan senyum paling manis ketika bertemu pandang.
"Kak Robbin, mataku mulai berat," ucap Clay sambil menguap.
Sebelum menanggapi, bibir Robbin mengecup singkat pundak polos wanitanya. "Tidurlah, ini hari yang melelahkan."
Seperti tersihir, Clay meringkuk di dalam pelukkan Robbin. Napasnya berangsur-angsur teratur hingga terdengar dengkuran lirih.
"Aku harus mencari tau," gumam Robbin, dia beringsut perlahan dari tempat tidur.
__ADS_1