Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 63: Telah Berakhir


__ADS_3

Begitu banyak rencana berputar di dalam benak Robbin saat ini, menghadapi kekeraskepalan mertuanya jelas sulit. Namun, dia harus bisa menyakinkan kedua orang tua Clay bahwa dirinya tidak akan pernah melalaikan tanggungjawab menjadi suami. Menjaga dan mencintai Clay sepenuh hati.


kepadatan lalu lintas ibu kota Indonesia selalu berhasil menguras kesabaran para pengguna jalan. Ditambah lagi panasnya cuaca hari ini. Andai memiliki helikopter sendiri, tentu Robbin memilih transportasi yang tidak menyita banyak waktu itu.


Lega bukan main begitu terasa tatkala mobil Robbin berhasil lolos dari kemacetan, dia terus mengarahkan kendaraan roda empat itu menuju kediaman Clay. Tidak lebih dari dua puluh menit, Robbin tiba di depan gerbang megah setinggi lebih dari dua meter setengah.


Yang Robbin lakukan hanya membuka kaca mobil supaya petugas keamanan membuka pintu, bersyukur sang mertua tidak memblokir jalan masuknya. Sebagai bukti bahwa dirinya masih diterima. Terlepas dari perdebatan terakhir sebelum pergi.


Kalau pun dipaksa mundur, Robbin tidak akan sekali pun melakukan gencatan senjata. Seperti janji sebelumnya, sampai titik darah penghabisan Robbin akan berjuang mendapatkan Clay.


Mobil berhenti tepat di depan pintu utama setinggi empat meter. Salah seorang penjaga terlihat menghampirinya.


"Tidak perlu dimasukkan ke garasi, Dam," kata Robbin, sebab tak yang tinggal lebih lama.


"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan." Damar pun menemani Robbin masuk ke rumah.


"Sejak kapan seseorang mengawalku saat masuk? Apa ada hal yang tidak kuketahui selama pergi?" Robbin menghentikan langkah dan berbalik menantang Damar selaku penjaga.


"Menghindari kemungkinan terjadi keributan."


"Astaga! Tidak lagi, Dam. Selama majikanmu mengabulkan keinganku." Robbin menggeleng singkat tanda tak percaya atas apa yang baru saja masuk indra pendengar. "Kita sudah berteman lama."


"Ya, dan kamu beruntung," kelakar Damar.


"Memang, sayangnya Pak Albert cuma punya satu anak," balas Robbin.


"Kalau pun punya dua lantas mau apa? Toh, aku lebih tertarik kepada Mo—"


Robbin mengunci tatapan Damar penuh selidik, mengapa tiba-tiba akhir kalimatnya terdengar familier. "Apa?"


"Bukan apa-apa, aku hanya—"


"Dam apa ada tamu? Ruang makan terdengar ramai."


Damar belum sempat menyahut ketika Robbin sudah mencapai pintu ruang makan rumah megah kediaman pengusaha elektronik terkemuka hampir di seluruh asia.


Setelah pertemuan singkat hari itu, Robbin memang pergi tanpa mengatakan apa-apa selain berjanji akan kembali. Membawa serta Clay bersamanya. Dan, hari itu pun tiba. Dengan wajah sulit diartikan, Robbin mematung di ambang pintu.


Suasana menjadi hening, Clay bangkit dari duduknya, tidak mengindahkan tatapan penuh tanda tanya sang suami. "Kak Robbin, kenapa tidak mengabari dulu sebelum menjemputku?" Lalu melihat Damar sekilas, "Dam, Terima kasih. Sebetulnya tidak perlu mengantarkan Kak Robbin kemarin, kecuali kamu mau mencuri-curi kesempatan untuk melihat—"


"Saya permisi," potong Damar cepat sebelum Clay menggodanya lagi. Apa begitu jelas terihat di wajahnya kalau sedang jatuh cinta. Astaga, Damar tidak bisa menghadapi reaksi Robbin kalau mengetahui hal ini.


Clay membimbing Robbin supaya ikut duduk di antara seluruh keluarga. "Kenapa tidak bilang-bilang kalau—"

__ADS_1


"Dan memberikan waktu bagi untuk menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Bukan gitu, aku, itu mau menyambut kepulangan mu." Clay seperti biasa menggamit lengan Robbin erat, jelas-jelas menunjukkan betap dia begitu nyaman berada di dekat suaminya.


"Eh'em, ingat kek ada anak di bawah umur di sini," gerutu seseorang membuat Clay tersipu malu.


"Clay, bisa jelas?"


"Perlu? Seperti yang sudah aku katakan kepada Kak Robbin selama ini. Mereka baik-baik saja."


Robbin tidak bisa membalas perkataan Clay, dia merengkuh tubuh ramping wanita itu. Hingga merasakan tepukan mantap di pundak.


"Ayah, ini—"


"Berhenti bersikap dramatis, tidak cocok dengan ekspresi datarmu," seloroh Robet. "Sekarang kamu tidak perlu lagi bekerja kerasa untuk keperluan Ayah, Ibu, dan Monica. Selama ini, Pak Albert mengantarkan Ayah berobat ke Singapura. Dan, hasilnya bisa kamu lihat sendiri, kaki Ayah sudah bisa bergerak normal."


"Monic seneng, deh, Kak Robbin punya istri kayak Kak Clay," aku Monica yang kini berhamburan memeluk pinggul Clay, benar-benar menjauhkan sang kakak dari istrinya.


"Cukup, Monic, tanpa berkata begitu pun keinginan mu begitu berarti," sela Clay, geli atas tindakan impulsif adik Robbin.


Di tengah kebahagiaan yang terjadi tiba-tiba terdengar keributan di lorong menuju ruang makan, semua orang pun berbondong-bondong untuk melihat ada apa.


"Robbin!"


Damar pun melangkah ke samping dan menunduk, lalu mundur teratur. Albert sebagai tuan rumah menghampiri keduanya. "Damar kamu bisa pergi sekarang."


Kening Albert berkerut, hidungnya hafal betul aroma yang menguar dalam diri Hanes. "Ada apa, Han?"


"Urusan saya dengan Robbin belum selesai, Om. Aku ingin mengajaknya berduel." Ucapan Hanes terdengar parau karena pengaruh alkohol.


"Kamu mabuk, Han," tutur Albert lembut, sebab sudah menganggap Hanes anak sendiri.


"Sedikit," kilah Hanes. "Bahkan dengan mata tertutup pun aku bisa mengalahkan dia!"


Robbin memasukkan kedua tangan ke sela-sela saku celana, tidak menanggapi perkataan orang yang jelas-jelas sedang di luar kontrol kesadaran.


"Kamu butuh istirahat," bujuk Albert, tetapi ditampik anak teman baiknya.


"Izinkan kami berduel di area latihan menembak Om Albert," desak Hanes. "Kalau aku menang, maka Robbin harus menceraikan Clay."


"Enak saja!" celetuk Clay geram, "tidak ada yang bisa mengatur-ngatur hidupku."


"Baiklah itu adil, dan kalau kamu yang kalah. Menjauhlah dari hidup kami!" pinta Robbin, sembari menarik Clay dalam dekapan.

__ADS_1


"Oke!" Hanes berjalan terhuyung-huyung mendahului semua orang.


Semua orang pun sudah berada di area latihan, Hanes melihat-lihat senjata yang akan digunakan. Dengan gugup Clay memelot ketika teman baiknya itu mengambil pistol.


"Tunggu! Kalian duel dengan cara apa?"


"Hanya menembak sasaran di sana, Clay, tenang saja. Aku tidak akan membuat Robbin meregang nyawa," kata Hanes setengah bergumam.


Tanpa banyak bicara Robbin segera mengambil posisi pun dengan Hanes meski terlihat sempoyongan. Sedikit mencemooh, Hanes mempersilakan Robbin menembak lebih dulu.


"Untuk menghindari suara keras yang memekakkan telinga, lebih baik kalian menunggu di sana," saran Damar yang kini sudah berdiri dekat di sebelah Monica.


"Dam, tidak perlu terlalu dekat, Monica aman, kok, di sini," goda Clay, membuat wajah dan telinga Damar semerah udang goreng.


Namun, belum juga beranjak, suara tembak menggelegar. Semua orang membekukan sesaat, hingga terdengar suara meraung-raung kesakitan.


"Bukan aku yang melakukannya, Hanes menembak kakinya sendiri," kata Robbin sambil berjongkok di samping Hanes. "Dam, siapkan mobil!"


Dibantu Albert, Robbin membopong tubuh Hanes yang jauh lebih berat karena nyaris hilang kesadaran.


Mereka sengaja membawa Hanes ke rumah sakit terdekat, begitu tiba, dia segera diperiksa. Dan, rupanya tidak ada luka serius. Peluru hanya mengenai kulit luar saja.


Kesadaran Hanes berangsur-angsur puli, dia memijit ringan pangkalan hidungnya yang bangir. "Aku ada di mana?"


"Rumah sakit," sahut Clay, "Dasar Bodoh!"


"Kenapa semua orang ada di sini?" Hanes masih tidak mengerti, kepala berdenyut nyeri.


"Idiot!" cemooh Clay lagi. "Apa perlu ku carikan pacar, supaya pikiran mu kembali waras?"


"Apa, sih?"


"Nih, lihat sendiri." Rupanya, salah satu pengurus rumah merekam kejadian saat berada di area latihan. Sebetulnya keluarga Clay tidak membenarkan itu, tetapi karena ini lucu jadi pengecualian.


Clay terbahak-bahak melihat perubahan wajib sahabat baiknya. "Gimana, hem?"


"Ini, sih, parah." Hanes mengembalikan ponsel itu dengan kikuk. "Maaf, karena terlalu bersikap kekanak-kanakan, sungguh aku—"


"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang, semua sudah jelas. Sesuai perjanjian, kamu tidak boleh lagi mengganggu kami lagi," ucap Robbin santai.


"Mestinya dari dulu gitu." Hanes tampak muram bercampur malu.


Perselisihan di antara kedua pemuda itu pun berakhir, juga kesalahpahaman yang terjadi antara Albert dan Robbin. Meski penuh dengan prasangka kurang mengenakan, semua telah berakhir bahagia.

__ADS_1


__ADS_2