
Setengah mati Berry menahan bibir agar tidak bersiul ketika disuguhi perpisahan melodrama Clay dan Robbin. Tanpa repot-repot menunggu diusir, dia menuruni undakan menuju pekarangan penuh bunga.
"Janji, ya, hanya sebentar," rajuk Clay dalam pelukan Robbin, lengan sebelah melingkar sambil mengusap punggung, sedangkan satu lagi berada di dada. Kehangatan menjalar bukan hanya di luar, sensasi panas di dalam tubuh pun menggelenyar.
Sambil mengusap kepala, Robbin mengamini ucapan Clay. "Iya, aku janji."
Clay pun memisahkan diri dari Robbin kendati enggan, dia mendaratkan kecupan lebih lama di pipi. "Hati-hati."
"Jangan menyusahkan Berry," goda Robbin, mencubit ujung hidung istrinya.
"Aku tidak pernah menyusahkan orang lain kecuali Kak Robbin," tungkas Clay, bersedekap dada memunggunginya.
Gemas melihat tingkat laku Clay, lengan Robbin melingkupi perut datar wanitanya. "Tidak diragukan lagi, kalau aku senang—umpama tidak pasti aku merindukan itu."
"Untung bukan Pinokio," sindir Clay.
Berada demikian dekat, membuat ingat Robbin dan Clay berlayar ke kenangan pertama mereka. Bercumbu mesra tanpa kenal lelah andai waktu memungkinkan. Membayangkan itu, seluruh tubuh berdenyut-denyut tidak menentu. Bahkan napas menjadi tidak karuan.
"Aku harus pergi sekarang, atau kalau tidak—sungguh kita sama saja menunda waktu kembali ke Indonesia." Suara Robbin terdengar parau memendam hasrat.
Clay tidak menjawab, sibuk menahan gejolak kerinduan akan sentuhan lembut jari-jari kasar Robbin.
Napas Robbin seakan-akan tercekat sebelum melonggarkan lengan. Dia memberi kecupan pelipis dan telinga Clay. Lalu, dengan langkah tegas menghampiri dan mengambil kunci dari tangan Berry, "Kalau terjadi sesuatu telepon aku segera."
"Pasti," sahut Berry.
Robbin melambaikan tangan ke arah Clay yang melepasnya dengan bibir cemberut. Namun, sikap itu justru menggelitik diri supaya mengulas senyum. "Bye, bye."
"Bye, bye." Clay menyahuti.
Seperginya Robbin, Clay turut memperhatikan sekitar sama seperti Berry. Pria itu sibuk melihat sekeliling, mencari tanda adanya bahaya. Namun, mereka sama-sama tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan selain barisan pepohonan serta bunga-bunga indah dan rumput-rumput liar.
"Eun, Clay, sebaiknya kamu masuk saja," pinta Berry, "Aku ingin berkeliling sebentar."
"Dan, aku ingin mengeksplor tempat ini sebelum pergi besok," tolak Clay, dia jarang tunduk pada perintah seseorang. Terkadang tidak sadar bahwa aksi membangkang itu bisa saja merugikan orang lain baik dirinya sendiri.
Berry menaikan sedikit sudut bibir kiri, cekung terlihat di pipi. Seperti biasa, dengan gaya bermalas-malasan dia menyisipkan sebelah tangan ke saku celana dan tangan lain bertolak pinggang. "Robbin tidak akan suka itu, kamu tau?"
__ADS_1
"Tau."
"Jadi—"
"Tetap kulakukan, lagian cuma lihat-lihat di dekat sini." Clay sudah turun dari undakan pertama dan seterusnya. Dia kini belok ke kiri menuju kolam, matanya berbinar ketika tersenyum lebar melihat ikan-ikan berenang.
Berry berdiri di sisi Clay serta mengulurkan sekantong makan ikan. "Mau menyuapi mereka?"
"Waah, mau." Mata yang sedari tadi berbinar semakin cerah sebab senyum yang kian merekah, Clay menerima kantung hijau itu. "Em, kamu Berry, kan?" tanyanya seolah-olah tidak yakin.
Kegiatan memberi makan ikannya berhenti, Berry menoleh sebentar. "Iya," jawabnya dan kembali melihat kolam.
"Aku merasa pernah melihatmu sebelum ini."
"Di rumah sakit." Kali ini Berry tidak menengok, tetapi tahu bahwa Clay tengah menatapnya.
"Bukan, sebelum aku dirawat." Clay berjongkok, membenamkan jemarinya ke dalam air. Lalu, mendongak, pria itu tampak melamun. "Apa aku benar?"
"Mungkin, dan kalau benar kamu pernah melihatku, tepatnya di mana?" Didorong rasa penasaran akan kejujuran Clay, Berry sengaja menggali informasi kedekatan wanita ini dengan anak bosnya.
Sebelum berbicara Clay menghela napas, tatapan matanya kosong, seperti menerawang sesuatu yang bisa saja luput dari ingat. "Aku tidak yakin dan memang pertemuan kita tidak secara langsung."
"Tidak, aku sudah ingat wajahmu cukup familier," terang Clay.
Alis Berry berkedut. "Apa itu berarti pasaran?"
"Tentu saja bukan. Oh, ya, ampun, sensitif sekali," ujar Clay blak-blakan, lalu berjalan ke arah dia datang. "Aku menyesal, seharusnya kita—maksudku pertemuan—eem, apa yang kulakukan memang buruk sekali pada saat itu."
"Buruk?"
"Kalian melihatku di hotel, kan? Semacam memata-mataiku?"
Berry mendengus, kemudian mengklarifikasi. "Waktu itu aku tidak mengenalmu. Gagasan memata-matai terdengar menyakitkan. Kupikir kamu sedang ada—yah, hubungan spesial dengan Hanes."
"Jadi Kak Robbin... ah, bukan salahnya, sih. Karena aku yang memaksanya menikah. Wajar saja kalau aku tidak diperkenalkan kepada teman-temannya sebagai istri." Bibir ranum Clay mengerucut, sedangkan Berry memasang wajah terkejut. "Jangan kasihani aku!"
"Memaksa?"
__ADS_1
"Ha-ha-ha, murahan sekali, kan?" Setelah mengutarakan penilaian terhadap diri sendiri Clay duduk di undak-undakan. "Aku jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama. Selama ini aku jarang sekali berhubungan dengan pria selain Hanes, kamu tau rasanya? Tidak pun tidak jadi soal. Daddy mengawasiku ketat sekali, sampai pada akhirnya secara diam-diam Kak Robbin menjadi pengawal pribadiku. Dia mudah membaur, tidak seperti para pengawal Daddy yang terlihat begitu mencolok dengan pakaian formal serba hitam."
Dengan santai Berry menyandarkan siku ke pagar. Dia lebih tertarik menanggapi kalimat pendek Clay di awal, sebelum menceritakan asal mula kedekatannya dengan Robbin. "Aku tidak menganggapmu murahan."
"Meski terlihat sedekat itu dengan Hanes waktu di hotel?" tanya Clay, menilai reaksi Berry lewat lirikan mata.
"Iya, aku pikir kalian berpacaran." Berbeda dengan Clay, Berry menatap intens seraya berkata, "Setelah mengetahui kalau kamu istri Robbin pun aku tidak berpikir begitu."
"Benarkah?"
"Butuh alasan?" Berry bertanya balik, "Aku tergolong orang-orang liberalis."
Clay merasa cukup membahas masalah pribadi, dia penasaran—selain menjadi pengawal pribadi—Robbin dan teman-temannya mengerjakan apa.
"Ber?"
"Heem." Tangan Berry yang terangkat hendak melempar batu menggantung di udara.
"Apa pekerjaan kalian selain mengawal?"
"Hanya itu," Jawab Berry sekenanya, tetapi tatapan Clay menyatakan ketidakpercayaan. "Lebih sedikit yang kamu tau, jauh lebih baik."
"Ah, tidak asyik. Kalian sama saja, Kak Robbin juga mengatakan itu saat kutanya tentang pekerjaannya," gerutu Clay lantas beranjak dari duduk, mengarah ke dalam rumah.
"Mau melihat-lihat beberapa angsa liar?"
Refleks Clay berbalik badan. "Terdengar menarik."
Keduanya pun berjalan melewati jalan berbatu menuju danau tidak jauh dari kediaman Berry.
Sepanjang jalan, Clay mendengar burung-burung berkicauan. Awan putih berarak-arak di tiup angin. Sungguh perpaduan luar biasa, bentang alam nan hijau di selimut bumantara sebiru lautan.
Clay memandang ke jauhan, tasik hampir satu hektare memanjakan mata. Bunga teratai tumbuh di pinggir dan tengah danau. Ada lebih dari selusin angsa berenang di sana, sebagian lagi terbang entah ke mana.
Puas menghabiskan waktu tanpa pembicaraan berarti Berry mengajak Clay kembali. "Kamu lapar?"
"Bisa masak?"
__ADS_1
"Tidak semahir Robbin, mi instan tidak terlalu sulit bukan?"
"Setuju," sahut Clay, serta berjalan lebih dahulu dan Berry berada dua langkah di belakang.