
Robbin yang teramat sangat naik darah menerjang lebih dulu tanpa ancang-ancang. Dia mengincar tulang leher orang itu, menggunakan tendang beruntun sampai tubuh kekar si plontos terjatuh lantas menekankan lutut ke dada dan kedua telapak tangan Robbin menangkup kepala. Bunyi gemeletuk terdengar jelas kemudian.
"Dasar ba bi!!!" teriak salah seorang yang baru mendekat.
Pada detik berikutnya tiga orang tanpa senjata menyusul dari arah yang sama. "Gerson!" Wajah mereka pucat pasi melihat kepala si plontos menoleh tidak wajar dengan mata memelotot.
Robbin tidak gentar meski dikepung empat orang sekaligus, dia selalu waspada. Berusaha meneliti kemampuan lawan-lawannya, instingnya berusaha menangkap serangkaian serangan yang nanti dilayangkan ke arahnya.
Seperti yang sudah-sudah, waktu adalah uang, Robbin tidak menyia-nyiakan kesempatan. Kaki jenjangnya bertolak di atas tanah lalu melakukan tendang memutar di udara tepat mengenai keempat orang itu.
Tersebab kalah cepat, tubuh lawan-lawannya tumbang dan mengerang kesakitan. "Brengseek!!!"
Serangan Robbin tidak cukup telak terhadap dua orang di antaranya. Kini, mereka berlari kecil mengitari Robbin dengan kedua telapak tangan mengepal di depan dada.
Berry yang telah selesai mengurus lawannya menghampiri Robbin, dia dengan senang hati memberi kesempatan karibnya untuk pergi. "Biar aku yang urus ini!"
Robbin mengangguk cepat lantas menendang dada lawan yang menghalangi jalan. Dia bergegas masuk sampai dikejutkan oleh sosok wanita berperawakan tinggi semampai. Laksana ratu kegelapan wanita itu duduk di atas kursi bersandar tinggi.
Wanita itu menyandarkan punggung serta menyilangkan kaki ke atas meja. "Duduklah, kita bisa bernegosiasi!"
Seorang pria perawakan tidak terlalu tinggi membisikkan sesuatu ke telinga wanita itu. Senyum anggun penuh bisa tersungging tegas di bibir berpoles merah merona itu. "Well, Darling, aku tidak ada urusan denganmu, tetapi kamu memaksaku untuk berburu."
"Aku tidak tau apa maksudmu, Madam!" Dusta Robbin, dia ingat betul wajah dan perawakan wanita di depannya.
Tawa lembut berduri wanita itu memenuhi ruangan, dia menurunkan kaki lantas mengambil sebatas rokok dari kotak bersepuh emas. Salah seorang mendekat dan menyulutkan api. "Cukup menarik, Darling. Patut kuakui, Rocky memiliki kaki tangan yang kompeten. Dan, uh, yeah cukup menggoda."
Alis Robbin berkedut, merasa geli dengan tutur kata yang memaksa masuk pada indra pendengaran.
"Musuh abadiku bukan dirimu, tetapi si licik Rocky. Dia menjijikan, dua kepribadian yang—bisa diartikan sekeping koin. Memiliki gambar berbeda di masing-masing sisi. Memalukan, dia seharusnya tidak mencampuri urusanku. Dasar tua bangka culas! Tangan kanan memberi, tangan kiri mengambil kembali. Uh, ya, ampun. Munafik! Dia seolah-olah membela pemerintah padahal di belakang menyokong dana bagi para penjahat." Wanita itu menghela napas panjang setelah berbicara panjang lebar.
"Di mana kamu sembunyikan wanitaku?" geram Robbin, enggan berbasa-basi.
__ADS_1
Belum habis rokok sebatang, wanita itu mematikan bara di ujungnya. "Kembalikan atau dia kehilangan nyawa!"
Bias cahaya dari proyektor membiaskan gambar pada layar putih seukuran tembok di baliknya. Kedua benda itu menampilkan keadaan Clay saat ini, istri Robbin terkulai lemah dalam kondisi terikat pada sebuah tiang penyangga. Seraut wajah ayunya tidak terlihat sebab tertunduk dalam.
Jiwa membara Robbin serasa disiram bahan bakar melihat pemandangan yang demikian memilukan. Mata kecokelatannya berkilat-kilat penuh kemurkaan.
Tarikan napasnya tercekat singkat, Robbin menutup mata dua detik hingga suara tembakan memekakkan telinga.
Beberapa orang memberi perlindungan wanita itu dari ancaman timah panas dan Robbin tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia bergegas pergi dari ruangan, dengan langkah mantan berlari menuju pintu keluar.
Robbin melewati jalan setapak berlumpur, sebuah bangunan nyaris runtuh berada di penghujung jalan. Dalam sekali tendang pintu kayu itu terbuka lebar.
"Ya, Tuhan, Clay!" gumam Robbin, pandangan matanya buram sebab air menggenangi pelupuk. Dia berusaha melepas tali-temali yang mengikat tubuh tak berdaya istrinya. "Oh, My Angel, kumohon buka matamu!"
Air mata membanjiri kedua pipi Robbin saat ini. "Maafkan aku karena datang terlalu lama," sesalnya.
"Tali-tali sialan!" teriak Robbin, dia mencari apa pun yang bisa digunakan untuk memutuskan simpul terkutuk yang membelit tubuh Clay.
Kulit kuningan langsat Clay pucat pasi, tubuhnya menggeligis di dalam dekapan Robbin. Bibir ranumnya tampak gemetaran dan keungu-unguan.
Kondisi buruk Clay melipatgandakan kekuatan Robbin, sehingga tubuh sang istri diangkatnya dengan mudah seolah-olah membopong boneka popi.
"Robbin, gimana kondisi istrimu?" tanya Berry ketika membukakan pintu mobil.
"Rumah sakit, cepat!"
Kini, Berry yang mengemudi mobil. Di kursi belakang Robbin menanggalkan jaket kulitnya, berharap tubuh Clay menjadi lebih hangat diselimuti dengan itu. "Berry, cepatlah! Sial cara mengemudimu tidak lebih cepat dari seekor siput!"
Berry tidak tersinggung sama sekali, sebab kecemasan tercetak jelas di wajah karibnya.
"Oh, My Angel, bertahanlah! Aku janji tidak akan meragukanmu lagi," bisik Robbin disertai kecupan di pelipis wanitanya. Dia mendekap erat tubuh sang istri, sesekali menggosok lembut pipi dingin itu supaya lebih hangat.
__ADS_1
Napas Clay tampak tercekat dan melambat. Robbin memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan. "Sial! Biar aku yang kemudikan, Ber! Istriku hampir mati, kamu malah bergerak mundur."
Berry mulai geram, "Cerewet! Tutup mulut! Fokus saja sama istrimu itu!"
Begitu mobil berhenti, Robbin bergegas turun dan menerjang pintu IGD dengan kasar. Setelah membaringkan tubuh Clay Robbin dipaksa keluar.
Robbin mondar-mandir gelisah di ruang tunggu, dia menanyakan kondisi Clay kepada setiap perawat yang keluar dari IGD.
Sampai perawat itu jengkel dan hendak memaki Robbin, tetapi urung terlaksana sebab seorang dokter keluar dari pintu kaca ganda itu. "Dok, suami pasien—"
Dokter itu mengangkat tangan singkat lantas menghampiri Robbin. "Beruntung Anda membawanya tepat waktu. Meski belum sadarkan diri, dia sudah melewati masa-masa kritis."
"Terima Kasih," ucap Robbin, mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
Berry dan Johanes yang mendengar itu turut bersyukur. "Kami harus pulang, Rob. Semoga istrimu lekas sembuh."
"Terima kasih."
Clay sudah dipindahkan ke ruang rawat khusus, ruangan itu diatur dalam suhu hangat. Robbin tiada henti menggenggam jari-jemari sang istri.
Dia mengusap-usap lembut pucuk kepala Clay, semu kemerahan mulai mewarnai wajah pucat wanita itu. Bibir keungu-unguan empat hari lalu sudah seranum biasanya sejak hari buruk itu. Meski demikian, lebam-lebam bekas siksaan masih kentara.
Alis Clay mengerut, ekspresinya menyiratkan ketakutan. Dia bergerak-gerak gelisah, air mata mengalir dari sudut mata yang memejam. Jemari lentiknya menggenggam kuat jari-jari besar Robbin.
Bulu lentik yang tumbuh pada kelopak matanya bergerak-gerak samar, seolah-olah berjuang supaya dapat terbuka.
Robbin menatap lekat-lekat dengan nanar, tidak lama istrinya mengerjab-ngerjapkan mata untuk menyesuaikan cahaya yang menembus kornea.
"Kak Robbin." Suara Clay terdengar parau dan lirih.
Safar-safar kaku Robbin mengendur seketika, dia merengkuh tubuh istrinya. "God Bless You!"
__ADS_1
"Aku takut sekali, kukira, aku-a-aku tidak bisa lagi bertemu, Kak Robbin." Clay mengutarakan ketakutan disertai isak tangis.