Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 32: Kucing Belang


__ADS_3

"Aku berusaha membujuknya, ku ingatkan dia pernah ditinggal begitu saja oleh laki-laki itu, tetapi apadaya, Martha bilang nyaman bersamanya karena bisa terus bersama, sedang aku tidak selalu ada untuknya. Usia mereka tidak jauh beda, laki-laki itu hanya bingung menentukan arah, perlu banyak pertimbangan—katanya, dan aku terlalu tua menurut Martha." Robbin terkenang masa lalu, dia mengganjur napas dalam. "Menyedihkan, bukan? Aku laki-laki tua yang terbuang."


"Kak Robbin itu imut, imut sekali," sanjung Clay seraya mengulas senyum hingga mata bulatnya membentuk bulan sabit. "Setelah itu apa ada wanita lain di kehidupan, Kak Robbin?"


"Kubiarkan hatiku remuk, agar tidak terjamah. Supaya yang mencoba mendekat tergores pecahannya—sampai kamu datang dan berusaha masuk, menyatukan potongan terkecil, kukira kamu akan terluka lalu menyerah. Ternyata aku salah. Pejuang tangguh yang berhasil meluluhkan perisai dalam diriku. "


"Aku tidak terlalu berpengalaman tentang cinta, itu yang membuatku tidak gampang menyerah. Aku buta karenanya, sejak bertemu Kak Robbin tentu saja, hati dan jiwaku terpancang kepadamu. Yah, hanya dirimu," aku Clay, dia berkata sejujur-jujurnya tentang hal itu.


"Benarkah?" Mata lebar Robbin menyipit, cukup terkejut atas pengakuan Clay. Pasalnya, istrinya tampak lebih agresif dibanding wanita kebanyakan.


"Apa? Ada yang salah?" Clay meraih ponsel Robbin yang tergelak di atas meja. Dia memeriksa raut wajah melalui layar ponsel.


Robbin tergelak, seraya menggigit kecil pipi bagian dalam. Merasa gemas melihat tingkah Clay. Tangan Robbin meraih dagu sang istri, mengarahkan agar menoleh ke arahnya. "Kamu istimewa, segalanya bagiku."


Hawa panas menjalari tubuh, Clay yakin kini pipi tirusnya semerah buah delima. Hatinya meleleh seketika, pun dengan air mata yang sudah menganak sungai. "Oh, Kak Robbin, aku tidak pantas mendapatkan itu, ada satu hal yang kerahasiaan darimu."


Robbin tercenung, dia mengecup air yang mengalir di pipi sang istri. "Rahasia?"


"I-iya," kata Clay, sesenggukan.


Robbin mengira-ngira rahasia apa yang disembunyikan Clay darinya, sampai-sampai ketakutan terpancar jelas di kedua bola mata istrinya.


"Hanes, aku dan Hanes—"


"Robbin, aku melihat mobilmu dan kuputuskan untuk—" Derap langkah dan seruan menyusup ke dalam indra pendengar, Johanes berdiri tiga langkah di belakang meja Robbin.


Pria bertubuh tegap dan berambut pirang itu tertegun sejenak. Dia memejamkan mata sebelum melanjutkan kalimat, "Kita perlu bicara, Sobat."


"Tentu saja," jawab Robbin sembari berdiri dari duduknya, lantas mengusap pipi Clay penuh perhatian. "My Angel, aku akan duduk di sana sebentar."


Keduanya memilih tempat kosong di sisi lain rumah makan, mereka terlihat berkasak-kusuk. Awalnya tampak santai dan bersahabat. Namun, berselang kurang lebih tiga atau empat menit Robbin menyugar rambut.


Clay mengamati dari kejauhan sambil meneguk minuman bersoda, dia tidak tahu apa yang suami dan pria itu bicarakan. Sampai terdengar gebrakan meja, Robbin meninggalkan orang itu dengan sorot mata tajam yang membiaskan kemarahan.

__ADS_1


"Robbin, tunggu!" teriak Johanes.


Robbin mengepalkan tangan, melihat Johanes dari balik bahu. "Pergi atau kurobek mulutmu!"


Kemudian menggapai pergelangan tangan Clay, setengah menyeret istrinya. Dia tampak lebih tegang dari sebelumnya.


Cerita yang telah disampaikan Johanes tadi membuat darahnya mendidih, Robbin tidak mau percaya, tetapi di lain sisi telah mendengar dari bibir istrinya sendiri. Meski tidak lengkap, Clay hanya mengatakan 'Hanes dan aku' sepenggal pengakuan itu dilanjutkan oleh sang teman.


"Kak Robbin, pelan-pelan saja, apa ada yang mengejar kita lagi?"


"Mungkin tidak, tetapi kita harus sampai lebih cepat," sahut Robbin setenang mungkin. Melemaskan otot-otot rahang yang kaku.


Roda mobil depan Robbin berdecit ketika berhenti tiba-tiba di sebuah bangunan tinggi menjulang. Dia masih berdiam diri, seperti memikirkan sesuatu sebelum mengambil langkah.


"Hotel?" Clay menegakkan punggung lantas menoleh ke arah Robbin. "Apa kita akan menginap di sini?"


"Bukan kita, tapi kamu. Aku ada urusan."


"Kalau gitu, antara aku ke rumah saja. Dan, Kak Robbin mau ke mana?"


Seketika Clay menjelma kura-kura, beringsut ke dalam tempurungnya. Dia langsung ciut mendengar perintah dari Robbin yang berintonasi tegas dan terkesan galak.


Mesin mobil dimatikan, Robbin keluar dari kendaraan lebih dulu tanpa membukakan pintu untuk Clay, sambil menunggu dia selipkan kedua telapak tangan ke dalam saku celana.


Clay membuka pintu perlahan, pun saat menutup juga pelan. Dia melangkah dengan bimbingan. Pandangan matanya fokus pada bangunan bertingkat itu.


"Cepatlah!"


"Iya, iya," sahut Clay, lalu berlari kecil ketika menaiki undakan teras hotel tersebut.


"Selamat malam," sapa resepsionis.


"Selamat malam, pesan satu kamar untuk satu atau dua hari," sahut Robbin kemudian.

__ADS_1


Resepsionis itu mengurus segala syarat dan ketentuan untuk melakukan reservasi. Begitu selesai, dia memberikan dua buah kunci berbandul logo hotel tersebut.


"Kamar 203, ya, Pak. Silakan."


"Terima kasih."


Setelah melakukan reservasi, keduanya naik ke lantai tiga menggunakan lift. Kebisuan tercipta di antara mereka. Clay merasa ada yang berubah dalam sikap Robbin setelah mengobrol dengan orang di rumah makan tadi.


Lift berdenting kemudian terbuka, keduanya menyusuri lorong sunyi. Setibanya di depan salah satu pintu Robbin berkata, "Jangan bukan pintu untuk siapa pun."


"Kapan Kak Robbin menjemputku?" Semburan pengharapan tampak di mata bulat Clay. "Biarkan aku ikut."


Akan tetapi, Robbin justru membuang muka. Tidak mau teperdaya tatapan lugu wanita ayu itu, betapa dirinya lupa perangai Clay yang terbilang berani.


"Kapan? Aku ikut saja," sentak Clay.


"Besok siang," sahut Robbin singkat sambil lalu, hingga pelukan Clay mendarat di punggung. Lengan sang istri melingkar erat. Dia pun tergemap beberapa saat, semesta seakan-akan berhenti beredar.


Tubuh Robbin merespons terlalu berlebihan, detak jantung berdentum begitu cepat dan keras di telinga Clay. "Hati-hati," bisik istrinya di balik punggung.


Rangkulan Clay merenggang, Robbin tanpa menengok ke belakang terus menjauhi kamar. Pria itu masuk ke lift layanan, memerintahkan diri tetap tenang.


Robbin mengambil langkah panjang menuju parkiran, lalu segera masuk ke mobil. Dia memukul kuat-kuat kemudi di depannya. Berbagai macam sumpah serapah terlontar asal. Meluncur bebas tanpa hambatan.


"Bodoh! Harusnya aku—" Kalimat Robbin tertahan, dia teringat perkataan Johanes ketika di rumah makan.


"Kamu selingkuh?" Johanes mengajukan pertanyaan konyol.


Robbin mendengus, bisa-bisanya sahabatnya ini berpikir demikian picik. Sebelum menjawab, dia sempatkan menoleh ke arah Clay. Mana mungkin dirinya berselingkuh dari sosok secantik itu, wanita berparas sempurna, pun dengan keteguhan hatinya dalam meraih cinta.


"Apa aku terlihat seperti pria hidung belang?" Robbin balik bertanya dengan senyum mengembang.


"Kucing belang mungkin," celetuk Johanes.

__ADS_1


"Mau pesan apa?" tawar Robbin, tetapi sang karib menolak.


__ADS_2