Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 40: Kecemburuan


__ADS_3

"Hari-hari buruk itu telah berlalu." Robbin menenangkan, memeluk erat tubuh yang empat hari ini terbaring tidak sadarkan diri. Bibirnya tiada henti-hentinya mengecup pucuk kepala istrinya.


Kala dikenang, selama itu, Robbin tidak pernah pergi dari kamar rawat Clay. Dia beranjak dari duduknya ketika alam memanggil, selebihnya dihabiskan dengan mengusap dan mendaratkan bibir ke punggung tangan sang istri.


Robbin mengendurkan rengkuhan, menangkup kedua pipi basah wanitanya. Kedua jempol itu memberi usapan lembut lantas menghujani ciuman pelan tanpa menuntut.


"Berbaringlah, aku segera kembali," perintah Robbin, dia bermaksud memanggil dokter.


Tidak berselang lama Robbin masuk ke ruangan bersama seorang dokter dan perawat. Paramedis itu memeriksa kondisi Clay dengan saksama. Senyum hangat tersungging di balik masker, terlihat karena mata dokter itu menyipit.


"Bagus, kondisinya meningkat pesat. Namun, akan lebih baik kalau menginap sehari lagi," terang dokter.


"Baik, Dok, Terima kasih," ucap Robbin tanpa melihat lawan bicaranya, mata kecokelatan itu tertuju ke arah Clay. Dia melayangkan tatap penuh cinta kasih. Tentu saja membuat iri sesiapa yang memandang.


Paramedis keluar dari ruangan dan Robbin merengkuh tubuh Clay sekali lagi. Meyakinkan diri bahwa semua ini buka mimpi, dia hampir putus asa sebab istrinya tidak kunjung sadar.


"Maaf, harusnya aku tidak meninggalkan kamu sendirian," sesal Robbin, ditariknya napas panjang lalu menghembuskan perlahan. Kepala Clay yang menempel di dada menganggu kecil sebelum mendongak.

__ADS_1


Tatapan keduanya bertumbuk, Clay melihat kilat kecemasan yang selama ini memancarkan ketegasan. Dengan keingintahuan tingkat tinggi dia bertanya, "Gimana Kak Robbin menemukan aku?"


"Bisikan Tuhan," jelas Robbin, merenggangkan dekapan, dengan enggan dirinya menduduki kursi. Robbin bersyukur karena sebelum insiden buruk menimpa, dirinya telah mengembalikan kalung pemberian Clay. Sebenarnya memang bukan tanpa sebab, dia sudah memasang alat pendeteksi lokasi pada benda-benda penting. Sekiranya melekat pada si pemakai, sehingga mudah menemukan keberadaannya.


Berkat benda itulah Robbin dapat menemukan Clay dengan mudah dan secepat yang dirinya bisa. Dia tidak tahu akan seperti apa jadinya tanpa benda itu. Bisa jadi, sang istri tidak tertolong. Telat sedikit saja, wanita itu pasti sudah jadi daging beku. Membayangkan hal lebih buruk dari ini saja perut Robbin terasa melilit.


Robbin bersumpah akan membuat perhitungan kepada orang-orang yang membuat Clay terluka, tidak sekarang, tetapi pasti.


Bibir Robbin bergetar, mengarahkan jemari ke pipi Clay, lebam-lebamnya mulai samar. Matanya menyiratkan kemarahan sekaligus kesedihan. "Apa yang mereka lakukan terhadapmu?"


"Aku sudah tidak ingat." Hibur Clay, dia menepuk punggung tangan Robbin seraya berkata, "Mestinya, aku mengingat pesan Kak Robbin, tidak boleh membukakan pintu untuk orang asing."


"Astaga, Berhati-hatilah." Robbin mengusap tangan berinfus Clay. Lalu, meniup-niup pada bagian yang sekiranya sakit.


Menit berikutnya, perawat masuk sambil membawa nampan berisi makanan steril khas rumah sakit. Clay menyadari tatapan menggoda perawat itu saat melempar pandang ke arah Robbin.


"Terima kasih," ucap Robbin.

__ADS_1


Perawat itu mengangguk dan senyum tersemat manis di bibirnya. Walhasil, membangkitkan tingkat kecemburuan Clay berkali-kali lipat.


"Dasar genit!" umpat Clay begitu orang yang dimaksud menghilang di balik pintu kamar.


Kening Robbin mengerut, belum bisa menangkap sinyal-sinyal emosi cemburu yang terlontar asal dari bibir ranum Clay.


Robbin cuek-cuek saja, malah sibuk mendinginkan makanan dengan meniup-niup sup di atas sendok. "Makan dulu, ya, sudah empat hari ini kamu hanya mendapat asupan melalui selang itu," ucapnya.


Clay langsung menengok ke benda yang dimaksudkan. "Apa aku tidur selama itu?"


"Kamu hampir pergi ke surga, dan seumpama terjadi, aku pun akan menyusul. Ayo, sekarang habiskan ini!"


"Jangan bicara sembarangan." Perasaan hangat menjalari tubuh, jantung Clay berdentam-dentam tidak karuan.


Makanan di lidah terasa pahit, Clay tanpa sadar menjulurkan ujung lidah, seolah-olah menelan pil. Akan tetapi, dia tidak boleh manja kalau ingin segera keluar dari tempat asing ini. Dirinya benci rumah sakit, aromanya kerapkali menguarkan kesedihan dan penderitaan.


"Selamat siang, apa dia sudah sadar?"

__ADS_1


Clay cukup tertegun ketika pintu kamarnya terbuka lebar.


__ADS_2