
Tanpa permisi, Clay merengkuh bibir Robbin lembut, tetapi suaminya meminta lebih dengan memiringkan kepala agar ujung hidung tidak saling bertumbukan. Gangguan semacam itu dirasa mengacau keintiman mereka nantinya.
Tubuh pria itu berguling di samping Clay tanpa memutus tautan. Gerakan Robbin semakin menuntut, menyelipkan indra perasaannya biar bibir Clay terbuka. Siapa menduga sang istri turut menggoda dengan menjalinkan indra perasaannya kali ini, membuat Robbin menggeram pelan dalam sentuhan selembut beludru.
Dengan enggan, Robbin menarik diri untuk mengambil napas, aroma Clay begitu memabukkan, Robbin menyukai sensasi menggelenyar di setiap bagian. Rangsangan emosi merambat dari ujung kaki hingga pucuk kepala, selagi bibir kembali bekerja—jemari tangannya menyusup ke balik tengkuk.
Robbin menanti jemari lentik Clay yang mulai bergerak malas-malas menyusuri punggung sampai ke pinggang. Sentuhan itu membawa kebahagiaan dan kecenderungan nan unik.
Clay beringsut, memisah paksa bibirnya—beralih mengecup rahang sececah dan berakhir di dada Robbin. Masih dengan napas terengah-engah menahan gejolak dalam jiwa, dia mendongak. "Mereka aman, Kak Robbin. Begitu kita pulang bukan hanya aku yang bertemu dengan keluargaku, tetapi kamu juga."
Robbin merasakan kepala Clay menunduk lagi, jemari lentik sang istri memainkan kancing kemeja. Sambil membendung keinginan membumbung akibat gerakan tangan manja istrinya, dia menyahuti, "Kata-katamu di bandara saat itu, sampai kini masih kupegang. Aku tidak menaruh ragu sama sekali, tetapi Clay, akan lebih melegakan kalau bisa berbincang sebentar melalui ponsel."
"Keinginan Kak Robbin bisa aku pahami, sama sepertimu yang sering mengatakan 'lebih sedikit yang kamu tau, jauh lebih baik' dan itu yang coba aku lakukan." Clay terdiam tiga detik sebelum kembali berkata, "Hubungan kita, merusak rencana hebat Daddy dan Ayah Rocky. Menurut Dad, itu tidak baik, jadi beliau memutuskan untuk merahasiakan keberadaan keluargamu."
__ADS_1
"Rencana hebat?" Penuturan Clay menghujam jantung Robbin. "Kamu menyukai ide itu?"
"Bukan begitu, Kak Robbin!" geram Clay, "Hebat menurut mereka. Ayolah, ideku tetap paling cemerlang."
"Oh, tunggu—kalian menaruh curiga terhadap Rocky, mengira dia akan melakukan hal yang tidak-tidak?" tanya Robbin hampir tak percaya atas pemikiran konyol keluarga sang istri. Bukankah kedua keluarga raksasa itu cukup dekat.
"Aku? Tentu saja tidak, kurasa Daddy yang berpikir begitu."
"Memang, Daddy lebih mengenal Ayah Rocky ketimbang aku." Clay turut duduk di samping Robbin dengan kaki bersila. Memandang dalam suaminya.
Bukan hanya pada pandangan pertama Clay jatuh cinta kepada Robbin—dia mengamati struktur wajah menawan pria itu—makin mempesona setiap harinya. Tidak mungkin rasa cintanya sirna selama diri masih bernapas.
"Kamu lagi memikirkan apa, my angel?"
__ADS_1
Lengan-lengan Clay melingkari pinggang Robbin, bahu keras suaminya secara impulsif menempel di dada erat sekali. "Seberapa memalukan jika seorang wanita berterus-terang soal—" Dia menggantung kalimatnya—menyortir pikir gila di kepala untuk mengatakan ingin bercinta—lalu menggigit cuping telinga pria itu. "Aku menginginkan dirimu untuk selama-lama-lamanya, Kak Robbin."
Oh, seksi sekali, suara serak Clay menghanyutkan pikiran Robbin ke hal-hal yang menjurus pada aktivitas antara suami istri. Dia pun melonggarkan lengan yang melilit tubuhnya dan membalas tatapan memuja wanita paling menggairahkan. "Apa aku punya pilihan?"
"Dasar tidak romantis!" gerutu Clay lantas mengubah posisi duduknya, melipat lengan di depan perut sambil cemberut. "Kelihatan sekali kalau aku yang memaksamu."
"Seingatku itu kebenaran, dan pada hakikatnya—paksaan terindah gadis konglomerat—bagai mendapat durian runtuh." Tangan Robbin mengelus-elus rambut tebal bergelombang Clay, turun merangkul tubuh ramping dengan lengan sebelah, seraya memberi ciuman lama di pelipisnya. "Aku mencintaimu lebih dari yang kamu ketahui."
Mereka menautkan telapak tangan, Robbin memberi usapan lembut buku-buku jari Clay. "Aku berencana pensiun."
Clay terperanjat, dia menjauh cepat dari pelukan Robbin. Kelopak mata serta telinganya melebar, takut kalau-kalau salah dengar. "Yang benar?"
"Tabungan ku selama ini cukup untuk memulai usaha," terang Robbin.
__ADS_1