Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 44: Seperti yang Sudah direncanakan.


__ADS_3

"Bye, My Angel," gumam Robbin di balik punggung wanita itu. Dia terus memandang langkah-langkah kecil Clay.


Robbin tahu dari cara berjalannya, Clay merasa berat. Seolah-olah menanggung beban 250 pons, istrinya tidak menoleh sama sekali. Gamang, lamun pasti.


Lengan ramping Clay terkulai di samping badan, sungguh pemandangan yang menyesakkan dada. Karena kurang fokus wanita itu hampir menabrak orang, dia akhirnya mendongak untuk mengucapkan permohonan maaf kepada orang itu.


Nurani Robbin berteriak keras untuk menghentikan langkah Clay, tetapi akal sehatnya lebih bijak dengan membiarkan wanita itu pergi.


"Kuharap kesabaran mu takkan pernah pupus, aku tau ini berat untukmu, kamu tidak sendiri Clay. Keputusan ini lebih memberatkan aku. Beban rindu jauh darimu semakin terasa mengingat waktu yang telah kita habiskan bersama. Berpisah darimu bukanlah yang aku harapkan, tetapi harus kulakukan," gumam Robbin dengan bahasa ibu pertiwi.


Kelopak mata Robbin memejam beberapa detik, dia menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskan perlahan. Sejak pertama kali ditugaskan menjaga Clay, segenap perhatian dan hatinya telah terpatri kepadanya.


Dan, apa yang Robbin takutkan selama ini terbukti, dirinya tidak cocok menjadi suami wanita manapun.


Pekerjaan yang Robbin geluti selama ini terlalu beresiko, dia membutuhkan Clay, tetapi jarak di antara mereka membentuk jurang gelap tidak berdasar. Meski pun sulur-sulur cinta menjerat keduanya lebih dekat, Robbin tidak bisa egois. Semua semata-mata demi kebaikan bersama, terlebih Clay.


Dengan langkah gontai Robbin berbalik badan, dia sebenarnya ingin satu-dua menit mungkin lebih untuk memandang raut wajah Clay. Akan tetapi, istrinya tidak mau melihatnya sekali saja.


Wanita itu meninggalkan dirinya tanpa menoleh sedikit pun, Robbin merasa terpukul, begitu mudah Clay mengabaikan permintaan terakhirnya. Sementara kini, dirinya hampir mati tanpa wanita itu di sisi.


Betapa pun ramai suasana sekitar, Robbin merasa sendirian. Hidupnya kini tak ubahnya ruang kosong, hampa dan sunyi.


Semenjak mengambil keputusan ini, Robbin berusaha keras untuk mempertahankan tekatnya. Berjuang agar dirinya tidak melakukan tindakan bodoh dengan memohon kepada Clay supaya tetap tinggal. Dia harus rela berpisah sementara waktu, bahkan andaikata lambat-laun siksaan rindu membunuhnya.


"Semua hanya soal waktu, dia aman di sana," gumam Robbin.


Hari itu cuaca lumayan cerah, tetapi tidak terik memasuki bulan Oktober. Udara lembab berembus lembut. Robbin mengayunkan kaki sambil menunduk, hingga dering telepon mengagetkan. "Ya, Ber... baru saja... tentu, bukan masalah besar. Maksudku, waktu terus berjalan. Sebaiknya kita bertemu di tempat lain ... bisa jadi, kurasa juga begitu."


Robbin memilih berhenti sejenak, mencari tempat agak sepi. Lalu, duduk di salah satu kursi tunggu. Pandangan matanya tertuju ke arah hilir-mudik orang-orang yang hendak berpergian.

__ADS_1


"Apa?" pekiknya, Robbin mengusap wajah kasar. "Mereka terlalu keji ... lantas apa yang terjadi dengan Shay?"


Robbin menyandarkan punggung ke sandaran kursi besi, kelegaan tergambar jelas di wajah lelahnya. "Syukurlah, sebaiknya kita pergi berdua."


Setelah menghabiskan waktu cukup lama di kursi tunggu, Robbin beranjak, mengambil langkah ke jalur pintu keluar.


"Wanita?" tanya Robbin kepada Berry yang ada di sambungan telepon, tenggorokannya mengering bukan karena haus, melainkan gersang mendengar berita mengejutkan. Dan, memutuskan untuk membeli sekaleng minuman. "Sungguh mulia hatinya." Dia menyahuti begitu ada kesempatan.


Robbin mengamati sekitar dan berhenti di depan mesin penjual minuman. Dia segera memasukkan koin ke boks kaca tertutup itu, suara logam menggema di dasar boks yang hampa. Sehampa hatinya saat ini.


Minuman dingin itu pun keluar, Robbin tidak betul-betul dahaga. Dia hanya mengalihkan pikiran kalut hasil dari meratapi kepergian Clay.


"Begini, Ber, aku sudah siapkan tiketnya. Setelah barang sialan itu diserahkan kepada Rocky, aku akan pulang," tegas Robbin, lalu menahan ponsel di antara pundak dan telinga. Jemari besarnya membuka pengait yang ada di atas penutup kaleng. Desis khas minuman bersoda terdengar begitu terbuka.


"Aku masih di airport, nanti kamu ku telepon lagi." Panggil terputus, setengah menunduk sambil jalan Robbin memasukkan ponsel ke saku celana, tangan satu lagi menggenggam kaleng lalu meneguknya hingga tandas.


Robbin bergegas ke area parkir bandara, menekan remot kontrol lalu masuk ke mobilnya. Dia memposisikan kaca mobil bagian tengah agar mendapat pengamatan yang bagus.


Derap langkah kaki Robbin terdengar tegas membentur ubin rumah sakit, dia berjalan tenang di lorong menuju ruang rawat.


Robbin membuka pintu lebar-lebar, dalam ruangan itu sudah ada tiga orang yang dia kenal dan seorang wanita berambut gelap terbaring di tempat tidur.


"Hai, Shay," sapa Robbin.


Johanes langsung menyambar lengan Robbin dan membawanya keluar dari kamar. Begitu sampai di lorong yang sepi, dia membuka percakapan. "Ini sudah kelewatan, Rob. Kita harus menuntaskan secepat mungkin!"


"Mauku juga gitu, maaf kalau aku jadi melibatkan mu."


"Tidak, mereka akan membayar mahal atas apa yang terjadi hari ini," tegas Johanes, sorot matanya disertai kobar api kemarahan.

__ADS_1


Robbin mengepalkan tangan, turut larut dalam emosi sang teman. "Malam ini, tanpamu. Aku dan Berry yang lakukan! Mereka telah membuat masalah dengan orang yang salah."


"Tanpaku?"


"Ya, kamu harus menjaga orang yang sedang terkapar di sana, kan."


"Aku sudah melunasi biaya perawatannya, jadi tidak ada alasan lagi untuk berhubungan dengannya." Johanes bersandar ke dinding lantas menyelipkan jempol tangan di saku celana.


"Kudengar, wanita itu menyelamatkan Shayriel," papar Robbin.


Johanes melirik tajam, dia menolak punggung dari tembok. "Ya, itu bagian terpentingnya, tetapi tidak serta-merta membuatku percaya wanita itu tulus. Maksudku pasti ada rencana di balik itu."


"Rencana?" Amarah Robbin hampir meledak, tidak mungkin seseorang bertindak sebodoh itu kalau memiliki maksud tertentu. "Aku benci memikirkan pikiran picikmu!"


"Picik?" Johanes mendengus kesal atas argumentasi Robbin. "Justru pikiran itu yang membuat kita semua bertahan sejauh ini. Ingat, batasi kepercayaan terhadap seseorang atau dia akan memiliki kesempatan untuk menusukmu dari belakang!"


"Pengecualian, Jo! Dengar, dia telah mempertaruhkan nyawa untuk anakmu." Robbin mengingatkan seraya pergi dari hadapan Johanes. Dia masuk ke kamar lantas keluar bersama Berry.


"Kita pergi, jangan coba-coba menyusul kami!" Berry jelas mendukung Robbin, dua orang ini memang lebih dekat, dan yang sebenarnya, mencoba mendekati Johanes juga, tetapi terhalang. Pria berambut pirang sebahu itu terlalu tertutup.


"Shayriel sepertinya mengkhawatirkan wanita itu," kata Robbin ketika melihat kesedihan mendalam pada sorot mata cemerlang gadis kecil itu. "Ayo, Ber, kita bergegas!"


Keduanya jauh meninggalkan Johanes yang mematung di sana.


"Aku sudah tidak sabar ingin meratakan orang-orang terkutuk itu dengan tanah!" geram Berry begitu sampai di mobil. "Kamu mendengarkan aku bicara tidak, sih?"


"Hah! I-iya," sahut Robbin tergagap sebab pikiran terbang menyusul Clay yang mengudara.


"Kita akan menyelesaikan ini dengan cepat dan kamu segera berkumpul bersama keluargamu, terutama istrimu." Berry seakan-akan tahu isi kepala teman karibnya.

__ADS_1


"Iya, mauku juga gitu." Robbin kembali menerawang ke kejauhan. "Seperti yang sudah kita rencanakan."


Mesin mobil pun menyala, Robbin menginjak pedal gas. Mengarahkan roda kendaraan ke jalan raya. Melaju lambat di antara penggunaan jalan lain.


__ADS_2