
Hati yang semula sebu mulai terasa lebih lega, Clay mengambil napas dari hidung keluar melalui mulut—berulang hingga dada menjadi tenang. Dia berdiri dan menyatukan jempol kaki dengan tumit terpisah, lalu memposisikan kedua tangan ke sisi badan. Mempertahankan punggung tetap tegap dan membusungkan dada, serta menjaga bahu-bahu agar tidak melengkung ke belakang. Dirinya dalam posisi itu selama satu menit.
Serangkaian gerakan dilakukan Clay secara bertahap sampai pada saat posisi yang paling dia suka. Mula-mula dia meringkuk menghadap lantai, memposisikan kedua lengan bawah sebagai penopang. Dirasa sudah siap, dia kemudian menempelkan pucuk kepala ke lantai dan mulai mengangkat kaki-kaki jenjangnya secara berkala, hingga ....
"Demi apa pun! Kamu mau cari mati, ya?" seru Robbin yang tiba-tiba masuk dan memegangi tubuh ramping Clay lalu memboyongnya ke tempat tidur. "Kamu belum makan karbohidrat, dan apa yang kamu pikirkan? Itu berbahaya!"
"Aaah!!! Kak Robbin, aku hanya melakukan gerakan yoga, bukannya akan mematahkan leher," gerutu Clay, menghentak-hentakkan kedua kaki-tangan sambil telentang. Dia merengek karena kesenangannya dirusak paksa.
"No! No! No!" Robbin menggerak-gerakkan jari telunjuk ke kiri-kanan. Dia berkacak pinggang sambil memelototi Clay. "Itu berbahaya, meleset sedikit saja tulangmu bisa patah!"
Bola mata Clay berputar, jengah. "Kak Robbin, kemari, ayo sini," pintanya dengan irama mengalun manja lalu menepuk-nepuk kasur. "Duduk, duduk!"
Robbin pun menurut duduk tenang dengan muka ditekuk, dia melihat lengan kencang Clay menyampir bak busur panah di bahunya yang datar. Wanita itu mendekatkan bibir ke daun telinga.
"Kak Robbin tau, itu tadi gerakan yoga dan bisa menghilangkan stres, bukanya nyawa," bisik Clay.
Jari jempol dan telunjuk Robbin mengurut pangkal hidung, serta mengembuskan napas kasar. "Iya, stresmu segera perpindah kepadaku! Aku bisa gila kalau kamu celaka."
"Manis, manis sekali." Senyum Clay mengembang sempurna, dia suka perhatian sekecil apa pun dari Robbin. Kedua lengan indahnya melingkari tubuh si suami, memeluk erat dengan jemari saling bertautan di lengan kiri pria itu. "Aku sudah biasa melakukan yoga. Sejauh ini aman. Kalau Kak Robbin berminat aku mau, kok, mengajari. Dan, tolong, aku tidak bisa meninggalkan yoga. Jantung menjadi lebih sehat bila kita melakukan secara rutin. Bukan cuma itu, ada sepuluh manfaat dalam yoga, cari saja di situs jejaring sosial kalau tidak percaya."
"Tidak mulai sekarang, jangan lagi menjungkirbalikkan kepalamu seperti tadi!" tegas Robbin. Dia tidak mau didebat. "Tatapan melasmu itu tidak mempan, berhenti cemberut dan ayo kita makan."
Robbin berusaha menarik Clay dengan menggenggam jari jemari lentik nan lembut sang istri hingga benar-benar berdiri tegak.
"Kak Robbin," rengek Clay, mengguncang-guncang bahu Robbin sambil mengekor ke luar kamar. "Selain jungkir-balik masih boleh bukan?"
__ADS_1
Robbin menghentikan langkah. "Oke, selain gerakan berbahaya itu boleh."
"Eemm, terima kasih." Clay sedikit berjinjit untuk menempelkan bibir ke pipi Robbin singkat.
Mata lebar Robbin memejam sejemang, merasakan sensasi menggelitik yang bisa membangkitkan naluri untuk membawa kembali Clay ke kamar. Itu terjadi, andai sang istri sudah makan dengan benar, dia tidak ingin mengajaknya berkasih-kasihan dengan perut kosong.
"Kak Robbin, kenapa?" tanya Clay dan membuat Robbin terperanjat.
"Memikirkan mu," balas Robbin, melirik sekilas.
Suami-istri itu berjalan bersama menuruni anak tangga mengarah ke dapur, lengan kanan Clay tidak dilepaskan dari lengan kokoh Robbin.
Mimpi di siang bolong tidak lagi membayangi benak Clay. Dia pun mengulas senyum secerah biasanya, meski kedua kelopak mata tampak sembab.
"Boleh, heemm, sedap baunya," puji Clay kala aroma daging panggang menusuk indra penciuman. "Kak Robbin, sengaja mau buat badanku gemuk, ya?"
"Kalau boleh jujur, iya," timpal Robbin sambil menahan tawa.
"Jahat, jahat sekali. Nanti aku tidak cantik lagi, Kak Robbin!"
"Siapa peduli, semakin gemuk kamu semakin ginuk-ginuk—menggemaskan," terang Robbin saat meletakkan beberapa potong daging ke atas piring putih besar.
Bibir ranum Clay mengerucut, wajah paripurnanya tampak masam. "Mana ada? kurangi porsinya."
"No, debat! berat badanmu harus tambah 2 kg dalam seminggu," putus Robbin, dengan tangan sibuk menyiapkan makanan.
__ADS_1
Clay merajuk, sekali lalu melipat kedua lengan ke atas meja. Dia mendengus kesal lantas merengek, "Kak Robbin, cukup aku tidak mau gemuk."
Sejenak Robbin menutup mata pun dengan Clay, kedua telapak tangan masing-masing saling ditautkan. Si wanita sengaja berlama-lama, tetapi sia-sia, Robbin tidak mengacuhkan sama sekali. Pria itu menyuapkan sepotong daging tanpa diminta dan Clay terpaksa membuka mulutnya.
Pipi tirus Clay mengembung dan bergerak teratur ketika mengunyah makanan di dalam mulut. Dalam hati ingin menolak, tetapi bibir tidak mau menyemburkan protes. Masakan Robbin susah ditolak, rasanya pas di lidah, membuatnya ingin lagi, lagi, lagi, dan lagi hingga suapan terakhir.
Gas dari dalam perut keluar keras-keras melalui mulut Clay yang setengah terbuka, sampai Robbin tergelak mendengarnya. Pria itu menuangkan segelas air mineral dan memberikan kepada wanitanya.
"Dari tadi suapin aku, Kak Robbin tidak makan?" tanya Clay sebelum meluat tomat sekecil ceri.
"Ini mau makan," jawab Robbin.
kedua telapak tangan Clay menumpu dagu. Dia tidak jemu-jemu memandang seraut wajah tampan sang suami, senyum secerah langit biru selalu tersemat di bibirnya yang ranum. Dia terus menepis mimpi buruk tadi, ini hidupnya, dan tidak ada yang bisa menjauhkan dirinya dari Robbin. Tentu saja, kecuali maut yang telah digariskan Tuhan.
"Mau?" tawar Robbin kala memergoki Clay tengah menatapnya tanpa berkedip—wanita itu mengedipkan mata dengan jeda lumayan lama dan menggeleng pelan.
"Kita bisa pergi jalan-jalan kalau kamu mau. Untuk membunuh rasa bosan dan mungkin saja mimpi itu datang karena kamu butuh udara segar." Robbin mengira Clay masih memikirkan mimpi tidak masuk akal itu. Dia teramat sangat ingin menyenangkan hati Claymira Marcusya—istrinya.
Jari jemari Clay terulur meraih telapak tangan besar sang suami, dia menangkup telapak tangan Robbin dengan kedua tangannya. "Selama ada Kak Robbin di sini, bersamaku tidak akan pernah kebosanan datang menyerang."
Kendatipun desir darah hangat mengalir di seluruh urat nadi di dalam tubuh dan debaran jantung bertalu-talu, Robbin tetap menampilkan mimik wajah datar. Namun, selaput pelangi di matanya memancarkan kebahagiaan. Dia merasa beruntung memiliki istri sesempurna Clay.
Robbin menyukai cara-cara Clay saat berusaha mendekatinya, dia tidak tahu sejak kapan itu disadari, boleh jadi semenjak pandangan pertama. Akan tetapi, selalu ditepisnya karena takut hati yang belum sembuh kembali mengucurkan darah. Dia tidak mau lukanya semakin perih.
Dan, kini setelah menerima gejolak cinta Clay, Robbin merasakan hatinya selentur agar-agar, nyaris meleleh malahan. Tersebab kalimat yang keluar halus dari bibir ranum sang istri begitu menghangatkan.
__ADS_1