Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 52: Bukan Masalah


__ADS_3

Robbin meletakkan kantong kertas di atas meja, tercium aroma khas daging panggang. Dari gambar yang tercetak pada kantong, tanpa melihat dalamnya pun sudah kelihatan kalau isinya burger.


Karena Robbin tidak kunjung bertanya lebih jauh, Clay mulai gusar. Apalagi pria itu tidak pernah melepaskan tatapan tajamnya, berjalan perlahan lantas menangkupkan telapak tangan ke bahu Clay.


Dengan entengnya, Berry berujar, "Kebetulan sekali perutku sudah keroncongan."


"Aku tidak sampai hati, membiarkan kalian kelaparan." Robbin menarik tangannya, meraih satu kursi di dekat sang istri. "Jadi, bisa jelaskan ada apa?" Salah satu siku bertumpu di meja, satu lagi bertengger pada sandaran kursi.


Walaupun air mata tidak lagi keluar, sklera Clay masih tampak merah, sulit baginya menerima pandangan Robbin yang mengintimidasi. Jantung dan paru-parunya bekerja lebih keras karena cemas. Kak Robbin tidak mungkin cemburu sama teman sendiri, kan? batin Clay.


"Nih," ucap Berry seraya menyerahkan burger kepada Clay, dan wanita itu menerima.


"Terima kasih." Clay membuka pembungkusnya, menggigit sedikit-sedikit. "Kak Robbin sudah makan?"


Robbin mengedikkan bahu dan mengeluarkan kentang goreng. Jelas sekali, dirinya berusaha menahan diri agar tidak menggeram—karena menyaksikan interaksi Berry dan Clay dalam posisi tidak biasa tadi. Aksi sang karib memantik bara api kecemburuan di dada. Namun, berkat pelatihan menenangkan diri selama ini, dia mampu meredam amarah.

__ADS_1


"Belum, aku berencana menyantapnya bersama kalian," aku Robbin lalu mengeluarkan satu burger yang tersisa.


Robbin bersikap sesantai mungkin, seolah-olah kolerasi istri dan temannya itu tidak mengganggu hati serta pikiran. Lagipula, di antara keduanya tidak kelihatan terlibat hubungan lebih dari seharusnya. Pun dengan gerak-gerik Berry yang teramat santai.


Setelah menghabiskan separuh dari burger, Berry memberi penjelasan, "Istrimu jatuh dan terkilir." Dia kembali menikmati roti itu dalam gigitan besar, lalu mengimbuhi, " Panther melompat dari lemari."


Penjelasan Berry menjawab semua rasa kesakitan, ketakutan, dan kebingungan pada waktu bersamaan di wajah Clay. Robbin menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak.


Robbin memutar bahu Clay supaya menghadapi ke arahnya, kemudian menangkup kedua telapak tangan ramping istrinya. Meletakkan tangan mereka ke atas pangkuan wanitanya. "Maaf, aku pergi terlalu lama, kamu jadi jatuh, kan jadinya."


"Trims, Ber."


"Bukan masalah." Berry meneguk minuman bersoda.


Kesunyian terasa beberapa menit, mereka menekuni makanan masing-masing. Berry segera mencari simpanan makan kucing, sebelum memberikan kepada Panther—memastikan belum kadaluwarsa. "Well, dapat keberangkatan jam berapa?"

__ADS_1


"Siang, keramaian cocok dengan situasi kita saat ini—mencegah berbagai macam kemungkinan," terang Robbin.


Berry mangut-mangut tanda mengerti.


Selain burger, Robbin juga membelikan kentang goreng. Santap santai siang itu pun berakhir. Tanpa persetujuan, Robbin menyusupkan lengan sebelah di ketiak Clay, sedangkan satu lagi di balik lutut—hendak membawanya untuk beristirahat.


"Berpegangan biar tidak jatuh."


Clay melingkarkan kedua lengan dan telapak tangan saling terjalin di balik tengkuk Robbin. "Aku masih sanggup jalan, Kak Robbin."


Alih-alih merasa keberatan, Robbin membopong Clay—seolah-olah mengangkat bantal berisi dakron. "Aku tidak mau ambil resiko, kakimu harus cepat pulih."


Robbin mengabaikan ekspresi Berry yang menampakkan ejekan. Pria berlesung pipi itu menahan senyum di bibir, kendatipun sudut matanya terlihat mengerut.


"Haduh, aku bisa mati sesak napas di sini," kelakar Berry keromantisan suami—istri itu, terus mengayunkan kaki ke ruang menonton TV.

__ADS_1


__ADS_2