
Robbin terus memandangi Clay penuh cinta, lama-lama sudut bibirnya tertarik ke atas. Wanita itu tersipu malu lantas menarik tangannya, tetapi sebelah lagi masih berada di genggaman sang suami. Jemari jempol Robbin bergerak lembut di atas buku-buku jari Clay. "Ah, andai aku tidak harus pergi," sesalnya kemudian. Dia teringat pesan yang masuk melalui ponsel.
"Perginya lama?" tanya Clay, raut wajah berserinya mendadak mendung lagi. "Aku ikut, please." Sorot mata bening kemerahannya berkilat-kilat, air mata menyelimuti kornea.
"Boleh, tapi kamu tetap di dalam mobil. Lagian aku tidak lama, kok."
"Tidak masalah, yang penting aku ikut." Clay menarik tangannya dari genggaman Robbin menuju ke kamar hendak bersiap-siap dan mengambil ponsel.
Robbin segera membersihkan meja makan. Dia mencuci semua perabotan yang sudah digunakan. Lalu, keluar dari dapur lewat pintu samping untuk membuang sampah. Dia melihat sekitar sebelum masuk kembali. Di sudut jalan terlihat mobil biru metalik terparkir, dia memicing guna memastikan siapa yang ada di dalam sana.
Ketika Robbin hendak menghampiri mobil itu melesat cepat meninggalkan jalan. Robbin pun mengumpat, dia yakin itu orang yang sedang mengintai rumahnya.
Robbin bergegas masuk ke garasi, kemudian mulai meraba perlengkapan bengkel di belakang bumper mobilnya. Dia menarik salah satu tuas di atas meja itu, hingga terdengar derak pintu kayu yang terbuka di bawah meja.
Menampilkan sebuah ruang rahasia yang biasa di gunakan Robbin untuk membuat peralatan berbasis perangkat lunak maupun keras. Dia kecolongan kali ini, harusnya memasang kamera pengintai di rumah lebih awal.
Robbin berjalan perlahan menuruni beberapa anak tangga menuju dasar yang gelap, lantas tangannya mencari-cari tombol agar lampu di ruang bawah rumah itu menyala. Terdengar derik aliran listrik sebelum tiga bohlam kekuningan berpendar.
Terdapat meja besi selebar satu meter dengan panjang empat meter membentuk huruf L mengikuti sudut ruangan itu. Di atasnya terdapat seperangkat komputer lengkap. Ada lampu lebih terang menaungi meja itu.
Robbin mendengus sebelum melakukan pekerjaannya. Terdengar deritan saat dia mendudukkan dirinya ke kursi kayu. Jemarinya menekan beberapa tombol, tidak sampai enam puluh detik layar di depannya menyala.
Dering ponsel di kantong celana meraung, Robbin mengambil dari saku sambil menggerut. Dia cukup sabar dengan tidak menyela perkataan orang di seberang sana, sampai diberi kesempatan untuk bicara.
"Ya, aku berharap dia orang yang berbeda," kata Robbin, dia mengusap tengkuk kasar sebelum memukulkan jemari tangan yang mengepal ke kening. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak memotong penuturun salah seorang teman di seberang telepon.
__ADS_1
"Biru metalik, harusnya aku tahu kalau itu Hanes, tapi kenapa dia hanya menunggu di sana seperti seorang penguntit," ujar Robbin, karena selama ini pemuda itu selalu datang dan pergi sesuka hati menemui Clay.
"Baiklah, terima kasih. Aku akan memasang beberapa kamera di sekitar rumah." Panggilan telepon pun terputus, Robbin bergegas menyelesaikan pekerjaannya.
Robbin mengambil lima buah kamera berukuran lima milimeter, kemudian memasukkan kode melalui komputer lantas mengaktifkan ponsel, dia mengoprasikan kamera-kamera itu agar dapat diakses melalui jarak jauh.
Kurang lebih selama satu jam Robbin di dalam sana, sesekali ujung jemari mengetuk meja secara berirama. Dia menunggu pemrograman kamera terakhir dan semua akan sudah siap di pasang.
"Aku harus pasang alarm juga di pintu, dengan begitu aku bisa tenang saat meninggalkan Clay untuk kerja. Setidaknya aku bisa tahu bila ada bahaya," gumam Robbin.
Kini semua perangkat yang dibutuhkan telah selesai diprogram, Robbin bergegas keluar dari ruang rahasia itu. Dia memastikan semua peralatan dalam keadaan mati.
Samar-samar terdengar suara Clay memanggilnya di luar, setelah keluar dari pintu rahasia itu, Robbin segera menuju ke dapur.
"Kak Robbin, dari mana aja?" tanya Clay yang melongokkan kepala ketika mendengar pintu di buka.
"Itu apa?" Clay mendekati meja makan di mana ada Robbin.
"Hanya sesuatu yang tidak penting. Sudah siap berangkat?" tanya Robbin, dia melihat Clay dari ujung kaki hingga pucuk kepala. Hanya satu kata yang terpikir olehnya—sempurnan.
Clay memakai riasan sederhan, tetapi tetap memancarkan aura kecantikan dari dalam. Sungguh penampilan tanpa cela, pakaian yang dikenakan tampak bergaya sekaligus berselera tinggi. Itu baju yang sama, meski kaya dia selalu memakainya di lain kesempatan.
"Sudah dari satu setengah jam yang lalu," sahut Clay.
Saliva kasar seolah-olah sulit ditelan, nanti malam Robbin harus menyelesaikan urusan yang tertunda. Sejak menikah, dirinya terus menjaga jarak dari istrinya. Dan, sekarang tidak lagi. Harus ada gebrakan baru. Waktu yang tepat karena cintanya kini tengah merekah, mendamba sentuhan lembut jari jemari lentik sang penggoda hati.
__ADS_1
"Aku akan meletakkan ini di kamar," ucap Robbin, dia menenteng kantong tersebut di tangan kiri kemudian tangan kanan menarik pinggul Clay, lantas mengecup pelipis wanita itu singkat. "Tunggu sebentar."
Kelopak mata Clay mengatup selama dua detik, dia merasakan darahnya mendidih, panas menjalari pipi ketika bibir keras Robbin menyentuh kulitnya tadi. Dia mengukir senyum canggung, jantungnya berdenyut-denyut, meminta sentuhan lebih. Mata bulatnya enggan berpaling dari punggung lebar sang suami yang menghilang di ujung anak tangga.
Lima menit berikutnya Robbin sudah menghampiri Clay. Dia menautkan jari jemarinya ke sela-sela jemari lentik sang istri.
Suami-istri itu mengarahkan mobil ke jalan raya, berjalan santai menuju titik pertemuan. Langit sore itu tampak indah, berwarna merah bercampur ungu, seberkas cahaya surya juga tidak terlalu terik. Menyorot lembut saat menerpa wajah ayu Clay.
Robbin melirik Clay, wanita itu tampak memicingkan mata. Tangan Robbin pun terulur, menurunkan penahan sinar yang ada di depan sang istri.
"Terima kasih," ucap Clay, menoleh ke arah Robbin. "Ketemuan di mana, Kak Robbin?"
"Nanti kamu juga tau." Robbin mengarahkan mobil ke jalan Cumberland Gate menuju N Carriagen Dr, kemudian sekitar 300 kaki berbelok sedikit ke kiri melewati Bayswater Rd/A402. Untuk sampai ke tempat itu hanya menghabiskan waktu enam menit.
"Sudah sampai."
"Kenapa tidak berjalan kaki saja kalau sedekat ini?" Clay menyandarkan punggung setelah melihat keluar jendela mobil.
"Kalau jalan bisa butuh waktu lebih dari ini, yuk!"
"Katanya suruh tunggu di mobil?" timpal Clay.
"Ikut aja." Robbin mendekati kursi Clay, lalu membantu wanitanya melepas sabuk pengaman. Aroma segar menyusup sopan pada rongga pernapasan. Membuat Robbin mabuk kepayang, dia ingin menikmati Clay saat ini juga. Membawanya terbang ke antariksa dan bercinta di taman surgawi.
"Kak Robbin," sentak Clay.
__ADS_1
"Oh, ya." Robbin gelagapan, dia buru-buru menjauh, menarik diri sebelum tenggelam ke dalam pusaran tidak berdasar, teluk cinta yang dibangun Clay untuk dirinya. Astaga! Tidak pasti mulai kapan dia berpikir sepuitis ini.