Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 47: Radar Intelektual


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, Robbin menatap lekat-lekat Clay yang tertidur pulas. Dia mengenakan celana yang teronggok di lantai, kemudian menutupi sang istri dengan selimut sebatas leher.


Robbin mengendap-endap ketika keluar dari kamar, dirinya berusaha menimbulkan suara seminim mungkin. Begitu mencapai anak tangga terakhir, dia berjalan cepat ke garasi, masuk ruang kerjanya.


"Halo, Ber, kita ubah jadwal. Aku butuh tempat tinggal baru sebelum mendapatkan tiket tambahan," ujar Robbin, sementara jemari satunya menggerakkan tetikus.


Robbin mendengar perkataan Berry di seberang sana, mengumpat tidak jelas lantaran waktu bersenang-senang dikacaukan.


"Nah, dapat." Robbin berseru, dia bersandar sampai kursinya terdorong ke belakang. "Aku tidak yakin asli, tetapi tolong bantu telusuri identitas pemilik nomor plat ini...."


Berry terdengar bersemangat, saking antusiasnya sampai mengusir entah siapa yang tidur di sebelahnya. Suara erang kekesalan samar-samar menyusup di telinga Robbin. Membuatnya tidak tahan lalu tertawa. "Tega benar dirimu, Ber. Aku tidak meminta kamu buru-buru, tapi yah, memang lebih cepat jauh lebih baik."


Terdapat jeda sesaat, Robbin mendengar ucapan Berry sebelum menyahuti, "Okay, Bye." Sambungan telepon pun mati.


Setumpuk rencana berkeliaran di kepala Robbin. Siap digunakan kapan pun, sekumpulan ide yang benar-benar masuk akal. Menjebak orang untuk keluar dari persembunyiannya tampak mudah. Mari lihat siapa orang ini dan yang membayarnya.


Bagi Robbin tidak ada suatu kebetulan sampai lebih dari sekali, radar intelektual dalam dirinya berfungsi dengan baik. Entah baik atau buruk niat Jeremy, Robbin sebaiknya berwaspada.


Robbin berencana kembali ke lantai atas sebelum Clay menyadari kepergiannya. Dia lekas membereskan peralatan, mematikan listrik yang terhubung ke komputer. Dirasa sudah aman bergegas meninggalkan ruangan.


Langkah Robbin tertahan di ambang pintu dapur. "Kamu sudah bangun, apa kamu baik-baik saja?" Rasa cemas menyelubungi pertanyaan, terasa lebih baik melihat senyum terlukis di bibir ranum Clay.


"Iya, rasa lapar mengusik tidurku."


"Tidak ada yang mengganggu di bagian itu." Robbin menatap sekilas bagian bawah perut Clay sembari mendekat. Menangkup pipi dan mengusap dengan ibu jari.


Tawa Clay siap meledak, tetapi ditahan mati-matian supaya tidak keluar. "Lihat saja sendiri, bahkan aku sanggup berlari saat ini. Kak Robbin, nih, ada-ada saja."


"Ah, aku kecewa." Robbin mendramatisir, terus melingkupi bahu Clay dengan kedua lengan kuat-kuat, mengecup lama pelipis kiri istrinya. "Beberapa teman sanggup melumpuhkan sendi-sendi pasangan sampai terkapar. Dan, itu tidak bisa kulakukan, aku suka menikmatimu pelan-pelan. Menjadikannya sebagai kisah kasih manis untuk dikenang."

__ADS_1


"Masa? Ah, tetap saja sakit di awal-awal." Clay mendongakkan kepala. Mencari-cari iris mata kecokelatan suaminya. "Setelahnya, benar-benar menakjubkan. Ingin mengulang lagi."


"Mengulang, ya." Senyum mewarnai perkataan Robbin. "Kurasa kita perlu energi tambahan."


Clay tampak tidak rela Robbin mengendurkan rengkuhan. Jari jempol dan telunjuk besar itu menjepit manja ujung hidungnya.


"Kamu mau makan apa?" tanya Robbin kemudian.


"Omlet saja."


"Bersiaplah selagi aku menyiapkan makanan. Kita akan pergi dari sini."


Clay tertegun sejenak. "Pulang?"


"Belum, hanya pindah tempat dan besok kita terbang ke suatu tempat," terang Robbin, tanpa menangguhkan pekerjaan.


Sepuluh menit berikutnya Clay sudah duduk manis di kursi dapur, dia berpangku tangan, mengagumi gerakan Robbin saat menguasai peralatan masak.


"Butuh bantuan?"


"Sejauh ini tidak," kata Robbin dari balik bahu.


"Mungkin mengelap keringat."


"Tidak, Sayang. Uh, ya, tapi itu terdengar romantis." Robbin meletakkan omlet di atas meja, diam-diam mengamati pipi tirus Clay yang bersemu merah. "Mau jus?"


"Susu aja." Clay mengambil sendiri di dalam kulkas. "Kak Robbin mau jus apa, biar aku yang buat."


"Tidak, Terima kasih."

__ADS_1


Mendengar penolakan halus Robbin, Clay mengerucutkan bibir. "Janji, aku tidak akan meledakkan dapur."


"Ha-ha-ha, aku percaya itu." Terbayang peristiwa hebat Clay yang memporak-porandakan dapur. Hal itu tidak memengaruhi semangatnya untuk menjadi istri sejati. Dari hari ke hari kemampuan wanita itu berkembang pesat. "Namun, suatu kehormatan bisa melayani Yang Mulia." Robbin mengerlingkan mata.


"Heemm, yummy." Mata bulat Clay menutup hingga kelopaknya mengerut, bentuk apresiasi atas kemampuan terselubung sang suami. "Luar biasa."


Robbin berdecak mendengar pujian Clay. Keduanya menikmati makan dalam diam, hanyut di pikiran masing-masing.


"Habiskan makanan mu, aku harus mengemasi barang-barang," ucap Robbin, piringnya telah kosong.


"Sudah semua, kok." Tentu Clay sudah memasukkan barang mereka, lagipula tidak banyak.


"Aku akan memeriksanya."


"Kak Robbin tidak percaya kepadaku?" rajuk Clay. Dia menusuk-nusuk sepotong omlet.


Robbin mencebikkan bibir. "Bagus, kalau gitu aku buang sampah dulu." Sambil melangkah, dia merogoh saku celana. Menyentuh sederetan angkat pada layar yang menyala.


Panggilan tersambung. "Aku butuh seseorang untuk memindahkan beberapa barang." Singkat, jelas dan padat.


Usai membuang sampah, Robbin masuk ke ruang bawah tanah. Mengepak perangkat tempurnya dengan hati-hati. Selain itu menyelipkan pistol ke pinggang bila sewaktu-waktu dibutuhkan, tak lupa memasang belati pada pergelangan kaki.


Ponselnya berdering, nama Berry tertera di layar. "Ya, gimana, dapat?"


"Mobil sewaan?" Robbin mengusap wajah kasar. "Ya, aku mencurigai seseorang. Tentang istriku, dia bertemu dengan orang yang sama secara kebetulan sampai, yah, kurang-lebih tiga kali."


Robbin memberi ruang untuk Berry bicara, menunggu giliran. "Terima kasih, aku bisa lanjutkan. Oiya sudah dapat tempatnya?"


"Oke, kabari begitu sampai depan." Robbin hendak mematikan ponsel, tetapi tidak kesampaian. "Cepat betul, tunggu bentar."

__ADS_1


__ADS_2