
"Bisa kamu bayangkan, Rob, wajah-wajah ketakutan kaki tangan wanita itu? Aku yakin ada yang kencing di celana setelah mendengar pengumuman dari kita, ha-ha-ha." Tawa Berry menggema ketika membicarakan aksi mereka, sembari membuka pintu mobil dia bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Kecemasan terlukis di wajah sang teman, alis Berry saling bertautan. "Takutnya lukamu terinfeksi, kita harus ke rumah sakit."
"Tidak perlu, ini tidak seberapa," sahut Robbin, dia tadi sempat kehilangan konsentrasi, sehingga mendapat sabetan belati. "Kondisi orang itu tidak lebih baik dariku."
Berry mengakui itu, karena selain ahli mengoperasikan perangkat lunak, Robbin merupakan petarung tangan kosong.
"Hal paling menyenangkan adalah—" Ada jeda dan intonasi tegas di dalam kalimat yang hendak Berry lontarkan, "Markas mereka benar-benar rata dengan tanah."
"Kamu yakin semua hancur lebur?" tanya Robbin tiba-tiba, dia duduk di atas undak-undakan teras pertama. "Uh, maksudku wanita bengis itu."
"Tentu saja, bukankah saat itu dia sedang berendam?" Berry balik bertanya, "Ah, sudahlah. Paling tidak mereka tak lagi meremehkan kita."
Pria berlesung pipi itu menyulut ujung rokok, dia menghisapnya kuat-kuat lantas mengepulkan asap ke udara. Lalu, bersandar ke dinding, Berry cukup puas dapat membalaskan dendam Johanes.
"Kamu boleh menginap di sini kalau mau," tawar Robbin.
Berry menoleh sekilas. "Aku butuh wiski dan—"
"Tidak perlu katakan, pergilah!" potong Robbin sambil melambaikan tangan, dia beranjak dari duduknya seraya menapaki anak tangga. "Pukul sepuluh kita berangkat, pakai jasa taksi saja biar tak ada yang curiga."
Sebagai persetujuan, Berry mengangguk kecil. Mengayunkan kaki mendekati mobil dan suara mesin roda empat itu terdengar. Semakin samar menjauhi rumah Robbin.
Robbin pun berbalik badan, ketika berdiri di depan pintu tidak langsung membukanya, dia mendongak sedikit lebih lama. Tersadar bahwa sekarang tinggal sendirian, tiada lagi celotehan Clay. Wanita cantik yang selalu menunggu kepulangannya, menawarkan ini dan itu, tetapi sering dirinya abaikan.
__ADS_1
"Tinggal selangkah lagi," gumam Robbin sembari memasukkan anak kunci ke lubang di gagang pintu.
Pencahayaan di ruang tamu saat ini begitu minim, sinaran lampu pinggir jalanan menerobos melalui celah gorden yang terbuka. Robbin sengaja mempertahankan suasananya tetap suram. Dan, lagi tidak ada orang selain dirinya.
Berharap bisa meredakan rasa sakit, Robbin merebahkan punggung ke sofa beberapa menit. Lumayan baik, dia mendesah ketika berusaha berdiri. Luka di perutnya tertarik dan kembali terbuka. Sambil mengerang dia menghempaskan tubuhnya lagi.
Spontan jemari Robbin menjamah kulit di balik kemeja yang telah koyak. Darah segar membasahi telapak tangannya, basah dan licin. "Oh, astaga!"
Luka robek yang diterima Robbin tidak dalam, tetapi cukup panjang dari bawah dada kanan hingga pinggang sebelah kiri. Goresan belati itu meneteskan cair pekat kemerahan. "Aku harus bersihkan luka ini. Oh, hanya Tuhan yang tau belati itu menyayat apa saja."
Dengan hati-hati Robbin berjalan menuju dapur, mengeluarkan handuk kecil dari dalam kotak pertolongan pertama. Kemudian membasahinya dengan air, dia merasakan perih di kulit yang cedera.
Robbin mengambil cair antiseptik dan menuangkan ke atas kapas. Matanya menyipit disertai bibir berdesis, menahan rasa perih yang menyengat.
Usai membersihkan luka, Robbin mengarahkan kaki ke anak tangga menuju kamar. Bajunya yang bebercak darah diletakkan asal pada sandaran kursi.
Pada tengah malam Robbin terbangun, kamar yang biasa di tempati bersama Clay gelap gulita. Dia mencoba merenggang otot-otot yang kaku, tetapi dirinya dikejutkan oleh seseorang yang tidur di sebelahnya.
Pandangan Robbin sedikit kabur, jari telunjuk dan jempol memijat pangkal hidung. Berusaha meraih kesadaran penuh. "Clay?"
"Hmmm."
Apakah ini mimpi? Jantung Robbin berdetak cepat. Seumpama ilusi, dia tidak ingin terbangun lebih cepat. Gegas ditariknya Clay lebih dekat ke dadanya. "Aku merindukanmu. Kupikir kamu marah, sehingga tidak sudi lagi melihatku untuk terakhir kali."
Rambut Clay membelai dagu Robbin, wangi shampoo menusuk indra pernapasan. Dia mengecup pucuk kepala itu lama, seakan-akan belum bertemu lebih dari sewindu.
__ADS_1
Puas bermain-main dengan rambut Clay, dia mendaratkan bibir di kening, kemudian mengecup kelopak mata. Bulu mata lentik istrinya menggelitik, mengundang Robbin melakukan lebih. Dirinya menyapu pipi, hidung, serta bibir sang istri dengan ciuman.
"Kak Robbin."
Bisikan Clay jelas di telinga Robbin, pinggang dan punggung yang polos merasakan sentuh lembut jemarinya. Ujung-ujung jari menyusuri tulang rusuk penuh goda, dia merengkuh tubuh ramping itu lebih dekat.
Jemari besar Robbin pun menelusup di sela-sela rambut bervolume nan halus itu, semakin menuntut disetiap sentuhan, mendesaknya agar terbuka, menciptakan jalur untuk Indra perasaan. Rasanya sungguh menakjubkan, meski tak mampu mengenali mimpi atau nyata. Dia menyelam lebih dalam untuk mencapai apa yang selama ini dinanti.
Robbin berguling dari tempatnya dengan bingung, menatap wanita cantik yang selalu mengusik pertahanan dirinya. Namun, hasratnya takkan goyang. Menanggalkan satu-satunya penghalang yang melekat di badan. Dengan memanfaatkan insting, dia menelusuri lekuk lembut itu.
Menarik ke atas begitu menemukan ujung baju yang menghalangi, Robbin berdecak kagum, kulit kuning langsat terpancar anggun disinari cahaya lampu jalanan yang menerobos di sela-sela jendela.
Semua berlangsung sempurna, untuk memastikan Robbin mengerjap beberapa kali. Bibir ranum itu sedikit terbuka, menariknya lebih dekat bagai kutub berbeda pada ujung magnet. Kuat dan susah ditolak.
Ketika hendak bertindak lebih jauh, rasa ragu menyergap. Bayang-bayang Clay muncul di depan mata, pertahanan diri runtuh. Dia menyerah kepada rasa rindu serta hasrat yang menguasai akal dan raga.
Robbin menyentuhkan bibir dengan lembut, perlahan-lahan membelit satu sama lain. Kehangatan terasa begitu nyata, dia terhanyut dalam gejolak api kenikmatan. Setelah sekian lama memendam kebutuhan batinnya, kini terbayar tuntas.
Pernahkah Robbin memadu kasih seintim ini? Belum. Tentu saja ini yang pertama di sepanjang umurnya. Seluruh indranya menanggapi rangsangan mengejutkan. Jaringan yang mengatur kinerja sel-sel dalam tubuh menegang, menerima desir hangat ke setiap pembuluh darah.
Dengan gerakan terburu-buru, dia mendorong dirinya masuk lebih dalam, memenuhi ruang kosong itu dengan lahar kehidupan. Mengabaikan rintih kesakitan tubuh yang menerima dorongan bertubi-tubi.
"Maafkan aku, maafkan aku." Suara Robbin terdengar parau.
Robbin terkulai, kejadian demi kejadian memenuhi pikiran. Dengan tubuh gemetar dia menelan saliva susah payah, menyadari apa yang telah terjadi.
__ADS_1
Semestinya, Robbin bisa menguasai diri. Pengalaman pertama ini mestilah bersama Clay. Dia pun tersentak, angannya seolah-olah terhempas dari ketinggian, membanting pada kenyataan. Kenyataan? Rasa manis sesaat lalu masih menyisahkan denyut tak menentu di sekitar tubuh paling sensitif.