
Kedua tamu itu merupakan Berry dan Johanes, mereka datang untuk mengambil alih kartu memori dari tangan Robbin.
"Masuk, kalian yakin aman?" tanya Robbin sambil menengok kanan-kiri. Dan, dua temannya menyelinap ke dalam rumah, kemudian duduk tanpa dipersilakan.
"Aman, tadinya ingin mengajakmu bertemu di tempat lain," terang Berry.
Robbin terdiam sejenak setelah masuk dan menutup pintu. Dia tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Clay sendirian. Dirinya merasa ada yang tidak beres selama ditinggal pergi beberapa hari yang lalu. Kendati sang istri belum menceritakan apa yang telah terjadi.
"Hey, ada yang salah?" tegur Berry, ketika mendapati sahabatnya itu melamun.
Sudut bibir Robbin melengkung ke bawah sebentar. "Tidak, bukan apa-apa. Gimana dengan Meghan?"
"Pergi ke KL, dia merasa aman di sana," papar Berry sembari mengamati ruang tamu Robbin. "Sekarang di mana benda itu?"
"Bank," jawab Robbin lantas mengeluarkan sebatang rokok dan menyulut ujungnya.
Berry menepuk keningnya, lalu berujar, "Sial! Kenapa tidak bilang?"
"Sejak kapan aku harus membuat laporan setelah menyelesaikan tugas!" sungut Robbin.
"Ah, ya, sudah. Di sana lebih aman," timpal Johanes, daripada debat kusir. Dia pun meraih kotak berisi batang rokok di atas meja lantas menyandarkan punggungnya. "Sebetulnya, kita ke sini bukan hanya menanyakan hal itu, tetapi ada sesuatu yang lebih mendesak."
Pria berambut pirang sebahu itu mencondongkan tubuh lebih dekat ke arah Robbin lantas berbisik, Johanes seolah-olah takut diketahui orang lain padahal di sana yang terlihat hanya ketiganya.
Setelah mendengar penuturan Johanes, Robbin mengambil jarak kemudian mematikan bara api di ujung putung rokok. Dia jelas tidak bisa ikut campur dalam tugas yang sedang kedua temannya kerjakan. Memastikan obat-obatan terlarang dan minuman keras masuk ke negara itu tidak semudah meretas situs keamanan.
Selain itu membutuhkan waktu lama untuk mencapai tempat tujuan, belum lagi menghindar dari petugas beacukai. Karena baru-baru ini tersiar kabar adanya baku tembak penyelundup dan otoritas keamanan daerah setempat. Memang tidak dapat dipungkiri, negara tersebut termasuk wilayah segitiga emas di mana menjadi jalan utama untuk melakukan transaksi obat-obatan terlarang.
"Ayolah, Rob," desak Johanes, "Kalau tugas ini berhasil, bonus yang kita dapat tidak main-main. Sampai berpuluh-puluh kali lipat."
"Kali ini aku tidak berminat," putus Robbin.
__ADS_1
Dan, siapa sangka kedua teman baiknya itu terkesiap. Sejak kapan Robbin menolak pekerjaan dengan bayaran berjumlah besar.
"Kenapa melihatku seperti itu?" hardik Robbin.
Johanes dan Berry tergelak bersamaan, lalu sama-sama menyipitkan mata. Mereka jelas merasa aneh atas perubahan sang teman yang begitu tiba-tiba.
Robbin mengibaskan tangan seraya berujar, "Aku hanya ingin istirahat, baru saja tugas yang kukerjakan selesai."
"Persis!" seru Berry.
Kini, giliran Robbin dan Johanes yang menampakkan raut wajah kebingungan dan sesaat berikutnya Berry malah tersenyum-senyum.
Robbin yang tidak sabar pun menghardiknya. "Apa maksud ucapan mu?"
"Memang tidak pasti, tetapi aku sangat yakin," kata Berry. Dia menekankan putung rokok ke asbak lantas melanjutkan. "Ingat kata-kata Bima sebelum akhirnya mengundurkan diri dari agensi?"
Berry mengingat sembari menggerakkan alis tipis kecokelatan yang membingkai mata lebarnya. Dia berdeham untuk menggoda Robbin yang sudah terlihat mengusap tengkuk tersebab salah tingkah.
"Oh, ada yang tidak kita ketahui rupanya," celetuk Johanes sembari tersenyum usil. "Wanita hebat mana yang bisa menaklukkan gunung Everest?"
"Adik Manis, keluarlah!" seru Johanes tidak mau melewatkan kesempatan, dia malah sudah beranjak dari duduk.
"Heyyy, kembali ke tempatmu!" sergah Robbin. "Dia tidak ada di sini."
"Kamu kira, kami percaya? Ha-ha-ha, sembunyikan dia sampai ke ujung dunia. Cepat atau lambat kita akan tau siapa wanita malang itu," ujar Berry.
"Diam atau angkat kaki dari sini dan aku tidak membiarkan dia mengenal orang-orang seperti kalian," tekan Robbin seraya tersenyum simpul.
"Oh, dan aku berdoa semoga dia tidak semurahan kekasihmu dulu." Kenang Johanes.
"Jangan ungkit lagi, Jo. Wanita itu sudah tenggelam ke dasar laut dan dimakan hiu," timpal Berry. Dia menyadari wajah Robbin berubah tegang karena fakta yang lolos dari mulut Johanes. "Omong-omong, tenggorokan ini rasanya kering. Butuh guyuran minuman bersoda atau bir kalau ada."
__ADS_1
"Tunggu, aku tadi beli beberapa." Robbin meninggalkan kedua tamu tidak diundang itu berkasak-kusuk di belakangnya. Dia lumayan terusik oleh penuturan Johanes. Sekarang hatinya menjadi resah, mengingat perilaku Clay yang sedikit berani. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, dia tidak pernah melihat sang istri dekat dengan pria lain.
Robbin terus saja melamun sampai mengabaikan langkah, sehingga terantuk pinggir meja. Dan, ternyata Clay masih berada di dapur. Wanita itu sedang menyiapkan minuman dan sepiring biskuit.
"Baru mau kuantarkan," kata Clay tanpa menoleh.
"Biar aku saja," sahut Robbin, lalu menyentuh pundak Clay sekilas lantas mencium pelipis kirinya. Dia tidak tahu sentuhan lembut itu membuat pembuluh darah sang istri berdesir cepat.
"Oh, ini." Clay mempertahankan supaya suaranya tetap tenang. Dia menyerahkan nampan berisi lima minuman kaleng dan gelas-gelas berisi es batu, sepiring biskuit.
"Maaf, acara makan-makan kita jadi tertunda," sesal Robbin.
"Bukan masalah besar, aku sudah makan buah dan minum segelas susu."
Robbin mengulas senyum sambil menjepit ujung hidung Clay, kemudian mengambil alih nampan dari tangan sang istri. "Masuklah ke kamar, jangan keluar selagi aku masih ada tamu."
"Sesuai perintah, my lord." Clay mengusap pipi Robbin penuh cinta.
"Clay," panggil Robbin ketika Clay berbalik badan. Dia meletakkan nampan ke atas meja, lalu meraih pergelangan tangan istrinya.
"Ada apa?" tanya Clay bingung.
Pikiran Robbin kembali dihantui masa lalu, dia takut Clay meninggalkan dirinya bersama pria lain. Iris mata Robbin menatap lurus ke dalam mata bulat istrinya. Barangkali menemukan tanda-tanda cinta wanita itu mulai hilang.
"Kak Robbin, helo!" Clay melambai-lambaikan tangan di depan wajah Robbin. "Kenapa?"
"Berjanjilah tidak ada cinta yang lain di hatimu," pinta Robbin seraya membawa punggung tangan Clay ke bibir.
"Hanya Kak Robbin, tidak ada yang lain."
"Katakan bahwa selama bersamaku tidak ada pria lain yang menyentuhmu." Robbin menuntut, dia menarik Clay, merengkuh wanita itu erat-erat beberapa saat. Meyakinkan diri sendiri bahwa kejadian pada masa lalu tidak terulang kembali.
__ADS_1
Dalam dekapan Robbin, Clay memejamkan mata. Air bening nan hangat luruh seketika membasahi pipi. Dia teringat kedekatannya dengan Hanes.
Kumohon maafkan aku, Kak Robbin, aku harus mulai dari mana untuk mengatakan semua yang terjadi antara aku dan Hanes. Kak Robbin pasti marah kepadaku. Aku belum siap kehilangan mu. Clay membatin.