Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat
Bab 58: Detektif Memiliki Peran penting


__ADS_3

"Munafik, dulu berperilaku selayaknya biarawati. Sekarang, tidak lebih dari sekadar wanita tidak tau malu karena bertunangan dengan selingkuhan!" cibir mantan Ainsley.


Dari seberang meja, Robbin terkejut dan akan berdiri saat kalimat pedas itu memaksa masuk ke indra pendengaran. Dia tidak suka ada orang yang merendahkan seorang wanita, sekali pun itu bukan kerabatnya.


Namun, Berry yang berada di sana dan melihat mata Ainsley mulai merah serta membendung air, tidak segan berdiri dan mencengkeram kemeja pria itu. "Bajingan! Beraninya menilai dia sembarangan!"


"Apa!" Dengan pongah pria necis itu menantang, dia harus mendongak, sebab tingginya selisih lima belas senti lebih pendek dari Berry.


Sudut bibir Berry tersungging kaku, sembari berujar, "Bernyali juga rupanya."


"Cukup!" Ainsley turut beranjak dari duduknya serta menarik salah satu lengan Berry. "Codby, pergilah. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi!" pintanya tanpa menoleh. Dia melempar pandang ke jalan raya.


"Kamu berani mengusirku, Ainsley?" Tantang mantannya yang bernama Codby. Dia menggeleng lalu menatap penuh kekesalan.


Berry melepaskan cengkeraman lantas menepuk debu fiktif di kedua pundak Codby. "Kamu dengar, coboy, dia memintamu pergi."


"Hey! Aku bukan coboy!" hardik Codby, atas ulah Berry yang mengubah namanya sesuka hati.


Robbin yang tahu karakter slang sang sahabat seketika mengulas senyum, lalu menikmati makanan yang tadi diantara pramusaji. Dia seakan-akan tidak peduli dengan ketegangan di belakang, padahal sejatinya memasang telinga lebar-lebar.


"Aku tunggu kamu setelah istirahat!" perintah Codby.


"Siapa kamu berani memerintahkannya!" Tunjuk Berry, rahang dan otot lengannya mengeras.


"Wah, tunangan macam apa yang tidak tau pekerjaan calon istrinya?" ejek Codby, lantas menoleh ke arah wanita mungil berkacamata itu. "Aku yang beritahu dia, atau kamu yang jelaskan, Ainsley?"


Dalam diam, Robbin melihat mimik wajah tegang Ainsley dari balik bahu. Wanita mungil itu menunduk dalam dengan tangan terkepal di samping badan. Kalau saja Clay yang berada dalam situasi tersebut, pasti Codby habis dimaki-maki, pikir Robbin.


"Jadi, Mr. McDavoy, tunangan mu ini bekerja kepadaku," terang Codby lugas. "Mungkin sebentar lagi akan menjadi mantan pekerjaku."


Pada saat itu Ainsley langsung mendongak, raut wajahnya benar-benar terlihat tertekan. Namun, dia segera menyunggingkan senyum datar seraya berkata disertai nada dingin. "Terima kasih, karena aku sudah siapkan surat pengunduran diri."

__ADS_1


"Bagus!" sergah Codby, kemudian mengambil langkah panjang depan geram ke arah pintu keluar dan diikuti si wanita seksi.


Seperginya kedua orang itu, telapak tangan mungil Ainsley mendarat di pipi Berry. "Ini bayaran atas sikap kurang ajarmu sebab berani menyentuhku!" sungut Ainsley. "Gara-gara kamu semuanya kacau!" Dia terhuyung ketika menabrak tubuh tegap berotot Berry kala memaksa pergi.


Robbin memperhatikan raut wajah kemerahan berlinang air mata wanita itu ketika melewati mejanya. Dia yakin sekali bahwa kemarahan dan rasa malu melingkupi Ainsley sekarang.


"Ainsley, tunggu!" Berry mengejar wanita itu, kaki jenjangnya berhasil menyejajari langkah kecil Ainsley. "Kamu tidak bisa pergi seenaknya setelah mengaku-ngaku bertunangan tanpa membuat kesempatan dulu dengan ku."


"Bukankah lucu? Mestinya aku menututmu!" Ainsley berbalik badan sambil melipat lengan di perut, berusaha mendominasi meski matanya masih tampak nanar. "Kamu mencuri ciuman dariku!"


"Ayolah, sweetheart, ini London," kilah Berry.


"Dan, aku menganggap itu hal tabu," kata Ainsley nyaris tak terdengar, dia berlalu dari hadapan Berry yang tertegun.


"Ber, siapa wanita itu?" tanya Robbin.


"Baru kali kedua aku bertemu dengannya."


"Kedua? Yang benar saja? Dia tampak terluka karena perbuatanmu. Aku tidak menyangka masih ada warga negara sini yang beranggapan ciuman hal terlarang. Bahkan, wanita itu sanggup mengabaikan pesona mematikan seorang Berry McDavoy." Robbin berkata tanpa niat berpaling muka dari langkah kecil dan tergesa-gesa Ainsley.


Keduanya mengabaikan tatapan penuh prasangka orang-orang yang melihat keributan tadi. Selang sepuluh menit, Robbin memanggil seorang pelayan dan memberikan uang lebih dari seharusnya.


Dalam perjalanan meninggalkan rumah makan, Berry bertanya mengenai Jeremy. "Apa menurutmu dia akan meminta tebusan?"


"Aku berharap terjadi, biar gimana pun, uang tidak lebih penting daripada Clay. Hal ini diperkuat oleh pengakuan kedua preman itu, mereka memberi Jeremy waktu seminggu lagi untuk mengumpulkan uang," jelas Robbin sembari menegakkan punggung.


Setengah jam berikutnya, mobil jaguar hitam itu sudah memasuki jalan berbatu, lampu kendaraan menyorot pohon-pohon yang tumbuh beraturan. Suara burung mulai terdengar berkicauan, desau angin seolah-olah mengajaknya bersaing kemerduan.


Semburat cahaya lembayung senja masih menyisakan keindahan di kaki langit, tetapi pesona itu tiada artinya bagi Robbin saat ini. Apabila Clay ada di sini tentulah wanita itu senang sekali.


Clay terbilang sederhana dibandingkan orang-orang berkedudukan tinggi lainnya. Dia menyukai sesuatu yang berhubungan dengan alam.

__ADS_1


Begitu mobil berhenti serta mesin dimatikan, Robbin dan Berry bergegas turun. Keduanya mengamati sekitar, mencari-cari sesuatu yang sekiranya luput dari perhatian mereka waktu pertama kali datang ke tempat ini.


"Ber, tempat apa itu?" Robbin menunjuk objek di kejauhan. Bangun yang berbaur dengan pohon itu terkesan tua dan tidak terawat.


Berry memicing. "Oh, itu dulunya tempat perkembangan biakan burung."


"Menarik, ayo ke sana!" Robbin masuk ke mobil disusul Berry.


Menuju ke lokasi yang dimaksud tidak terlalu sulit, jalan berbatu itu sama lebar seperti arah ke rumah Berry, cukup mudah ditaklukkan.


Seandainya, mereka mendatangi tempat itu lebih awal pasti melihat jejak roda yang telah ditinggalkan mobil sebelumnya. Robbin turun dan berjalan perlahan menuju bangunan berdinding kayu, di dalam, dia menemukan tangga ke lantai dua.


"Aku lumayan sering ke sini dulu." Kenang Berry, lantai kayunya berderak ketika dia melangkah untuk melihat-lihat.


Sesaat Robbin termenung, mencoba membayangkan aktivitas yang terjadi sebelum ini. Dia menjumpai bekas makanan musuh bebuyutan kucing dan menyadari bahwa makanan itu belum terlalu basi. Artinya benar pernah ada seseorang di sini.


"Rob, ada sesuatu?" tanya Berry yang menyembul dari anak tangga paling atas.


Ingat Robbin melayang jauh ke kejadian di taman saat mengikuti Clay diam-diam. Pertama kali sang istri bertemu dengan Jeremy, dia tersadar bahwa kecurigaannya beralasan.


"Tidak salah lagi, ada yang mengawasi aktivitas kita dari sini dan, aku pernah bertemu dengan orang ini. Jeremy memelihara seekor Siberian Husky," papar Robbin.


"Sialan! Gimana aku tidak menyadari itu, aku kira rumah mending orang tuaku aman," sesal Berry.


Robbin menepuk pundak Berry, lalu turun terlebih dahulu. Kepalanya kini berdenyut-denyut, mencerna fakta yang baru disadari.


Pria asal Indonesia itu mencari nomor di ponsel lantas berbicara, "Halo, aku butuh bantuan untuk mencari seseorang?"


Sesampainya di dekat mobil, Robbin bersandar—sebelah tangan dimasukkan ke saku celana. "Nanti kukirimkan videonya." Ada jeda setengah menit. "Oke, trims."


Tanpa diminta Robbin menjelaskan kepada Berry. "Detektif memiliki peran penting sekarang. Pengalaman kita jauh dari ini. Aku tidak bisa mengambil resiko lebih buruk lagi."

__ADS_1


"Ya, aku mengerti," tutur Berry penuh pengertian. "Kita lanjut dari mana kalau gitu?"


"Sesuai insting," balas Robbin, meski tidak terlalu yakin berhasil.


__ADS_2